SESSION-1: REIGN IN LIFE

Romans 5:17 is our main verse and we will learn about reigning in life throughout this session and upcoming sessions. Reign could also mean to rule over something. Furthermore, it means that you have control and not being controlled by something. Interestingly in Galatians 5:22-23 where it famously mentions the fruit of Spirit, self-control mentioned as the ninth. But many biblical scholars see those characters actually inverted with love or charity as the last, and the highest achievement of people who live by the Spirit.

So, self-control is the foundation of your spiritual life, you must take control over your life! You may think that self-control is an easy thing to do. But self-control in life is different compared with controlling dead toys, or your dog, or your remote TV, your partner, and even with controlling an organization.

To be not controlled by something is a hard thing to explain, especially for millennials. The millennials are taught to easily put blame on others and that they could easily losing grip of their life because of the external factor in their life. This is a modern way of think and more and more become the modern truth.

Now I will give you some points in modern truth, that contrary to the biblical truth. Here they are:

  • “Feelings over wisdom.” Ephesians 4:19 (and also read verse 17-18)

The fact is that your feeling could fool you, and I will present you the same case that had happened to the Corinthians. 1Corinthians 5:1.

  • “The role of government.” Romans 13:1-2.

I really want to see one of you to be part of the government. And if you get that chance, this is will be your verse: Matthew 20:25-28. Reign in life as the Bible said is not to be likened as the worldly ruler. “Life is a coincidence.” Jeremiah 1:5. What is a coincidence? Is it random events or acts that produce an event/act/end result? If that is the definition then you must read Ephesians 2:21. God likes order, pattern, and He works on many things like that. He is not just a random God.

GodblesS

JEFF

UNITY

Pertama-tama tentu saja saya mengucapkan selamat kepada Harvest Church New Hampshire (GPdI Dover NH) yang telah 20 tahun berdiri dan melayani komunitas New Hampshire, khususnya untuk masyarakat Indonesia. Saya rasa ini benar-benar bukti dari Kasih karunia Tuhan nyata dalam hidup Gereja ini.

Menarik sekali bahwa tema 20th Anniversary Harvest Church adalah Unity. Karena ini adalah tema yang menjadi idaman baik bagi masyarakat Indonesia (setelah pilpres 2019) dan juga masyarakat Amerika Serikat (menjelang pilpres 2020). Tentu saja bagi saya yang baru 11 hari terakhir mengenal Gembala dan jemaat Harvest Church, saya belum familiar dengan sejarah Gereja ini, dan mengapa Tuhan menaruhkan tema ini di hati Gembala dan/atau Panitia Acara.

Tetapi bagi saya ini mungkin lebih baik, supaya Firman Tuhan bisa disampaikan murni berdasarkan Firman Tuhan tanpa agenda tersembunyi apapun. Karena bagi saya Unity adalah karakter Tuhan sendiri. Trinitas adalah satu kesatuan, demikian juga Gereja Tuhan tentunya adalah satu kesatuan. Menariknya Trinitas Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, digambarkan sebagai mempelai pria, yang akan menikahi Gereja yang Sempurna sebagai mempelai perempuan.

Mari kita masuk ke dalam ayat utama tentang Unity. Kolose 3:14. Ketika kita membaca ayat ini kita menemukan bahwa Kesatuan dan Kesempurnaan adalah hasil dari Kasih. Coba perhatikan baik-baik konteksnya di ayat 13. Sehingga ini memperkuat apa yang kita percaya bahwa Kasih adalah yang terbesar, dan Allah kita adalah Kasih.

Mari kitab bahas sedikit apa yang dilakukan kasih di dalam ayat 13. DIsebutkan disana bahwa kasih itu sabar, dan kasih itu mengampuni. Pengampunan adalah bagian terbesar dari Kasih. Ini harusnya menjadi bagian kita, karena seperti Yesus lakukan dan juga Paulus ajarkan kepada jemaat Tesalonika, bahwa kita seharusnya melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. 1Tesalonika 5:15. Menariknya tentang pengampunan yang akan berujung perdamaian, itu keputusannya ada di tangan kita! Roma 12:18.

