AYAH

Puji Tuhan, senang sekali bisa bertemu kembali di hari ini, untuk sama-sama belajar tentang Firman Tuhan. Ayat-ayat ini beberapa kali dikutip oleh Hamba Tuhan di awal penyampaian Firman:

Lukas 11:28 Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Matius 7:24 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Tetapi hari ini saya ingin membuka penyampaian Firman dengan mengutip apa yang Musa katakan kepada bangsa Israel di penghujung masa pelayanannya:

Ulangan 32:2 Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan.

Saya percaya pengajaran bisa membasahi dan mengairi hati yang mendengarnya, membawa kehidupan pada tanaman hidup rohani Anda semua. Semua diperlukan menuju pertumbuhan pribadi Anda, secara khusus, dan Gereja Tuhan, secara umum.

Saya akan membahas kali ini tentang kata “ayah”. Ada beberapa alasan mengapa saya mengambil kata ini untuk dibahas:

  1. Ketika seseorang menjadi “ayah” bagi anak-anaknya, itu adalah sesuatu yang spesial. Saya percaya ini relevan bagi Anda yang belum, akan, dan sudah menikah. Termasuk juga bagi mereka yang belum, akan dan sudah memiliki anak. Kalau ada ajaran agama lain berkata “surga ada di telapak kaki ibu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani), Alkitab berkata “hormatilah ayahmu dan ibumu”. Keluaran 20:12. Jika Anda berpikir bahwa ini hanya ada di Perjanjian Lama, maka Anda salah. Perintah yang sama ditegaskan oleh Yesus di dalam Matius 15:4. Bahkan diulangi oleh Paulus saat menuliskan surat kepada jemaat di Efesus. Efesus. Efesus 6:2-3. Jadi dalam Alkitab kita harus menghormati sosok ayah sama seperti menghormati sosok ibu. Saya percaya kalau selama ini Anda mengabaikan atau tidak pernah memikirkan ini, atau pernah terlintas namun Anda lupakan karena mungkin ada pengalaman negatif dengan sosok ini, Firman Tuhan datang untuk berbicara secara pribadi dengan Anda.
  2. Kata “ayah” adalah kata dalam Bahasa Indonesia yang menurut saya punya posisi hampir sama dengan kata “Abba” dalam Bahasa Ibrani, yang menjadi sebutan dalam Alkitab untuk Allah. Saya sempat menyampaikan tentang ini dalam artikel “Karakter Allah” (@jeffminandar.com). Mengapa saya sebut posisinya hampir sama? Karena kata “abba” mengandung konotasi hubungan yang lebih dekat, lebih dari sebuah sebutan. Maksud saya begini, dalam Bahasa Indonesia, kita punya sebutan lain untuk seorang laki-laki yang bersama dengan ibu kita “bekerja-sama” (tentu saja dengan sepengetahuan Tuhan, Yeremia 1:5) untuk menghadirkan kita di dunia. Sebutan itu adalah “Bapak”. Namun Bapak kehilangan komponen keintimannya karena hampir semua orang laki-laki yang dituakan atau dihormati, dipanggil “bapak”. Tetapi “ayah” berbeda, meskipun pada prakteknya beberapa kelompok masyarakat, termasuk saya memakai sebutan “papa”. Saya akan menjelaskan ini lebih jauh, mengapa ini penting.

Seorang ayah akan melakukan segala sesuatunya untuk anaknya. Saya sering memberi contoh hubungan ayah-anak dengan salah satu staf Gereja kami yang memiliki anak balita. Dia bukan sekedar “bapak” secara formal, dia bersuka atas anak ini, dia rela untuk direpotkan oleh anak ini, dan yang terpenting dia punya rancangan yang indah untuk anak ini.

Bagi saya inilah mengapa Yesus ingin kita pengikutNYA memanggil Tuhan bukan dengan sebutan-sebutan di Perjanjian Lama: Adonai, Yehova, atau bahkan Yahweh. Karena itu kalau saya analogikan seperti memanggil “bapak” dengan penjelasan seperti di poin 2. Bagi Anda yang memanggil ayah Anda dengan kata “bapak” saya tidak bermaksud merubah kebiasaan Anda, semoga Anda mengerti maksud saya.

