MENJADI SEMPURNA

Selamat pagi jemaat Tuhan yang diberkati, senang sekali kita bisa berkumpul di hari pertama minggu ini, dan menikmati kebersamaan kita sebagai Tubuh Kristus di GPdI Mahanaim Tegal. Silakan puji rekan sebelah kiri-kanan Anda, karena dengan demikian Anda sedang memuji “anggota Tubuh Kristus”.

Sekarang kalau Anda perhatikan siapa yang ada di sekitar Anda, menurut Anda apakah sosok yang di dekat Anda itu sempurna? Banyak dari Anda akan menjawab tentu tidak, “tiada gading yang tak retak”, tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, cela, dan kesalahan. Sebuah artikel di Kompas.com menuliskan bahwa ada penjelasan ilmiah mengapa “sisi kiri wajah manusia lebih bagus untuk selfie”. Tetapi “lebih bagus” bukan berarti “sempurna”, selalu akan ada celah untuk melihat “ketidaksempurnaan” seseorang.

Demikian juga kita harus mengerti ini dalam perjalanan kehidupan ini. Anda tidak bisa berharap bahwa segala sesuatunya berjalan sempurna. Selalu akan ada hal yang kita berharap tidak terjadi. Kematian, kecacatan, penyakit, kehilangan, penurunan, semua hal ini akan terjadi. Tetapi ini yang menjadi penghiburan bagi orang percaya, bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan”. Kejadian 50:20. Kata “mereka-rekakan” dalam Bahasa aslinya berarti dipikirkan atau direncanakan.

Tuhan bekerja dalam hal-hal yang bagi manusia nampaknya acak, tetapi sebenarnya IA punya rencana. Abram dibawa Tuhan dalam perjalanan yang tidak pernah disangkanya. Allah memanggil ia keluar dari rumah ayahnya. Abram ini adalah keturunan Sem, dan di salah satu daftar silsilah di Kejadian 11, ada nama Eber dituliskan, yang membuat keturunannya juga dikenal sebagai orang Ibrani. Allah menjanjikan sesuatu yang besar bagi Abram, yang nantinya akan menjadi Abraham, itu tercatat di Kejadian 12:1-3.

Tetapi sekali lagi, dalam perjalanan menuju penggenapan janji Tuhan itu, ia harus menghadapi keadaan yang jauh dari sempurna. Dia semakin menua namun janji keturunan itu tidak kunjung digenapi. Ia sempat bimbang, sempat “didiamkan” oleh Tuhan, bahkan Tuhan datang untuk menegaskan kembali janjiNYA pada Abram. Saat itulah namanya “bukan lagi Abram, melainkan Abraham”. Kejadian 17:5.

Apakah setelah itu keadaan menjadi serba sempurna, tidak. Dia masih harus menghadapi kenyataan bahwa keponakannya akan binasa, karena itu ia bersyafaat untuk tempat tinggal keponakannya itu. Lalu ia kembali lagi mengulangi kesalahan yang pernah diperbuatnya, “berbohong tentang istrinya” kepada raja daerah tempat ia menetap. Kejadian 12:13, Kejadian 20:2.

Apa yang terjadi dalam hidup Abraham, bisa jadi adalah pengalaman pribadi kita:

  1. Ingatkah Anda ketika pertama kali Anda diselamatkan? Saya sering mendengar kesaksian yang menarik, mulai dari membaca Alkitab, mendengar kesaksian, pengalaman mujizat, mengamati orang ke Gereja, dan banyak kisah lain. Rasul Paulus mengingatkan jemaat mengenai ini 1Korintus 1:26-29.
  2. Berapa hal yang menjadi janji Tuhan, tetapi belum Anda alami sekarang? Kita berharap segala sesuatunya menjadi sempurna saat kita mengikut Yesus, tetapi seringkali bukan itu yang terjadi. Kadang Allah seperti meninggalkan kita. Tetapi itu dilakukannya untuk mengetahui isi hati kita. Apakah kita tetap setia. 2Tawarikh 32:31. Rasul Paulus sendiri mengalami hal ini ketika ia meminta “duri dalam daging” diambil dari dirinya, apa jawab Tuhan kepadanya: 2Korintus 12:9.
  3. Sadarkah bahwa Anda masih hidup dalam tubuh dan dunia yang tidak sempurna? Abraham melakukan kesalahan, ia bukan contoh ideal bagi kita. Tetapi lihat apa yang Tuhan perhitungkan: Kejadian 15:6. Ingatkah kita apa yang Tuhan cari ketika IA datang? Lukas 18:8. Tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan semua hal yang lain: pengharapan, kasih, ketekunan, disiplin rohani, keberanian, ketertiban.