Kalau kita kembali kepada Kasih yang menghasilkan kesatuan dan kesempurnaan. Kasih di dalam Alkitab sering digambarkan seperti hubungan suami-istri dalam pernikahan. Contohnya yang Paulus sampaikan di Efesus 5:31-32. Baca tentang segitiga: “Passion – Compassion – Commitment,” di sermon saya tentang “B-Drama” @jeffminandar.com.

Sehingga kita lihat yang menjadikan ini menjadi satu, yang menjadikan segitiga ini sempurna adalah komponen komitmen. Kembali lagi ini ada di tangan Anda. Pertanyaan saya pada akhirnya adalah: Are you committed? To live the Love, and bring the unity. Supaya kita menjadi satu seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Yohanes 17:21.

Berdoa ala Yesus

BERDOA MENURUT YESUS – Apa yang Yesus katakan dan tunjukkan?

Topik berdoa adalah topik yang tidak akan ada habis-habisnya dibahas dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Seorang pengikut Kristus lebih dari sekedar fans.

Menarik dibahas adalah sikap Yesus dalam berdoa. Mari kita lihat beberapa contoh kejadian yang dituliskan oleh para penulis Injil.

  1. Matius 5:44. Kata “doa” (dalam Bahasa Indonesia) yang pertama ditemukan dalam Injil Matius, menuliskan tentang ajaran Yesus untuk berdoa bagi yang “menganiaya” kita.
  2. Markus 11:24. Dalam ayat sebelumnya (ayat 23) Yesus mengajar mengenai ketetapan hati (iman), kemudian di ayat ini (ayat 24) Yesus mengajar tentang “melihat” jawaban doa jauh melebihi apa yang dilihat mata jasmani. Menariknya di ayat berikutnya (ayat 25) kembali diingatkan tentang mengampuni (hubungan dengan poin pertama).
  3. Lukas 22:41-42. Yesus mengajar tentang bagaimanapun pada akhirnya bukan kehendak kita, namun kehendak Bapa yang terjadi.

Sebagai penutup, saya rasa penting untuk diingat bahwa doa seharusnya bukan untuk memuaskan kemauan atau keinginan kita seperti yang diingatkan Rasul Yakobus dalam Yakobus 4:3.

Saat Anda Mengeluh, Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, “Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?”

Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. “Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang.”

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit. Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.

Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu. Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon namun saat diberi malah menyianyiakannya? Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita. (Sumber: Anonim)             

PENGHARAPAN

Ada tiga hal yang akan tetap tinggal bagi seorang pengikut Kristus sejati: iman, pengharapan dan kasih.

Ketika kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu saat kita pasti akan mati, mungkin itu tidak terlalu menggelisahkan kita, apalagi bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menjamin kehidupan kita setelah kematian. Yohanes 14:2. “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Bahkan jaminan itu untuk selama-lamanya. Yohanes 11:26. “…setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Alasan lain kenapa kita tidak gelisah mungkin karena ketika mati kita tidak akan merasakan apa-apa. Namanya saja mati. Berarti semua sistem tubuh kita mati. Seperti sebuah komputer canggih yang dimatikan (istilahnya “shut-down”), maka komputer canggih itu tidak ubahnya “sampah plastik yang sangat mahal”. Tetapi lain halnya dengan jika kita dihadapkan kehilangan orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, atau orang-orang terdekat kita. Harapan kita adalah itu tidak pernah terjadi! Tetapi kenyataannya itu pasti terjadi! Tentu saja dengan pengecualian jika Yesus datang kedua kali dan kita tidak mengalami pengalaman kematian.

