THE BEST GIFT

Kita semua pasti pernah mendengar pernyataan ini: “Hidup adalah perjuangan”. Untuk Anda Keluarga Muda pasti pernah dengar lagu hits dari Dewa 19 di tahun 2000-an. Tetapi memang kenyataannya seperti itu. Coba bayangkan dari 5 tingkat pertumbuhan manusia, semua butuh perjuangan:

  • Pre-natal ( ketika sebelum lahir dan saat kelahiran semua berjuang bukan, baik bayi, sang ibu, bahkan sang ayah juga.
  • Babyhood ( belajar hal-hal dasar itu butuh perjuangan bukan? Belajar menghisap, mengunyah, belajar berjalan, berlari, dan lain sebagainya.
  • Childhood ( anak mulai mengenal aturan, dan berjuang untuk mematuhi aturan di rumah dan sekolah.
  • Adolescence ( perubahan hormonal membuat Remaja harus berjuang secara fisik dan psikis (storm & stress period).
  • Adulthood ( kedewasaan ini mensyaratkan untuk hidup bagi orang lain, hidup bagi orang tuanya, hidup bagi pasangan dan anak-anaknya.

Perjuangan sangat lekat dengan pertandingan, dan hal ini juga disampaikan Paulus di 1Timotius 6:12. Dalam Filipi 3:14 dikatakan bahwa perjalanan, atau pertandingan iman kita itu adalah perjuangan, ditulis sebagai “berlari-lari”.

Sebuah pertandingan kemudian menjadi hal yang pantas diperjuangkan ketika ada: TUJUAN YANG DIKEJAR. Coba baca pernyataan Paulus di 1Korintus 15:32, dia rela melayani sampai hampir mengorbankan nyawanya karena dia tahu akan tujuan akhir hidupnya, dan apa yang akan terjadi.

Saya sampaikan ini di banyak kesempatan saya melayani, bahwa hidup yang dihidupi tanpa mengetahui misi/tujuan hidup, adalah hidup yang sia-sia (@jeffminandar.com – “Misi Kita di Dunia”). Hal ini yang menjelaskan fenomena mengapa banyak orang kemudian putus asa dengan hidupnya, lebih spesifik lagi malam ini, mengapa banyak Keluarga putus asa dengan rumah tangganya atau pasangannya. Saya berharap pasangan-pasangan muda mendengar ini baik-baik, termasuk Jonas dan Asmirandah, yang malam ini hadir untuk berbagi kisah mereka.

Bukan karena saya mengatakan ini, tetapi karena Firman Tuhan yang mengatakannya. Pengkhotbah 1:2. If you lose your sense of mission/purpose in any aspect of your life, then your life would be in vain.

Tetapi syukur kepada Allah bahwa IA memberikan tujuan yang luar biasa dalam hidup kita. Hal ini kita temukan dalam Filipi 3:14, yang disebut sebagai “panggilan Sorgawi” dari Allah dalam Kristus Yesus. This is our beacon of hope. Inilah “hadiah” terbaik yang kita dapatkan dari Allah: pribadi Yesus.

Ini seperti bintang timur yang membuat para majus terus berjalan selama 2 tahun. Atau seperti Rahel bagi Yakub yang membuatnya terus bekerja selama 14 tahun. Yesus lah seharusnya yang menjadi cinta terbesar dalam Keluarga kita. Bukannya saya meragukan besarnya cinta Anda terhadap pasangan Anda, atau terhadap anak Anda. Cinta Anda bisa jadi sanggup tetapi sampai sejauh mana, dibandingkan cinta dan kasih setia Tuhan. Yesaya 63:7.

So, I want to close this sermon with these last few statements. Kalau banyak suami/istri, ayah/ibu, Keluarga/rumah tangga, yang menyerah karena tujuan mereka yang salah. Atau bahkan, yang paling mengerikan, karena tidak ada tujuan. Maka malam hari ini Anda berbeda, karena Anda tahu Anda menerima the best gift from heaven: A HEAVENLY CALLING FROM GOD IN CHRIST JESUS.

