Mengasihi Tuhan, mengasihi sesama.

“Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” Yohanes 17:26.

“Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1Korintus 8:3.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40. 

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi ketertarikan terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Disadari atau tidak kasih menghasilkan dampak besar dalam segala sisi kehidupan kita, termasuk hal-hal yang tadi disebutkan.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8. Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

“Kalau dia tidak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia tidak setampan atau secantik ini dan itu.”

Mengertikah Anda tentang pernyataan ini, love is not about what you will get, but what you will give. Maksud saya mengatakan ini dalam konsep cinta secara universal. Bukan hanya romansa saja.

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love.

Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berikan kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka.

So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya ambil contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

Jika sekarang Anda mengerti bahwa Allah begitu mengasihi Anda dan Kasih Allah berdampak luar biasa bagi Anda. Pertanyaan yang menyertai itu adalah: Bagaimana caranya memakai Kasih Allah yang saya rasakan sebagai bahan bakar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dengan kabar baik, untuk memberi dampak bagi jiwa-jiwa di luar sana?

Dengan memahami misi Yesus kepada murid-muridNYA. Yohanes 17:17-21. Kita diutus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus sudah lakukan, termasuk memberitakan tentang DIA. Ayat 20. Apakah dengan demikian kita meninggalkan pekerjaan kita? Saya melihat Yohana di Lukas 8:3, perwira Romawi di Matius 8:8, bahkan Nikodemus di Yohanes 19:39 tetap dalam pekerjaan mereka (selama itu tidak menciderai nilai-nilai kebenaran.

Melanjutkan pelayanan “Yerusalem” diatas, bagaimana dengan “Yudea”, “Samaria” dan “Ujung-ujung bumi”. Kisah Para Rasul 1:8. Satu yang ingin saya garis bawahi bahwa semua itu berjalan paralel. “Saya ingin fokus pada pertobatan keluarga!” Itu bukan berarti kita tidak mau tahu mengenai pelayanan kepada yang lain.

Mari belajar dari 2Raja-raja 5:1-4.

Menjadi dampak dalam kehidupan orang lain dimulai dengan kepedulian. Ini bukan sesuatu yang rumit, untuk menjadi dampak tidak  butuh keahlian khusus, tetapi Anda butuh Roh Kudus.

GodblesS

JEFF

SESSION-6: I.M.P.A.C.T for Thanksgiving Dinner

Happy Thanksgiving all. It is a good time to reflect on God’s goodness in our life. His goodness has impacted your life as Paul testified to Timothy in his letter. 1Timothy 1:12-16. Because of this, you want others to know Him in the hope that there will be a domino effect, or maybe more precisely, a chain reaction that impacted many lives. But there is one hindrance to let others know, you are afraid.

I don’t want to be judgmental and let your spirit down at the end of these I.M.P.A.C.T sessions. But I want you to see what Paul had suggested resolving this situation. Philippians 4:6-7. You don’t have to be worried all the time. It won’t take you anywhere, like a hamster who runs in a spinner wheel or a person sitting in a rocking chair.

So where do these worries come from? It is from the desire to have control of everything including your future. Jesus said worrying about your future will only paralyze you in the present. Matius 6:25-34. So if you have already learned about Intimacy, Maturity, Persistence, Action, Character, and Transformation, now is the time not to worry about those things, but give thanks for the opportunity. Make sure that today will be better than yesterday, and tomorrow will be better than today.

Don’t be afraid, you have Jesus by your side. He had started the good work in you, He will finish that as well. Philippians 1:6. For this every time you come to the Church, you will have Psalmist’s attitude, in Psalms 100:4.

SESSION-5: I.M.P.A.C.T for Women

I.M.P.A.C.T. Intimacy (Keintiman), Maturity (Kedewasaan), Persistence (Kegigihan), Action (Tindakan), Character (Karakter), Transformation (Transformasi).