Kita kembali ke kisah yang tadi tertulis di Yohanes 11. Tokoh yang Yesus ajak bicara di ayat 26 adalah Marta, saudara perempuan dari Lazarus. Ketika dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia harus kehilangan Lazarus karena penyakit, dia berduka. Menariknya dalam kisah ini Marta tahu ada yang sebenarnya bisa mencegah kematian saudaranya. Ketika “seseorang” yang harusnya bisa mencegah itu kemudian datang, maka Marta “melepaskan” kekesalannya dengan kalimat “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Yohanes 11:21. Mengapa Marta mengeluarkan komentar seperti ini? Karena harapannya tidak sama dengan rencana Allah. Ini sebenarnya kunci dari beberapa kekecewaan yang mungkin terjadi dalam hidup kita.

Saya menyampaikan ini bukan berusaha membuat kita semua merasa berasalah. Tetapi lebih sebuah potret kehidupan kita, manusia. Coba kita pikirkan, apa yang pernah membuat Anda kecewa di pekerjaan, di keluarga, di dalam hubungan dengan sahabat, dan lainnya. Tahukah kita bahwa segala sesuatu itu ada dalam rencana Allah? Matius 10:30 menuliskan bahkan rambut kepala kita terhitung di hadapan Tuhan. Ada satu lagu lama yang berkata: Yesus tidak pernah salah. Karena segala sesuatu yang diperbuatnya, segala sesuatu yang diciptakannya adalah baik. Kejadian 1:31. Ini berbeda dengan jauh dengan manusia. Meskipun beberapa lelaki di ruangan ini mungkin pernah mendengar ungkapan “wanita tidak pernah salah”. Saya pernah mendengar seorang suami berkata hanya ada 2 aturan dalam rumah tangga: Pertama, istri tidak pernah salah. Kedua, apabila Istri melakukan kesalahan, lihat kembali aturan pertama. Ini mungkin mengapa ketika Hawa ditanya Tuhan, dia langsung menunjuk ular.

Manusia bisa bersalah, namun Allah tidak pernah salah. Ini iman dan pengharapan kita di dalam DIA. Rasul Paulus menuliskan demikian di Roma 5:3-4. “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Doa & Bekerja

Semua orang yang berdoa tentunya ingin mendapatkan jawaban. Namun seringkali jawaban itu sudah disana, hanya saja kita tidak melihat itu.

Ora et labora. Berdoa dan bekerja. Istilah ini adalah motto dari Biara Katolik yang didirikan oleh St.Benedict. Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “ora et labora, deus adest son has” yang berarti “berdoa dan bekerja, Tuhan ada disana” Mungkin ungkapan terakhir berarti Tuhan ada disana dan memperhatikan. Sehingga Paulus menuliskan “lakukanlah pekerjaanmu, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Kolose 3:23.

Saya tertarik dengan istilah ini karena tahun lalu adalah tahun doa buat GPdI Mahanaim, lalu disambung dengan tahun kerja untuk tahun ini. Mengapa harus berdoa dan bekerja? Bukankah doa itu besar kuasanya? Yakobus 5:16. Amin. Kita sering mengutipnya, namun kita perlu juga melihat ayat ini secara utuh. Mari kita lihat:
Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan.” Kalimat ini sebenarnya berarti kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejawatnya. Ini sering disalahartikan dengan mengakui segala dosa, seperti yang dipraktekkan oleh mereka yang diberi gelar imam. Setelah pengakuan dosa itu kemudian “si pendosa” diharuskan menghapuskan dosa dengan melafalkan kalimat-kalimat doa tertentu. Ingat, dosa kita tidak bisa dipulihkan oleh perbuatan kita, atau kebenaran diri kita sendiri. Mari kita baca konsep pengampunan di perjanjian lama yang tertulis di Ibrani 10:1-2. Itu hanya bayangan dan bukan hakekat keselamatan.

