ACCEPTED (Diterima)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

– Ada sesuatu yang hilang / kosong.

– Ada sesuatu yang mati.

– Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

– Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.

– Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael. Kejadian 28:6-9.

– Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu. Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Anda ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa.

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Anak Allah” @gpdimahanaim-tegal.org), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “FIraun”.

Baik dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.

2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.

3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “pengejarannya” yang salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung! Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita.

Advertisements

HOMECOMING (Yeremia 2:2)

Homecoming” adalah tema yang menarik, karena bisa didefinisikan sebagai reuni atau kembali ke rumah / kampung halaman. Untuk definisi yang terakhir bisa disamakan dengan istilah “mudik” mungkin.

Tetapi menjadi menarik juga karena salah satu film “box office” 2017 berjudul “Spiderman: Homecoming”. Kalau saya tidak salah di Rusia atau di Italia dan beberapa negara lain, judul film dalam Bahasa Inggris harus diterjemahkan ke Bahasa nasional setempat. Kebayang ya kalau di Indonesia jadinya: “Manusia Laba-laba: Mudik”.

Tetapi ada fakta-fakta yang saya dapatkan tentang film “Spiderman” ini. Salah satunya bahwa film ini menjadi film “Spiderman” tersukses kedua setelah Trilogi “Spiderman” yang diperankan Tobey Maguire. Pendapatannya tercatat $333juta di Amerika Serikat dan $879juta di seluruh dunia.

Ketika mendengar angka-angka fantastis seperti itu kita langsung berpikir tentang ukuran kesuksesan, bukan? Kesuksesan = Hasil. Apakah ini biblical? Coba kita lihat Matius 3:10. Saat itu Yohanaes Pembaptis menegur dengan keras orang-orang Yahudi (termasuk di dalamnya orang Farisi) yang diumpamakan seperti “pohon yang tidak berbuah”. Jadi “menghasilkan” itu penting.

Lalu hasil yang seperti apa? Hasil yang baik tentunya sesuai dengan ayat tersebut. Namun baik pun menjadi relatif. Apa yang saya katakan baik, belum tentu sudah baik di pandangan Anda. Hasil yang baik ini harus mengacu kepada standar DIA, “sang pemilik kebun” kalau memakai perumpamaan Yesus di Lukas 13:6-9. Karena dari “pohon” kemanusiaan kita bisa menghasilkan yang dari “daging” dan yang dari “roh”. Galatia 5:19-23.

Ilustrasi yang mudah seperti ini, kembali ke Spiderman, sebelum “Spiderman: Homecoming” ada film “Amazing Spiderman 2” yang mencatat penjualan $202juta di Amerika Serikat dan $708juta di seluruh dunia. Angka yang besar, bukan? Tetapi, Angka Besar ≠ Ekspektasi. Sony Pictures mengeluarkan lebih dari $250juta untuk produksinya saja, dan mereka berharap hasil yang lebih.

Ekspektasi Allah kepada kita seperti apa? Saya rasa kita bisa lihat dari apa yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Yesaya di Yesaya 5:1-7. Pada konteks tulisan Nabi Yesaya ini Allah memiliki ekspektasi, kemudian berujung  pada hasil yang tidak  sesuai.

Apakah Allah kemudian sama seperti orang tua yang:

  • Memiliki ekspektasi tinggi.
  • Tegas dan disiplin.
  • Tidak mudah dipuaskan.

Beberapa dari Anda berpikir Allah seperti itu, karena Anda melihat contoh yang seperti itu, entah itu orang tua Anda atau orang tua lain yang Anda tahu. Saya rasa Anda pernah baca Matius 7:11. Ketika saya membaca ayat ini saya langsung melihat semua hal yang tertulis di atas sebagai sebagai sebagian sisi karakter Allah, tetapi Allah jauh lebih besar dan baik dari itu. Saya akan kehabisan waktu untuk menjelaskan tentang Kasih Allah yang melebihi logika kita. (“It’s All About Love.” @jeffminandar.com)

Saya lebih melihat Allah seperti gambaran Bapa yang sangat kaya, yang memberi “kehendak bebas” pada anak-anaknya. Lukas 15:11-32. Apakah Bapa memiliki ekspektasi, tentu saja, itu yang saya rasa menjadi misi kita di dunia. (“Misi Kita di Dunia.” @jeffminandar.com)