Pada sesi sebelumnya saya menyampaikan tentang “Action” & “Character” kepada rekan-rekan pria yang saya rasa juga sebenarnya relevan untuk rekan-rekan wanita juga. Intinya bahwa lebih dari sekedar perkataan, hidup yang berdampak terletak pada bagaimana kita menunjukkan kuasa Allah melalui apa yang kita lakukan seperti respon Yesus kepada pertanyaan Yohanes Pembaptis. Lukas 7:17-23. Demikian juga bahwa karakter kita lebih bernilai dari sekedar pesona luar kita, namun lebih dari sekedar karakter yang positif, kita ingin memiliki dan menghidupi karakter Kristus. Kita juga dituntut menerapkannya dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga. Efesus 5-6.

TRANSFORMATION

Seorang wanita adalah seorang pengubah sejarah. Ia tidak berhenti karena adanya hambatan dan tantangan, mereka adalah pejuang, dan Paulus mengakui karakter itu ada dalam Euodia dan Sintikhe. Filipi 4:2-3. Untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik tentu kita harus berjuang dan tidak bisa terus tinggal dalam ketakutan. Jika kita tinggal dalam ketakutan kita tidak hidup dalam Roh. 2Timotius 1:7. Kita mengubah bukan dengan standar Dunia, tetapi dengan standar Alkitab.

Apa yang ingin diubah oleh Dunia ini? Ada 2 hal yang saya pikir relevan dengan gerakan-gerakan di Dunia modern ini:

1. Penghapusan kemiskinan.

Kemiskinan adalah keberadaan finansial seseorang yang ada dibawah standar tertentu. Standar yang rendah ini dianggap menyebabkan orang-orang ini tidak bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Ini adalah hal yang nampaknya baik datang dari Dunia, bahkan dalam Alkitab beberapa kali dibahas mengenai membantu orang-orang miskin. Tetapi konsep Dunia dalam penghapusan kemiskinan ini adalah dengan menyamaratakan juga dengan menghapus konsep Tuhan. Karena katanya Dunia yang sama rata akan diracuni oleh konsep tentang Tuhan. Hal ini disampaikan dalam Marxisme, yang melihat konsep tentang Tuhan membuat ada sekelompok orang yang lebih berkuasa dari yang lain, padahal konsep sosialisme adalah konsep otoritarian.

Apa yang Alkitab katakan tentang kemiskinan? Kemiskinan itu adalah akibat dari dosa, karena kemiskinan adalah kekurangan, sementara sebelum dosa segala sesuatu sudah terpenuhi. Kejadian 1:28; 2:16. Solusinya adalah menghidupi Firman Tuhan, seperti apa yang Paulus beri teladan kepada pemimpin-pemimpin jemaat di Efesus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 20:34-35. Menghidupi kehidupan yang suka memberi akan menjadi solusi. Tentu saja ini dilakukan dengan hikmat.

2. Kesenjangan sosial.

Ada banyak sekali perbedaan di dunia ini, namun ada hal-hal yang berbeda terjadi karena sistem yang dibangun manusia berdasarkan superioritas dan prasangka. Sebenarnya ini adalah hal yang baik namun seperti poin sebelumnya, ketika hal itu tidak didasarkan pada kebenaran absolut dari Tuhan, maka hal ini menjadi liar.

Salah satu contoh yang paling relevan untuk Amerika Serikat adalah mengenai gerakan LGBTQ. Mereka merasa dipinggirkan dan dihina secara sistematik, dan memang itu terjadi. Sejak 1533 di Inggris dibuat hukum mengenai sodomi baik pria-wanita, pria-pria dan juga dengan binatang. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penggolongan perilaku menyukai sesama sebagai gangguan psikologis dan medis. Pada 1960-1970an terdapat peningkatan perawatan untuk mengubah seseorang homoseksual menjadi heteroseksual, bahkan mereka harus memilih mengikuti perawatan atau dipenjara.

Respon yang salah dari pemerintah terhadap orang-orang homoseksual bukan berarti kemudian menjadikan perilaku homoseksualitas adalah sesuatu yang benar. Ketika tidak diperkenankan bahwa seseorang dipotong tangannya karena mencuri, bukan berarti tindakan mencuri adalah sesuatu yang benar.