 

Hidup kita ini begitu penuh warna, tidak ada yang bisa memastikan semua akan berjalan sesuai dengan kehendak kita. Karena keberadaan kita di dunia adalah karena kehendakNYA. Terkadang ada hal-hal yang Allah ubah, Allah geser, Allah acak, dan kita berteriak kepada Tuhan: MENGAPA YA TUHAN?

Kuncinya adalah bertekun, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit…” Kolose 1:23.

Lalu Paulus melanjutkan untuk apa kita bertekun? Karena “kepada mereka, Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kolose 1:27.

Nantikanlah sentuhan akhir Allah yang menjadikan kita sempurna.

GodblesS

JEFF

Advertisements

Doa & Pelayanan.

Hari ini saya rindu membahas dua hal ini “doa & pelayanan”. Kalo bagi pemusik mungkin ini fusion, kalau penjahit ini namanya perpaduan, kalau montir ini hybrid.

 

Saya selalu percaya doa bukan sekedar permintaan / permohonan. Ketika Yesus berdoa di depan kubur Lazarus, apa yang dikatakannya didengar oleh orang disekitarnya “Yesus mengatakannya supaya mereka percaya.” Yohanes 11:41-42.

 

Lalu bagaimana kita bisa yakin bahwa doa kita itu melayani atau dalam hal ini berguna bagi orang lain? Kita bisa merujuk pada apa yang dikatakan oleh Paulus mengenai doa, dalam 2Korintus 1:11. Paulus sangat merasakan manfaat dari doa-doa jemaat. Sama seperti apa yang terjadi pada Petrus di Kisah Para Rasul 12:5. Ternyata ini adalah praktek yang dilakukan di gereja mula-mula. Jadi apa yang kita lakukan saat ini dengan doa syafaat, sesuai dengan apa yang dicatat Alkitab.

 

Terlebih lagi Paulus pernah menyampaikan tentang 1Korintus 14:15-17. Saat itu Paulus sedang menegur jemaat karena mereka mempraktekkan doa dengan bahasa lidah sebagai kesombongan rohani. Namun tujuan sebenarnya dari doa adalah membangun jemaat lain.

 

Jadi apa yang kita dapatkan dengan doa?

  1. Membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi seseorang yang didoakan.
  2. Membangun jemaat lain yang mendengarnya.

 

Bukankah kedua-duanya adalah pekerjaan baik yang merupakan tujuan kita diciptakan oleh Allah. Efesus 2:10.

 

Mungkin beberapa dari kita berkata, cukuplah hamba-hamba Tuhan, mereka yang mempunyai gelar kependetaan yang berdoa, doanya lebih manjur. Saya ingin katakan kepada Anda: “Profesimu bukanlah penghalang dari pilihan Tuhan atas engkau untuk melakukan pelayanan khusus.” Amos 7:14-15.

 

Seorang hamba Tuhan dari Amerika Serikat bernama Ricky Temple pernah berkata demikian: “Terkadang daftar tugas (job description) yang harus engkau kerjakan bukanlah definisi dari potensimu. Jangan terpatok pada bagaimana orang lain memanggil engkau, tetapi ketahuilah apa sebenarnya yang ada di-dalam-mu.

 

Kalau Anda punya waktu untuk membaca kisah tentang Nehemia Anda akan setuju dengan pernyataan tersebut diatas. Coba secara singkat baca Nehemia 1:3-4, 2:1-3, 10:1. Dari seorang juru minum raja yang memiliki hati untuk bangsanya dan kotanya yang luluh lantak. Dia menjadi kepala daerah yang memimpin reformasi.

 

Jadi sekarang siapakah Anda? Dengan sebutan apa orang memanggil Anda? Apakah Anda sudah maksimal dan optimal?

 

Anda bisa melayani bahkan ketika Anda hanya memiliki bibir yang tersisa. Ibrani 13:15.

 

GodblesS

JEFF