Memberi Berarti Berkorban

Banyak orang tua yang mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Pengorbanan itu adalah pemberian yang bisa jadi tidak telihat namun bukan berarti tidak berharga.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, yang makmur secara ekonomi dengan kesempatan sukses lebih besar, menjadi salah satu negara tujuan dari imigran yang ingin mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Mereka mengorbankan banyak sekali uang untuk bisa masuk ke sana dan berharap anak mereka bisa mendapat kesempatan lebih baik daripada yang mereka terima di negara asal mereka.

Bukankah Tuhan Yesus melakukan hal demikian juga untuk kita? IA mengorbankan nyawaNYA bahkan supaya kita, anak-anak Allah, dapat lepas dari kebinasaan dan memulai hidup yang menuju kehidupan kekal. Yohanes 3:16.

Memberi artinya berkorban, memberi seharusnya berarti Anda mengambil kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa kehilangan. Memberi dengan berharap kembali bukan pengorbanan. Bayangkan seseorang yang mempersembahkan korban bakaran, semua bagian dari korban yang dibawanya terbakar menjadi abu, dan ia tidak mendapat sesuatu dari abu korban itu.

Namun Allah menjanjikan bahwa setiap korban yang diberikan segenap hati, tidak akan membuat orang yang memberi menjadi kekurangan.

Nicky Gumbel pernah menuliskan dalam renungan harian 365 hari yang dibuatnya di Bible.com, bahwa ada 4 hal yang bisa kita beri baik pada Tuhan maupun pada sesama:

  1. Persembahan lewat perkataan. Pujian, kata-kata yang membangun dan positf bisa dipersembahkan.
  2. Persembahan hidup. Tenaga, pikiran kita bisa kita persembahkan.
  3. Persembahan harta. Hasil yang kita dapatkan, dari kerja atau dari pemberian, sangat mungkin untuk kita persembahkan lagi.
  4. Pemberian kasih. Kasih ini ditunjukkan dengan meninggalkan yang buruk dan melakukan yang baik.

Tuhan layak menerima pemberian kita, karena IA memberi hidup bagi kita. Namun orang tua kita juga layak menerima pemberian kita, karena mereka adalah “partner” Tuhan yang menghadirkan kita ke dunia. Dalam Efesus 6:2 diingatkan bahwa menghormati ayah dan ibu mengandung janji kebahagiaan dan panjang umur bagi kita.

GodblesS

JEFF

Dipakai Atau Memakai?

“Mana yang sedang kita lakukan ‘memakai’ Tuhan untuk tujuan-tujuan kita, atau sebaliknya, ‘dipakai’ untuk tujuan-tujuanNYA?”

Seorang yang relijius mungkin akan berkata bahwa kita hidup sebagaimana tujuan apa yang Pencipta kita inginkan. Tapi Tuhan bukanlah sedang menciptakan robot. Manusia mempunyai kehendak bebas untuk menentukan pilihan. IA menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan diriNYA.

Ini bukan berarti kita menjadi ALLAH bagi kita sendiri!! Segambar dan serupa disini bermakna KEMULIAAN ALLAH diberikan kepada manusia sebagai ciptaan. Itulah mengapa kata DOSA disebut bersama dengan KEHILANGAN KEMULIAAN ALLAH. Karena oleh karena kita berdosa, kemuliaan Allah itu sudah hilang. Namun Yesus datang ke dalam dunia, untuk memulihkan ‘keadaan kita’.

Namun sadar-tidak-sadar, sebenarnya kita seringkali ‘meng-automatisasi-kan’ Tuhan. Kita menempatkan Tuhan seperti mesin otomatis yang menjual minuman kaleng. Kita harus mendapatkan APA YANG KITA MAU, sebanding dengan ‘uang raceh’ yang sudah kita keluarkan. Dan lebih parah lagi, jangan-jangan kita menempatkan Tuhan seperti mesin ‘jackpot’ di Timezone ato bahkan di Kasino. Dimana kita memasukkan ‘sedikit’ untuk mendapatkan LEBIH BANYAK YANG KITA BERI.

Saya yakin, saya percaya bahwa Tuhan berjanji (yang pasti digenapiNYA), bahwa kalau kita percaya, berharap, ‘menabur’ kebaikan demi namaNYA. DIA akan memberkati kita berkali-kali lipat. SAYA PERCAYA HAL INI. Tapi, coba kita berpikir sejenak. Apakah kita berjalan sesuai rencana TUHAN, atau TUHAN yang kita ‘haruskan’ memberkati semua rencana kita?

(Archive: Have been published on 19-March-2011 in jeffminandar.blogspot.co.id)

Conversation #3: “Apakah Emosi bisa menyelesaikan masalah?”