Sama seperti itu Bapa di Surga, melihat posisi Anda sekarang dan meminta Anda kembali. DIA tahu yang terbaik, DIA tahu bersamaNYA lah tempat paling aman bagi Anda, DIA tahu mana yang lurus dan mana yang bengkok. Seperti Bapa yang mengasihi, yang menyerahkan AnakNYA yang tunggal untuk keselamatan Anda, DIA sekarang menanti Kasih yang dulu pernah Anda tunjukkan pada mulanya. Yeremia 2:2.

  • DIA tidak pernah melupakan Anda. DIA mengingat Anda.
  • Semua tindakan Anda yang dimotivasi oleh Kasih kepadaNYA, sungguh menyenangkan HatiNYA.
  • Allah melihat perjanjian itu seperti sebuah ikatan pernikahan, serius, kita saja yang tidak setia.
  • Ekpektasi Illahi adalah Anda kembali kepada kasih yang semula, yang mengikuti DIA apapun resikonya.

Saya tidak tahu posisi Anda sekarang, sebagai pengikut Kristus. Tapi Anda tahu apa yang Tuhan harapkan, saya teringat Matius 11:30, DIA menginginkan sesuatu dari hidupmu, tetapi DIA menyediakan. Anda sedang memikul sesuatu yang juga DIA rasakan, kembali dari pikiran-pikiran salah, pulanglah dan rasakan kasihNYA, dan kasih ini yang mengingatkan Anda kembali.

Grow Together

GROW TOGETHER

Pertama-tama ijinkan saya mengucapkan selamat merayakan Sumpah Pemuda untuk yang masih ingat kalua hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Namun yang kedua yang menjadi salah satu alasan kita berkumpul sore hari ini adalah Ulang Tahun ke 40 Tahun untuk Pemuda Remaja GPdI Alfa Omega Ketintang, Surabaya. Kalau tidak salah mereka sekarang punya nama COMMANDERS OF CHRIST.

Bertumbuh atau berkembang adalah istilah yang tersebar di seluruh Alkitab. Dalam Kejadian kita ingat bahwa manusia pertama diminta untuk “beranak cucu dan penuhilah bumi”. Kemudian dalam Yesaya kita ingat Allah mengibaratkan Israel sebagai kebun anggur yang harusnya menghasilkan anggur pilihan, tetapi malahan menghasilkan anggur yang asam. Demikian kalau kita maju ke Perjanjian Baru, dalam Lukas seorang pemilik kebun melihat ada pohon ara yang tidak berbuah, dan memberi waktu 3 tahun untuk pengurus kebun itu untuk merawatnya, jika tidak berbuah maka akan ditebang.

Tiga kisah Alkitab di atas menunjukkan bahwa “berkembang” tidak bisa dilepaskan dari “berbuah”. Hari ini kita akan belajar untuk bertumbuh bersama, supaya semua punya pemahaman yang sama. Anda yang pernah latihan fitness pasti tahu Anda harus melatih bagian kiri dan kanan tubuh Anda dengan beban latihan yang sama. Kalau tidak berkembangnya tidak akan sama.

Kembali ke COC, ini adalah ulang tahun yang ke 40 tahun bagi Pemuda Remaja. Kalau melihat angka, sebenarnya Anda sudah tidak pemuda Remaja lagi. Jokes. Usulan saya Anda buat ulang tahun sesuai dengan tahun kapan Anda mulai nama COC ini. Tapi ini hanya obrolan selintas ya jangan dijadikan perdebatan serius.

Tetapi mengingat 40 tahun, saya teringat dengan rentang masa yang sama di dalam Alkitab saat Israel berkembang menjadi suatu bangsa menjalani suatu perjalanan yang cukup panjang untuk sampai di tanah perjanjian. Ini adalah perjalanan lintas generasi yang menarik. Pada tahun ke-40 tantangan yang dihadapi bukan saja dari generasi yang lebih tua, tetapi juga dari antara generasi baru yang muncul. Commanders of Christ, you better prepare for this, and listen well for the Word of God!

