CREATED AS A CREATIVE BEING.

Archive: First Posted by Jeff Minandar on Friday, January 9, 2009 at 3:24pm

Saya baru aja baca sebagian tulisan dari buku “Stand Like Mountain, Flow Like Water” dari Brian Luke Seaward, Ph.D. Saya dengan tidak sengaja membuka halaman 154-155 dari buku itu, dan saya merasa mendapat ‘insight’ dari tulisan ini, dan saya coba mengembangkannya menjadi seperti ini.

KREATIFITAS

Adalah sifat yang lahir dari mulanya (asal mula dari Kejadian). Tuhan menciptakan dunia secara kreatif. Seluruh alam semesta memiliki keterkaitan yang luar biasa. Planet bergerak sesuai orbitnya, tumbuhan tumbuh dan merambatkan akarnya kedalam tanah yang melapisi bumi, mahluk-mahluk di udara terbang tanpa saling bertabrakan.

Bukankah ini sama dengan pemikiran manusia-manusia yang disebut kreatif. Mereka yang berusaha menciptakan kereta api dan rel-nya yang baik dan berteknologi tinggi, agar mereka bergerak sesuai dengan arah tujuan yang diinginkan. Manusia merancang pondasi yang kuat kedalam tanah agar bangunan setinggi ratusan meter bisa berdiri kokoh menjulang di tengah kota yang padat. Bangunan-bangunan menara pengawas dilengkapi dengan radar untuk mengatur lalu lintas pesawat terbang di semua Bandar Udara.

Manusia memang kreatif. Karena pada dasarnya Penciptanya adalah oknum yang sangat kreatif. Hal ini menjadi menarik karena kita memiliki DNA Pencipta yang karya-karyaNYA kita kagumi dan kita hidupi sekarang. Setiap hembusan nafas kita ‘berisi’ kreatifitas dari Pencipta alam semesta. Kreatif juga berarti menjadikan teratur sesuatu yang kacau, yang tidak beraturan. Saya percaya ‘tabrakan besar’ atau ‘kecelakaan alam semesta’ tidak akan menciptakan suatu keteraturan yang kompleks. Diperlukan intervensi yang sangat besar dari kekuatan yang lebih besar (dan berkuasa) untuk menjadikan sesuatu teratur.

Ini seperti seseorang yang mengolah bahan mentah menjadi sesuatu yang bernilai lebih, lebih teratur, lebih terarah, lebih dapat dinikmati, dan memiliki pola tertentu. Seorang pengrajin tembikar tidak melihat segumpal tanah liat yang tak berbentuk sebagai barang tak berguna. Seorang pemahat tidak melihat bongkahan batu kali yang besar dan kasar sebagai beban. Seorang penenun tidak melihat ribuan benang yang saling silang sebagai kekacauan. Malahan dia bisa mengubahnya menjadi keteraturan yang indah.

Kalimat-kalimat diatas tidaklah lebih dari sebuah ‘kalimat penggugah’. Betapa sebenarnya manusia dilahirkan sebagai MAHLUK KREATIF yang mampu mencipta dari bahan mentah yang ada; mengatur suatu kesemerawutan menjadi jalur-jalur yang dibatasi aturan-aturan; mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Namun pada kenyataannya banyak manusia yang merasa kreatifitas adalah milik sebagian orang tertentu saja, para ARTIST yang memang adalah orang-orang kreatif. Sebagian besar orang melupakan bahwa mereka diciptakan oleh Pribadi yang kreatif, yang meninggalkan ‘jejak-jejak kreatif’ di dalam ciptaannya.

Kreatifitas adalah sumber, bukanlah hasil akhir. Jika saja manusia mengerti bahwa sumber itu ada di dalam dirinya, maka banyak masalah, stressor, rintangan, dan kekacauan,  dapat terselesaikan. Tetapi bukannya sadar, manusia malahan membiarkan sumber itu menjadi kering, dan mengharapkan sumber lain ‘membasahi’ dirinya. Mereka lebih senang menjadi seorang yang pasif, yang menjadi penonton, sementara orang lain MENCIPTA.

Pada akhirnya orang-orang pasif inilah yang merasa dirinya sebagai KORBAN, sebagai objek bukannya subjek. Mereka mengeluh tentang ‘air’ yang selalu dirasa kurang memuaskan. Padahal merekalah sumber-sumber yang kering itu.

GodblesS
JEFF

Tentang Hidup.

Hidup itu sulit, tetapi terlebih sulit ketika kita menyesal di penghujung hidup nanti.

Ketika kita menghadapi kesulitan kita masih bisa berjuang untuk menerobos. Tapi apa yang bisa kita ubah dengan penyesalan? Karena itu sesuatu yang ada di masa lalu.

Hidupilah hari ini. Lakukan yang baik. Hindari penyesalan di esok hari.

(JM)

Hidup & Harapan.

Dalam segala hal selalu ada yang terlewatkan. Hidup tidak menjadi lebih sempurna hanya karena kita merasa baik-baik saja.

Dalam segala hal hidup ini tidak berbeda dengan siklus hari. Dimulai dengan matahari terbit memecah kegelapan, naik perlahan semakin terang hingga rembang tengah hari. Kemudian setelah puncaknya ia tidak dapat selamanya mempertahankan kondisinya. Ia memudar. Ia mundur. Ia turun perlahan sampai tenggelam di balik senja.

Dalam segala hal, ada yang terhilang dan tidak dapat dikembalikan. Mencapai keutuhan dan terpecah begitu saja.

Namun dalam segala hal, ada suatu harapan yang tidak akan pernah bisa diambil dari kita. Harapan itu utuh, sempurna, bersinar selamanya, baik keadaannya sampai kepada kekekalan, tak pernah melupakan, tak pernah meninggalkan.

Harapan itu Yesus.

Rencana.

Jadi dalam segala hal Tuhan punya rencana. Hanya saja sering kali dalam hidup ini. Karena itu saya menyarankan agar Anda tidak cepat cepat menyalahkan Tuhan dalam banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Ini bukan tentang Tuhan yang tidak mampu. Namun Tuhan yang mau Anda hidup sesuai dengan rencanaNYA.

GodblesS