T: Have you ever find a case in bible or real life, dimana emosi bisa selesaikan masalah? Or He just create us with lot of complex emotion just to ‘feel’ everything?
J: Emosinya musti di definisikan dulu.
Ada emosi positif. Ada yang negatif. Maksudnya constructive atau destructive.

T: Both. Negative and positive. Tapi kalau negatif sepertinya nggak perlu dibahas ya. Positif deh.
J: Saya percaya Tuhan ciptakan kita serupa sama gambar diri DIA. Ada beberapa teks yang menyebutkan. Tuhan bisa sakit hati, sedih.

T: Tapi apakah itu bisa selesaikan masalah? I mean God himself pernah marah, dia hardik laut, and voila, problem solved!
J: Masalah itu sebenarnya ada untuk menguji kita, gimana sikap kita menghadapi masalah.

T: How we react ya?
J: Yup. Tuhan marah for a reason, dan waktu dia hardik laut. Itu authoritative. It’s a statement: I’m the ruler. Jadi DIA tidak sedang marah ke laut. Tapi emosi-NYA keliatan waktu dia “kecewa” dengan ketidakpercayaan murid-murid-NYA.

T: Is it all about how we deal with our emotion?
J: I do think so.

T: Whooaaaa. Berat juga ya.
J: Dealing with our emotion is the key for our decision. Liat saja Musa. Dia bukan marah sama Tuhan, dia marah sama bangsa Israel yang tegar tengkuk! Tapi karena emosi itu, dia jadi “nggak taat” dan pukul batu karang dengan kayu, padahal seharusnya dia hanya disuruh Tuhan “berbicara” pada batu itu. Karena ketidaktaatan itu dia nggak bisa masuk Kanaan, The Promise Land.

T: Let me get it straight then, correct me if I’m wrong, please. Emosi kita is a gift from God, so we can feel everything. It’s just how we deal with it. So, emosi kita adalah salah satu ujian dari Dia buat kita so with that we can be a better person? Is that it?
J: Yup. Tapi musti hati-hati kalau kita bilang emosi adalah ujian. Emosi itu sama seperti kita dikasi mata untuk melihat. Mata itu bukan ujian. Tapi apa yang kita lihat dengan mata. Apa yang kita ijinkan mata kita lihat tiap-tiap hari itu ujiannya. Kira-kira begitu dengan emosi.

T: Owwww. Perumpamaan yang bagus. Jadi lebih ngerti kalau dijelasin seperti itu.
J: Hehehe. Nampak lagi bergumul ya.

T: Bukan. Bukan bergumul tapi lagi mikir dengan amat sangat. Karena kebanyakan orang bilang ’emosi tidak menyelesaikan masalah’. And saya nggak setuju dengan itu. Kalau emosi nggak selesaikan masalah buat apa kita dikasih privilege punya emosi sama Tuhan? Itulah tadi pas pertama saya nanya kan. But I do agree sama pernyataan “jangan ambil keputusan saat lagi emosi”.
J: Iya ya. Mungkin maksud pernyataan itu “emosi negatif”.

T: Pernah tahu nggak kasus dimana emosi bisa selesaikan masalah?
J: Ummm. Aku rasa kaitannya nggak langsung. Tapi dari emosi itu mempengaruhi tindakan jadi bukan emosinya. Waktu di Yohanes 11. Yesus emosional banget sampai dikatakan “maka menangislah Yesus” tetapi dari situ lahir tindakan, mujizat. Lazarus dibangkitkan, nama Tuhan dimuliakan.

Aries Munandar – Malang, Dinoyo – Malang, Kuching – Malaysia.

Buat Bapak/Ibu/Saudara jemaat:

GPdI Maranatha, Aries Munandar – Malang, yang mengikuti Ibadah Khusus, Pk.17.30, hari Sabtu, 7-Maret-2015.

GPdI Gloria, Dinoyo – Malang, yang mengikuti Ibadah Raya-4, Pk.11.00, hari Minggu, 8-Maret-2015.

NCC – SKF – GLS, Kuching – Malaysia, yang mengikuti Combined Service, 7.30 pm, hari Sabtu, 14-Maret-2015.

Catatan khotbah ada di https://jeffminandar.com/sermons/sermon-outlines/ dengan judul “Perspektif yang Berbeda”.

GodblesS
JEFF

Rencana.

Jadi dalam segala hal Tuhan punya rencana. Hanya saja sering kali dalam hidup ini. Karena itu saya menyarankan agar Anda tidak cepat cepat menyalahkan Tuhan dalam banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Ini bukan tentang Tuhan yang tidak mampu. Namun Tuhan yang mau Anda hidup sesuai dengan rencanaNYA.

GodblesS