Demikian juga ada gerakan feminis yang meminta dalam segala aspek pria dan wanita harus disamakan. Benar memang pada level tertentu ada perbedaan perlakuan antara pria dan wanita. Namun bukan berarti kemudian semua yang dilakukan pria harus juga dilakukan oleh wanita. Menariknya tuntutan untuk tidak ada perbedaan, pada akhirnya akan sangat merugikan kauw wanita.

Apa kata Alkitab? Mengenai homoseksualitas jelas itu adalah sesuatu yang salah di hadapan Allah. Imamat 18:22, Roma 1:24-27. Lalu bagaimana mengatasinya? Sama seperti kesalahan-kesalahan lain, Anda mengutamakan komunikasi, dan teguran yang didasarkan kasih, juga kerelaan untuk mendengarkan. Kesenjangan memang terjadi, semua orang punya kemungkinan yang sama untuk melakukan kesalahan. Tetapi jangan kemudian kita merendahkan mereka yang bersalah, tetapi hendaknya kita dengan sabar berdoa dan berharap mereka bertobat. 2Petrus 3:9

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah sekitar kita? Tuhan Yesus memberi teladan dengan memiliki hati yang penuh belas kasihan. Matius 23:37.

SESSION-4: I.M.P.A.C.T for Men

I.M.P.A.C.T. Intimacy (Keintiman), Maturity (Kedewasaan), Persistence (Kegigihan), Action (Tindakan), Character (Karakter), Transformation (Transformasi).

Pada sesi sebelumnya saya menyampaikan tentang “Action.” Intinya bahwa lebih dari sekedar perkataan, hidup yang berdampak terletak pada bagaimana kita menunjukkan kuasa Allah melalui apa yang kita lakukan seperti respon Yesus kepada pertanyaan Yohanes Pembaptis. Lukas 7:17-23.  

CHARACTER  

Pernahkah Anda mendengar ungkapan tentang 2C, Charisma & Character: “Charisma, or charm will take you higher, but character that will keep you there.” Seseorang yang karismatik dengan kepribadian yang memesona akan lebih mudah dilihat, dikenal dan dalam derajat tertentu memengaruhi orang lain. Orang-orang seperti ini banyak diroyeksikan ke ruang media. Seperti apa yang saya sampaikan di sesi sebelumnya bahwa banyak orang tertipu dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Saya rasa beberapa dari kita juga melihat mereka yang karismatik dan berkesimpulan bahwa “saya tidak bisa seperti día.”

Hidup yang berdampak tidak ditentukan oleh karisma Anda secara fisik, atau dari cara Anda mengutarakan kata-kata yang indah dan berbunga. Namun hidup yang berdampak dimulai dari karakter Anda. Yesus Kristus adalah teladan utama kita, dan kita sebagai orang pilihan Allah, ingin menjadi sama seperti DIA (Roma 8:29). Sekali lagi ini bukan tentang bagaimana Anda mendandani diri Anda seperti gambaran Yesus yang Anda pernah tahu (lagipula IA adalah pria saat berinkarnasi, ini pun perlu penjelasan panjang mengenai Allah yang tidak memiliki gender, dengan Yesus yang ber-gender pria).

Menjadi sama seperti Yesus adalah menjadi sama dengan karakterNYA. Namun sebelumnya kalau saya bertanya kepada orang-orang di luar sana “siapakah Yesus?” menurut Anda seperti apa respon mereka? Bagi Dunia, Yesus adalah orang Yahudi, berkulit terang, berjanggut, inspirator bagi orang banyak, setara dengan Mahatma Gandhi, dan bagi sebagian lain Yesus hanyalah tokoh rekaan, yang sebenarnya bukan siapa-siapa.

Karakter Yesus yang membuat IA mampu menarik banyak orang adalah keaslianNYA. DIA tidak berpura-pura, dan dalam beberapa hal kontroversial untuk zamanNYA. Karakter Yesus adalah segala sesuatu yang diungkapkan Paulus sebagai Buah Roh. Saya sudah sampaikan ini kepada Youth dan saya rasa tidak ada salahnya untuk kita melihat sekali lagi di Galatia 5:22-23.