Semakin kita dewasa fokus kita juga bergeser dari diri kita sendiri, kepada orang lain. Jika di masa kanak-kanak semua tentang aku (mamaku, mainanku, dll), maka semakin bertambah umur kita mulai berpikir mengenai orang lain. Kita mulai berpikir mengenai berbagi dan memberi. Karena itu saya percaya bahwa apa yang Yesus katakan di Matius 22:37-40“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.(38)Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.(39)Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.(40)Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”Hukum ini adalah bukti kedewasaan kita dalam kekristenan.

Siapa yang ingin dewasa? Menarik sekali kalau mempelajari dinamika sosial, anak-anak biasanya ingin cepat dewasa, sementara yang dewasa,ketika melihat sulitnya hidup ingin kembali ke masa anak-anak. Tetapi didalam Firman Tuhan dengan jelas dikatakan: 1 Korintus 13:11″Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Mengapa menjadi dewasa itu penting? Efesus 4:13-14 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,(14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…”

Karena anak-anak mudah diombang-ambingkan! Puji Tuhan kalau hari ini kita anak-anak muda masih menyadari bahwa kita butuh pegangan yang teguh didalam Kristus. Banyak sekali anak muda yang merasa dirinya kuat, merasa dirinya tidak tergoncangkan namun ternyata mereka mudah sekali ambruk. Apalagi kalau sudah ditawari 3G (Gold-Glory-Guys/Girls). Iman kuat, imron yang mana tahan.

Apa saja tanda-tanda seorang sudah dewasa? Kalau melihat ke 1Korintus 13, jelas sekali dituliskan: PERKATAAN, PERASAAN dan PIKIRAN. Secara cepat saya akan membahas hal ini supaya kita semua punya pemahaman yang sama mengenai kedewasaan rohani. Bukan berarti usia kalian yang masih muda kemudian kalian tidak dewasa rohani. Bisa jadi sebaliknya banyak orang yang sudah puluhan tahun di gereja namun masih anak-anak secara rohani.

(1) PERKATAAN. Perkataan seorang dewasa rohani bukanlah perkataan yang sembarangan. Matius 12:36 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”Ini termasuk perkataan di media sosial.

(2) PERASAAN. Perasaan seorang dewasa rohani tidak dikuasai hawa nafsu. Efesus 4:19-20 “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.”

(3) PIKIRAN. Pikiran seorang dewasa rohani diperbaharui (diwarnai pertobatan dari waktu ke waktu). Roma 12:2″Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Sekarang apakah Anda adalah seorang yang dewasa rohani? Ulang tahun Pemuda Remaja ini saya tahu masih ada banyak keinginan yang Anda ingini untuk diri Anda sendiri. Tetapi ketika Anda bertumbuh dewasa secara rohani, berapapun jumlah tahun yang sudah Anda lewati. Biarlah fokus kita pada dia, pada mereka, yang ada diluar sana. Apa yang Anda bisa kontribusikan untuk dunia yang diluar sana?

GodblesS

JEFF

RED DOT SYNDROME

Dalam terjemahan bebas ini bisa disebut sebagai “sindrom titik merah”, suatu istilah yang sering disematkan kepada negara Singapura karena luas wilayah mereka yang sangat kecil, sehingga di peta hanya terlihat seperti titik merah kecil.

Ini adalah beberapa fakta singkat tentang Singapura:

  • Disebut “negara kota” di satu pulau.
  • Nama resminya “Republik Singapura”.
  • Memiliki sebutan “Kota Singa” dan “Kota Taman”.
  • Pada 2016 memiliki estimasi jumlah penduduk 5,6 juta orang.

(Begini kira-kira bentuk pulaunya)

Tetapi meskipun kecil, posisi Singapura sekarang sangat diperhitungkan. Singapura adalah salah satu kekuatan ekonomi Asia, bahkan dunia. Namun demikian, ada satu hal yang “di-amin-i” oleh banyak pihak, bahwa negara kecil ini ingin dipandang sebagai yang pertama di dunia dalam segala hal.