GodblesS

JEFF

 

Advertisements

ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

  • Ada sesuatu yang hilang / kosong.
  • Ada sesuatu yang mati.
  • Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

  • Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.
  • Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.
  • Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Persaudaraan dan kekeluargaan di jemaat local baik untuk kemajuan rohani Anda. Tetapi Anda juga pasto ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa. Khusus mengenai tingkatan “orang muda”, mereka “mengalahkan yang jahat”, saya percaya ini adalah konsep menjadi terang dan garam (yang “overpowered” kegelapan dan ketawaran dunia).

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Menjadi Anak Allah” @jeffminandar.com), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

  1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.
  2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.
  3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “pengejarannya” yang salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung! Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita. Dengan menyadari bahwa kita sudah dipindahkan dari kebinasaan kepada kehidupan seharusnya membuat kita makin mencintai (mengasihi, melayani, menolong) “rumah kita” yaitu “tubuh Kristus”.

HOMECOMING (Yeremia 2:2)

Homecoming” adalah tema yang menarik, karena bisa didefinisikan sebagai reuni atau kembali ke rumah / kampung halaman. Untuk definisi yang terakhir bisa disamakan dengan istilah “mudik” mungkin.

Tetapi menjadi menarik juga karena salah satu film “box office” 2017 berjudul “Spiderman: Homecoming”. Kalau saya tidak salah di Rusia atau di Italia dan beberapa negara lain, judul film dalam Bahasa Inggris harus diterjemahkan ke Bahasa nasional setempat. Kebayang ya kalau di Indonesia jadinya: “Manusia Laba-laba: Mudik”.

Tetapi ada fakta-fakta yang saya dapatkan tentang film “Spiderman” ini. Salah satunya bahwa film ini menjadi film “Spiderman” tersukses kedua setelah Trilogi “Spiderman” yang diperankan Tobey Maguire. Pendapatannya tercatat $333juta di Amerika Serikat dan $879juta di seluruh dunia.

Ketika mendengar angka-angka fantastis seperti itu kita langsung berpikir tentang ukuran kesuksesan, bukan? Kesuksesan = Hasil. Apakah ini biblical? Coba kita lihat Matius 3:10. Saat itu Yohanaes Pembaptis menegur dengan keras orang-orang Yahudi (termasuk di dalamnya orang Farisi) yang diumpamakan seperti “pohon yang tidak berbuah”. Jadi “menghasilkan” itu penting.

Lalu hasil yang seperti apa? Hasil yang baik tentunya sesuai dengan ayat tersebut. Namun baik pun menjadi relatif. Apa yang saya katakan baik, belum tentu sudah baik di pandangan Anda. Hasil yang baik ini harus mengacu kepada standar DIA, “sang pemilik kebun” kalau memakai perumpamaan Yesus di Lukas 13:6-9. Karena dari “pohon” kemanusiaan kita bisa menghasilkan yang dari “daging” dan yang dari “roh”. Galatia 5:19-23.

Ilustrasi yang mudah seperti ini, kembali ke Spiderman, sebelum “Spiderman: Homecoming” ada film “Amazing Spiderman 2” yang mencatat penjualan $202juta di Amerika Serikat dan $708juta di seluruh dunia. Angka yang besar, bukan? Tetapi, Angka Besar ≠ Ekspektasi. Sony Pictures mengeluarkan lebih dari $250juta untuk produksinya saja, dan mereka berharap hasil yang lebih.

Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, kemudian berujung  pada hasil yang tidak  sesuai.

Apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Saya lebih melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Kasih yang dulu pernah Anda tunjukkan pada mulanya. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Ekpektasi Illahi adalah Anda kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

Saya tidak tahu posisi Anda sekarang, sebagai pengikut Kristus. Tapi Anda tahu apa yang Tuhan harapkan, saya teringat Matius 11:30, DIA menginginkan sesuatu dari hidupmu, tetapi DIA menyediakan. Anda sedang memikul sesuatu yang juga DIA rasakan, kembali dari pikiran-pikiran salah, pulanglah dan rasakan kasihNYA, dan kasih ini yang mengingatkan Anda kembali.