Dalam Dunia psikologi ada buku yang cukup menarik mengenai “Character Strengths and Virtues” (CSV) dan didalamnya terdapat daftar klasifikasi kekuatan mental dari seseorang. Untuk beberapa orang ini adalah suatu terobosan tersendiri dan menjadi kekuatan penyeimbang dari klasifikasi gangguan mental yang terlebih dahulu dikenal dalam diagnosa psikologi yang disebut “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM).

Apa yang diklasifikasikan di CSV semua ada dalam Buah Roh. Sehingga buat saya memiliki Roh Kudus ini menjadi suatu hal yang penting bagi semua orang percaya. Secara tindakan Paulus juga pernah mengingatkan pria-pria (baik anak maupun dewasa, lajang maupun menikah) di Efesus untuk bisa menerapkan karakter dari Buah Roh Kudus dalam kehidupan pribadi dan rumah tangga mereka. Efesus 5:1, 22, 24, 33; 6:1-2, 5-8.

SESSION-3: I.M.P.A.C.T for Men

Kita akan memulai setiap sesi dengan singkatan ini: I.M.P.A.C.T. Intimacy (Keintiman), Maturity (Kedewasaan), Persistence (Kegigihan), Action (Tindakan), Character (Karakter), Transformation (Transformasi). Saya menyebut hal-hal ini sebagai “penyebab,” sesuatu yang kemudian menghasilkan hal lain. Ketika salah satu dari penyebab itu menjadi kenyataan dalam hidup Anda, pasti Anda akan membuat dampak dalam satu atau lebih bidang kehidupan Anda. Bisakah Anda bayangkan jika Anda memiliki semuanya? Hidup Anda utuh dan Anda akan memiliki kehidupan yang berdampak.

Pada sesi sebelumnya saya menyampaikan tentang “Persistence” kepada rekan-rekan wanita yang saya rasa juga sebenarnya relevan untuk rekan-rekan pria juga. Intinya bahwa dunia gigih untuk melakukan sesuatu bukan didasarkan pada kebenaran. Malah bagi dunia kebenaran tergantung pada bagaimana masing-masing kita melihat sesuatu (subjektif), padahal kebenaran itu absolut dan hanya ada didalam Firman Tuhan. Yohanes 17:17.

ACTION

Anda mungkin pernah mendengar istilah ini: NATO, tentu saja untuk mereka yang suka hal-hal serius, yang ada pertama kali di pikiran Anda adalah suatu pakta pertahanan yang melibatkan negara-negara di Amerika Utara dan Eropa (NATO = North Atlantic Treaty Organization). Tetapi yang saya maksud adalah : No Action Talk Only. Secara umum kita tidak suka orang-orang berlaku demikian, meskipun terkadang bisa jadi kita melakukan hal itu di pemandangan orang lain.

Sesuatu yang sebenar-benarnya, atau kita bisa memakai kata “sejati,” adalah sesuatu yang terjadi atau dilakukan sehingga hal itu bisa dirasakan oleh orang lain dan hasilnya tetap. Sehingga hasil operasi plastik tidak bisa Anda katakan ”sejati” karena itu tidak tetap. Namun perkembangan dunia di segala bidang termasuk, dalam teknologi audio-visual, begitu luar biasa, sehingga banyak orang “tertipu” dengan apa yang mereka lihat dan dengar.

Bagi dunia sesuatu yang sejati (the real deal) adalah sesuatu yang bisa dimiliki. Orang-orang berlomba-lomba memiliki sesuatu (gadget terbaru, badan terseksi, pakaian keluaran ternama, dan lain sebagainya) padahal sesuatu itu tidak akan tinggal tetap. Sementara bagi Yesus sesuatu yang sejati adalah yang datang dari DIA dan sesuai dengan FirmanNYA. Yohanes 8:31, 36. Ketika pada suatu titik Yohanes Pembaptis (sepupunya Yesus sendiri) mempertanyakan diriNYA sebagai Mesias, Yesus meresponinya dengan menyampaikan apa yang DIA buat, yang berdampak bagi orang lain. Lukas 7:17-23.