Abba adalah hubungan personal, dan itulah yang Yesus inginkan dengan kayu salib. Yesus ingin Anda diperdamaikan dengan Allah. Efesus 2:15-18. Karena IA bersuka atas Anda (Lukas 15:10 – pasal ini digambarkan di reff dari lagu “Reckless Love” ), IA rela Anda repotkan (Matius 11:28), dan IA punya rancangan yang indah untuk Anda (Yohanes 14:1-3).

Dia menyediakan cinta sejati bagi kita yang selalu mencari jawaban atas cinta, ingat kisah perempuan Samaria di Yohanes 4. Seseorang yang tahu ia dicintai tidak mencari cinta di tempat lain, bahkan dia berjalan dengan percaya diri, dan tidak mengemis cinta. Allah Bapa, “Ayah” kita di Surga, mencintai kita sedemikian. Itulah mengapa Paulus berusaha menjadikan “bapa-bapa” Kristen merefleksikan hal ini. Efesus 6:4.

Seorang ayah juga menyediakan makanan yang baik bagi anaknya (Lukas 11:11-12). Demikian di Gereja ini kami yang sudah merasakan kasih Bapa, berusaha menjadi “bapa” bagi jemaat, dan menyediakan makanan yang baik buat jemaat. Kami tahu, kami seperti bapa di dunia, yang mungkin masih penuh kekurangan, dan tentu saja pilihan ada di tangan Anda.

Saya tahu iblis, dan dunia di sekitar kita merusak gambaran ayah, bapa, abba, yang baik. Saya malah percaya iblis memulainya di Taman Eden dengan menipu Hawa, bahwa rancanganNYA tidak baik. Kejadian 3:4-5. Tetapi saya rindu kita kembali kepada kebenaranNYA, bagaimanapun latar belakang Anda dan status Anda sekarang.

Saya lupa saya mendengar ilustrasi ini dimana, tetapi saya selalu melihat Bapa dan anaknya dalam hubungan yang seperti ini. “Seperti seorang anak di tengah kerumunan orang. Dia tidak bisa melihat, dia takut, dia tidak mengerti apa yang ada di depannya. Tapi ketika dia minta kepada BAPA dan BAPA mengangkat anakNYA supaya sang anak bisa melihat dari perspektifNYA, dan anak itu menjadi tenang. Seperti pengalaman di Mazmur 73, ketika pemazmur cemburu dengan orang-orang fasik, Allah mengangkat ia untuk melihat dari perspektif Allah.

Lagu berikut menjadi inspirasi saya juga untuk melihat Allah sebagai “Ayah” yang baik.

VERSE-1

I’ve heard a thousand stories of what they think you’re like

(Aku mendengar ribuan cerita orang tentang apa yang mereka pikir tentang ENGKAU)

But I’ve heard the tender whispers of love in the dead of night

(Namun aku juga mendengar KASIH yang berbisik lembut di kelam malam)

And you tell me that you’re pleased

(KAU berkata kalau KAU berkenan atasku)

And that I’m never alone

(Dan ku tak pernah sendiri)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

VERSE-2

I’ve seen many searching for answers far and wide

(Aku melihat begitu banyak usaha mencari jawaban)

But I know we’re all searching

(Dan aku sadar semua manusia sedang mencari)

For answers only you provide

(Jawaban yang hanya ada didalamMU)

‘Cause you know just what we need

(Kar’na KAU tahu apa yang kami butuhkan)

Before we say a word

(Bahkan sebelum kami meminta)

REFF

You’re a good good father

(KAU Bapa yang sungguh baik)

It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are

(Itu pribadiMU, pribadiMU, pribadiMU)

And I’m loved by you

(KAU mengasihiku)

It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am

(Aku orang yang dikasihi, dikasihi, dikasihi)

BRIDGE

Because you are perfect in all of your ways

(Kar’na seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways

(Seluruh jalanMU sempurna)

You are perfect in all of your ways to us

(Seluruh jalanMU sempurna bagi kami)

VERSE-3

Oh, it’s love so undeniable

(Oh KASIH yang tak terbantahkan)

I, I can hardly speak

(Aku, aku kehabisan kata-kata)

Peace so unexplainable

(Damai, yang sukar dijelaskan)

I, I can hardly think

(Aku, aku sampai tak habis pikir)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

As you call me deeper still

(Sebagaimana KAU memanggilku lebih dalam lagi)

Into love, love, love

(Kedalam KASIH, KASIH, KASIH)

BACK TO REFF

GodblesS

JEFF

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

 

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

 

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

 

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

 

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

 

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

 

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 

GodblesS

JEFF