HAUS

Saya rasa belum terlambat kalau saya mengucapkan selamat merayakan hari kenaikan Yesus dan menjelang hari raya Pantekosta. Tentu saja akan menyenangkan kalau kita berikan waktu yang kita miliki untuk datang di hadiratnya dan berdoa secara korporat seperti ini. What an atmosphere!

Malam hari ini selama beberapa menit ke depan saya akan membahas satu kata yang mempunyai rima sama dengan “Roh Kudus”. Kata itu adalah: HAUS. Bagi Anda yang tidak hadir di Doa Raya, Jumat lalu, sebelum berdoa saya menyampaikan Firman tentang “Lapar”.

Jadi mungkin berikutnya saya akan lanjutkan dengan “Mengantuk” dan jadilah khotbah seri tentang kekurangan. Saya hanya bergurau, tentang itu, tetapi maksud saya adalah ketika saya bicara tentang “Lapar”, saya rindu kita mengambil sikap yang benar (lapar akan pribadi Yesus) setiap kali (maksudnya terus menerus) dalam menghadap Tuhan, baik dalam doa maupun ibadah.

Jika kita perhatikan khotbah Gembala di hari Kamis tentang “Penolong yang Lain”. Kemudian malam Kemarin Pdm.Elisabeth Minandar (Ibu Gembala) menyampaikan tentang “Peran Roh Kudus di Hari-hari Akhir”. Kita bisa mengambil benang merah dari khotbah-khotbah itu, bahwa kita butuh Roh Kudus untuk membawa kita dalam kebenaran. (Anda bisa membaca ringkasan catatan khutbahnya di Facebook Page GPdI Mahanaim Tegal).

Kembali tentang kata: haus. Dalam Alkitab kata “haus” biasanya membawa asosiasi kita kepada perkataan-perkataan Yesus. Yesus pernah berkata tentang haus ketika bertemu perempuan Samaria. Yohanes 4:13-14. Demikian Yesus mengundang mereka yang “haus” untuk datang padaNYA di tengah-tengah Hari Raya Pondok Daun. Yohanes 7:37. Demikian Anda ingat salah satu perkataan bahagia Yesus yang berkaitan dengan haus. Matius 5:6. Sudah bisa lihat hubungannya, bukan?

Tetapi bolehkah saya membawa Anda ke kisah Perjanjian Lama tentang haus, supaya kita bisa melihat Roh Kudus dari perspektif lebih luas. Saya ada 2 kisah yang saya bandingkan tentang kehausan. Israel mengalami kehausan (Keluaran 17:3-7), respon mereka bersungut (bahkan disebut mencobai Tuhan), tetapi Allah mengeluarkan air dari batu karang. Demikian juga Simson pernah mengalami kehausan sampai sekarat (Hakim-hakim 15:18-19) responnya adalah mengajukan permohonan, ia mengingatkan Tuhan akan kondisinya, Allah kemudian membelah batu karang dan menyelamatkan Simson.

Ketika menyiapkan bahasan ini, saya berpikir apakah Roh Kudus hanya menjawab rasa haus kita, dan hanya berhenti pada rasa puas? Saya mendapati 2 ayat ini yang menunjukkan bahwa lebih dari sekedar membangkitkan kehausan atau kelaparan, tetapi juga ada tujuan dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Istiahnya “thirsty and hungry with a purpose”. 1Raja-raja 19:7-8. Ini terjadi dalam hidup Elia, tetapi juga terjadi dalam hidup para rasul. Memang tidak secara eksplisit dituliskan dengan istilah “haus”, tetapi lihatlah setelah perkataan Yesus bahwa mereka butuh Roh Kudus (Kisah Para Raul 1:4-5), para rasul kemudian menanti dengan tekun. Kisah Para Rasul 1:14.

Jadi malam hari ini ada hal-hal yang Tuhan bangkitkan dalam diri kita untuk kita kemudian mendapatkan kepenuhan Roh Kudus itu, tetapi bukan sekedar untuk memuaskan, tetapi untuk suatu tujuan besar, bagi Keluarga, bagi Gereja, bagi kota, bagi bangsa kita!

Advertisements