Hidup yang berdampak bukanlah sekedar berkata bahwa “Saya adalah orang Kristen.” Atau memakai atribut-atribut kekristenan di badan, baju, mobil, dan benda-benda lain. Hidup Kekristenan yang berdampak, adalah saat apa yang kita lakukan berbicara lebih keras daripada, sekedar retorika.

SESSION-2: I.M.P.A.C.T for Women

Kita akan memulai setiap sesi dengan singkatan ini: I.M.P.A.C.T. Intimacy (Keintiman), Maturity (Kedewasaan), Persistence (Kegigihan), Action (Tindakan), Character (Karakter), Transformation (Transformasi). Saya menyebut hal-hal ini sebagai “penyebab,” sesuatu yang kemudian menghasilkan hal lain. Ketika salah satu dari penyebab itu menjadi kenyataan dalam hidup Anda, pasti Anda akan membuat dampak dalam satu atau lebih bidang kehidupan Anda. Bisakah Anda bayangkan jika Anda memiliki semuanya? Hidup Anda utuh dan Anda akan memiliki kehidupan yang berdampak.

Pada sesi sebelumnya saya menyampaikan mengenai “Intimacy” dan “Maturity” kepada Youth. Anda bisa melihat catatannya. Tetapi pada intinya siapapun orang yang dekat dengan Anda pada suatu saat bisa terpisah dari Anda atau mengecewakan Anda. Namun Allah tidak pernah meninggalkan Anda dan mengecewakan Anda. Saya memberi ayat di Mazmur 68:5 dimana Allah muncul sebagai pembela Anda. Kemudian bahwa kedewasaan datang bukan karena bertambahnya usía, tetapi pengalaman Anda. Hal itu didapat dari Roh Kudus yang membawa Anda pada penguasaan diri, kelemahlembutan, kesetiaan, kebaikan, kemurahan, kesabaran, damai sejahtera, sukacita, dan kasih. Galatia 5:22-23.

PERSISTENCE

Menarik sekali bagaimana dunia di sekitar kita berusaha untuk membuat standar yang berbeda dalam konteks hidup yang berdampak. Kegigihan dalam standar Dunia adalah kegigihan yang tidak didasarkan nilai kebenaran. Anda bisa melakukan apa saja, asalkan Anda gigih dan tekun. Bahkan bagi Dunia kebenaran absolut itu tidak ada, digantikan kebenaran subjektif yang bisa saja berbeda dari satu orang dengan orang yang lain.

Kita perlu mengerti sumber kebenaran itu. Terlebih bagi para wanita, dimana perasaan Anda lebih dominan, dan cenderung membicarakan dan menanyakan tentang segala hal. Hawa adalah contoh bagaimana wanita berpikir. Kejadian 3:1-2 Mengapa harus menimpali ular? Wanita bisa dengan mudah mengabaikan ular itu. Kejadian 3:4-5 Ular mulai menaruh pikiran jahat yang memengaruhi perasaan wanita. Kejadian 3:6 Kebiasaan, kenyamanan, dan ketertarikan akhirnya menjadi jerat bagi wanita. Apa yang diputuskannya tidak saja berpengaruh pada dirinya tetapi pada akhirnya melibatkan (menjerumuskan) yang lain dalam masalah besar.

Paulus pernah mengingatkan jemaat di Korintus untuk memiliki pikiran yang benar, karena kalau itu disesatkan kita akan mengulangi kesalahan yang Hawa pernah perbuat. 2Korintus 11:3. Baiklah jadi apa sumber kebenaran itu? Firman Tuhan. Yohanes 17:17. Firman Tuhan itu menguduskan diri kita, termasuk didalamnya pikiran kita. Sekarang Anda hidup didalam Dunia yang penuh dengan pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang begitu beragam. Contohnya gerakan feminis yang ada dan begitu kental arahnya kepada pemikiran liberal.