Atau kemudian ada beberapa orang Kristen yang mengartikan, pengakuan ini harus dilakukan di depan umum, dengan alih-alih “keterbukaan adalah awal dari pemulihan”. Saya tidak berkata itu tidak benar, namun harusnya ditambahkan “dengan bijaksana” karena hal itu bisa menimbulkan ekses yang pada akhirnya menimbulkan bencana. Mazmur 32:5 menyatakan bahwa pengakuan itu kita ungkapkan kepada Tuhan. Kita mengakuinya di hadapan manusia saat kita

ditegur oleh kehendak Allah (1Korintus 14:24-25), atau ketika kita menceritakannya kepada orang yang kita percayai.

Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan mengenai hal ini, karena itu kita harus kembali pada pengertian awal, bahwa dosa kita dihapuskan karena Allah menginginkannya. (Yesaya 43:25). Jadi keselamatan kita sebagai manusia roh sudah terjamin karena iman kita (Roma 5:1), dan ketika kita mengakuinya kepada orang yang tepat maka kesembuhan, pemulihan itu datang bagi tubuh dan jiwa kita.

Lantas apa artinya bekerja jika iman saja sudah cukup?

Perbuatan tetap kita lakukan meskipun kita sudah beriman. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus 2:17. Karena demikian juga sebaliknya perbuatan-perbuatan yang tidak didasarkan pada iman akan menjadi sia-sia. Galatia 2:16.

Jika Anda perhatikan perbuatan-perbuatan ini mengacu pada perbuatan berdasarkan hokum taurat, yaitu membenarkan diri sendiri. Tuhan aku telah melakukan ini dan itu, aku layak mendapatkan jawaban doa. Sekali lagi kita baca Yakobus 5:16 bisakah kita lihat bahwa sesuatu yang vertical yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, juga dibarengi dengan sesuatu yang horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia. Ini yang harus kita kerjakan, kita tidak bisa hanya mengirimkan doa kepada dia yang bermasalah, tetapi kerjakan bagian kita yaitu berbuat baik. Ini bukan lagi berdasarkan hokum taurat, tetapi hokum Kasih. Hukum Taurat mengandalkan perbuatan manusia kepada Tuhan. Hukum Kasih mengandalkan perbuatan Allah yang memampukan kita melakukan perbuatan-perbuatan baik. Matius 6:14.

GodblesS

JEFF

Different Perspective


All of us have different ways to see and perceive something caught by our senses. Talking about perspective, I always remember the story of Job. He has 3 friends that come over to show their sympathy upon hearing a string of bad luck happened to him. I mean now we know that those “bad luck” caused by the satan.

But let turn our focus to one of the conversations between Job and Eliphaz in Job 5. Eliphaz think that it is impossible for someone endure suffering without precede by a sin or wrongdoing. That is why at verse 1 he confronts Job, for who would be defending him.

Then in verse 2 to 7 Eliphaz saw that there is a tight causal effect between an evil act and punishment. Man could cause his own suffering. I am not in position to deny that view, even that statement is not completely a false statement.

Let’s turn to James 4:1-2 in which James explains that problems and conflicts arise from man’s desire. In more detail he writes: “…because you do not ask (pray to) God.” (NIV)

Because Eliphaz sees from different perspective, or you may say different point of view. He didn’t fully understand what happened to Job in an awful calamity. Many of you have known this saying, that different perspective produces different response.

The book of Job is an interesting piece of work. I mean it considered as a stellar work of ancient literature. But I want you to see Job’s story as a way of God telling man that: YOU KNOW NOTHING!

Psalmist once wrote a similar big story-line with Job’s story. Check Psalms 73:12-14 and look for yourself, if you can find that similarity. And if you move further to verse 17, this is what our theme talking about, it wrote “…till I entered the sanctuary of God; then I understood their final destiny.” (NIV)

What kind of experience that you have? Jesus the Savior of the world oftentimes misunderstood by many of His followers because they see things differently. And as the sermon at Good Friday Service, we have heard that many people questioned His choice to suffer and die. Certainly, you can’t understand that if you put your human common sense.

As you know, His love is extraordinary, the extravagant love, the “so love” kind of love. You can only see His view if you enter His sanctuary and put God’s “glasses” on you. Your perspective will determine your response.