Tantangan Anda sebagai wanita di tengah rupa-rupa angin pengajaran adalah bagaimana Anda tetap berdiri kokoh diatas kebenaran Allah. Apakah Anda akan membiarkan hidup Anda dipenuhi dusta iblis (Yohanes 8:44) atau memenuhi hidup Anda dengan perkataan Kristus dan hidup dalam kebenaran (Yohanes 14:6)?

SESSION-1: I.M.P.A.C.T for Youth

Let us start every session with this abbreviation: I.M.P.A.C.T. Intimacy, Maturity, Persistence, Action, Character, Transformation. I called these things: the precursors, something that formed another thing. When one of those precursors becomes real in your life, surely you will make impact in one or more area of your life. Can you imagine if you have it all? You are fulfilled and will have an impactful life.

Do you like to play the game “finding the differences?” Can you find a difference from the left to the right side of that picture? If I invite one of you stand beside me, you also can point many differences, between me and you.

But what if I put you side by side with any other youth in the same age? Do you think there will be many differences or similarities? Wait, we need a standard to point a difference or a similarity. All of us trained to compare ourselves with “the standard.” Let us discuss about that.

INTIMATE

I will start with “Intimacy” and “Maturity” for this session for Youth, because I think these two precursors important in order you are becoming an impactful youth. The world’s standard for intimacy has to related with a person that you can see and touch. I will try to group your “significant other” related with your age group:

  • From 0-5 years old – Parents (father, mother, or both).
  • From 6-15 years old – Friends (in school, church, or your neighbor).
  • From 16-22 years old – “Friends” (boyfriend, girlfriend, or best-friend).
  • From 23-70 years old – Partners (husband, wife, work or ministry partner). And if they have kids, that significant other could be them (physiological, spiritual or through adoption).

I don’t want to disappoint you with saying this, or being unreal, but they are your significant other until one day you’ll find out that you can’t keep them forever. They are important, but what if there is someone who is really significant, and you will never lose Him?

God said that “But even if a mother forgets her nursing child is possible, I would not forget you!” (Isaiah 49:15). I don’t know about you, but I experienced bullying in my elementary and mid-school years, but I know God is my friend that never fail me. Jesus said I am His friend because He laid down His life for me, He believed that I can do whatsoever He commanded me, and He opened up about the God’s plan that made my life become purposeful (John 15:13-15).

God is a Father of the fatherless and defender of the widows (Psalms 68:5), I know you’re not even married yet, but you get my points on how you are never walk alone. And last but not least, when you bring your brokenness to Him, it is the sacrifices of God, and He will not despise your broken heart (Psalms 51:17).  

ADULTHOOD

If you have the option to live the “Peter Pan” story or “Benjamin Button” story, which one do you prefer? I prefer to get back to reality. Every one of us is born young and going to die old, assumed there is no case of tragedy and life-threatening illness within that period. Psalms 90:10.

Your life is progressive, from babyhood (0-2 y.o.), childhood (3-12 y.o.), adolescence (13-18 y.o.), adulthood (19-80 y.o., or more), and eventually die. I heard a lot of kids in their childhood or adolescence stage of life, really can’t wait to become an adult. And that’s my experience too.

The world put standard for you to become an adult. And knowingly or not all the things that you can do or consume after you become an “adult” are crucial, and for some can bring fatality if those things being abused. From driving to smoking cigarette/e-cigarette, from alcohol consumption to age of consent (for criminal conduct or sexual activity). In some cultures, you must marry by the age of 10 to 12!

What I’m trying to say is that the world can tell you anything they want about your adult stage and it will change over time. If I ask you about an adult man, a gentleman, what comes up in your mind? Strong, and have all experience in smoking or using drugs, can be rough or violence, and good on girls (usually the definition of this is the sensual experience). How about becoming a woman, a lady? Sexy (whatever is the standard), and have all experience in make-up, shopping, and sexually free (to treat their body, giving-up to sensuality, and to the point of abortion if you have to).

But what if there is another definition about being adult, that will lead you to self-control, meekness, loyalty, kindness, generosity, patience, peace, joy and love. Galatians 5:22-23. Interestingly these values turned upside-down to define “cool.” Because to control your mouth is an “old-skool” model, being impulsive and put every f-ing word in each sentence is much cooler and show your assertiveness.

Do you want to know what is cool about being an adult? It is not that you can do whatever your heart desire, that is self-centered. But being an adult is that you could love, you could give, and realize that your life is not for yourself. This is counter-intuitive in the post-modern and post-Christian world that we living right now. When you are a child you can’t serve or love others like an adult. It is more likely that you are focused on your own needs. An adult think about others, what can I do, what can I contribute? 1Corinthians 13:11

Maturity comes with experience, not age. Experience is determined by every single choice you make. Many people get stuck to their past and can’t move on. Also a great number of people living in the utopian dream of the future without thinking of developing the present. But Jesus’ reminder to the inhabitants of Jerusalem remains relevant: “If you had only known on this day what would bring you peace—but now it is hidden from your eyes.” Luke 19:42.

I pray that every day the Holy Spirit reminded you to do something that will give you everlasting peace, not the temporal, carnal peace. And I hope all of you become a mature Christian, an adult who can do something for others and not only for themselves.

INTIMACY WITH GOD.

What a wonderful day in the House of God. I am glad to have a chance to be here among my fellow believers in Christ. As we all know, God wants to connect with you in a new way through Jesus Christ. That’s why we have to connect to Him, and build an intimacy with Him.

Intimacy with God is begin by connecting to Him. John 15:4-5.

Connecting with God – how can we connect with Him? And why sometimes we don’t feel close with God?

The reason we want to connect with God is because we are disconnected with God. The Fall of Man: we were connected, full of glory of God, but in Genesis 3, all changed. The reason of that fall was when we put our mind in the wrong choice (we have plenty of choices, but why we choose the few – tree of knowledge of good and evil, and forget other trees).

Again about human thinking, if we think about sin all the time we are feeding sin to our mind. God says that the ultimate gap between him and us is our sin. Isaiah 59:2. And that sin comes when you start questioning God in your mind and from that it will go further to disobedience. Genesis 3:1-6.

Let us read one more time our theme verse in John 15. Like a tree, in order to keep alive and be fruitful, a branch has to be connected with the trunk. This will explain my next sentence. Because we are disconnected we feel dry, empty, and try to fill that with 3L (luxury, lust, love) or 3G (gold, glory, guys/girls) that the world offers. It’s all useless. Let me bring you to Bible Story, where the longest conversation between Jesus and other person was recorded. It’s a story of Samaritan woman. John 4.

This Samaritan woman who met with Jesus near Jacob’s well, she was disconnected from society. Jesus warned her in John 4:13-14 You will thirsty again if you drink from this earth. Jesus continued, but if you ask living water (verse 10) you won’t be thirsty again. Living water here have two meanings, “springing water” and “eternal life, salvation.”

We need Salvation to reconnect, to be alive. We thought salvation prayer only for a non-believer, but we also have to recite it, understand it.

What are parts of salvation prayer?

  • Proclaim Jesus as God. Verse 29. Say it loud! Romans 10:10.
  • Admit our faults and wrong ways. Verse 39. We know we are imperfect, perfected in Christ, this is a sign of total surrender, don’t cover it with your self-righteousness. 1John 1:9.
  • Present (give up your life for God’s cause – Romans 12:1) & Repent (the word metanoia means we renew our mind deliberately, we are not helpless person occupied by external, but internally empowered by the Spirit – Romans 12:2). In Hebrews 4:12 the author of Hebrews said the Word of God could separate (discern) the will and heart of man – As we know the Word is the sword of Spirit (Ephesians 6:17). Later on 1Corinthians 12:10 one of the gifts of the Spirit is to discern different spirits.
  • Believe (leave your burden, do not carry that again). Matthew 11:28.

When you pray that prayer, that is when you are really connecting with God, you build your intimacy with God. It’s not how frequent you put yourself around Jesus (don’t follow the Pharisees, who’s around but didn’t have the intimacy). But how well you want to know Him, when you hear His voice, the good news.

GodblesS

JEFF