Beberapa hal-hal subyektif yang saya temukan dari Singapura salah satunya adalah tentang bandar udara mereka. Bandara Changi mungkin adalah bandara terbaik di dunia dalam segi fasilitas tetapi bandara yang tersibuk di dunia ada di Amerika Serikat, yaitu Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport, ini sesuatu yang tidak mungkin dilewati Singapura.

Singapura, atau pemerintahnya, gemar membuat pameran atau instalasi fasilitas, dan mengklaimnya sebagai yang pertama di dunia. Saya rasa ini terjadi karena mereka ingin menutupi kekurangan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan luas wilayah mereka.

Menariknya di Alkitab juga ada sindrom yang kurang lebih sama. Pada intinya karena posturnya yang kecil, maka dia berusaha mencari kompensasi dengan melakukan hal-hal yang mengundang perhatian. Mari kita sebut kisah ini “Zacchaeus Dot Syndrome”. Zakheus sebagai bagian dari komunitas Israel tidak mengetahui bahwa faktanya ia memiliki bagian dalam “Perjanjian Abraham”. Lukas 19:9. Ini sebenarnya perjanjian yang ditentukan bukan semata-mata karena memiliki hubungan darah atau kekerabatan yang sama, tetapi karena IMAN, seperti yang ditemukan dalam Abraham. Roma 9:8.

Zakheus adalah setitik noda di kalangan Yahudi karena ia memilih sebuah profesi yang memalukan, sebagai seorang pengkhianat Yahudi karena bukan saja menjadi kolaborator Romawi, tetapi ia juga tidak segan menekan bangsanya sendiri.

Tetapi jika kita melihat arti kata dari namanya di Lukas 19:2. Zakheus berasal dari kata “zaccai/zakkay” yang berarti murni. Kalau kita lebih dalam lagi mempelajari akar kata tersebut, maka itu berasal dari kata “zakak” yang juga berarti bersih, mengkilap. Sayangnya Zakheus bertingkah laku berkebalikan dari arti namanya.

Ps.Prince pernah menyampaikan kepada jemaatnya demikian, mengenai mendidik anak. Ketika ia merasa anaknya “bandel” dan tidak taat, dia akan berkata: “Kamu adalah putri dari Raja diatas segala raja, jadi berhentilah bertindak seperti putri seorang penjahat!”

Dalam Yeremia 2:21, Nabi Yeremia mengecam Israel, sebagaimana Firman yang ditaruh Allah kedalam mulutnya, bahwa mereka adalah benih yang murni, namun berubah menjadi liar dan menghasilkan aroma yang tidak menyenangkan.

Malam hari in, mungkin (diakui atau tidak, disadari atau tidak), ada sindrom ini di dalam hidup kita. Tolong, ketika mendengar penyampaian ini, jangan buru-buru berkata: “Wah pas ini untuk si ini atau si itu!” Tetapi mari masing-masing kita introspeksi, apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup kita.

Kita semua diciptakan murni, tanpa kepalsuan, tetapi seiring waktu berjalan Anda berpikir (didalamnya ada proses sensori: mendengar dan melihat), dan menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang dalam diri kita.

Mengenai proses berpikir ini saya teringat dengan kasus Hawa di Kejadian 3:6. Ia berpikir, bertindak kesalahan, dan berpikir lagi bahwa ia bisa menutupi itu. Kejadian 3:7. Satu hal yang kita pelajari dari proses berpikir yang salah adalah: Anda akan kehilangan apa yang Anda miliki ketika fokus Anda hanya pada hal-hal yang Anda tidak miliki. Sering terjadi kita menukar waktu bersama Keluarga dengan waktu bekerja, atau waktu merenung tentang Tuhan, dengan waktu merenungi gawai (gadget) yang kita miliki.

Bagaimana dengan kasus Zakheus? Dia adalah orang yang pendek! Kita bisa baca kembali ini di Lukas 19. Apa yang Zakheus lakukan dengan memanjat pohon itu sebenarnya adalah cerminan kehidupannya selama ini! Dia seperti berkata: Jangan pernah anggap aku rendah!

  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkaya dengan cara apapun.
  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkejam dengan menindas siapapun.
  • Ini dia buktikan dengan menjadi orang terkenal (notorious) dengan statusnya.

Anda bisa bayangkan saat itu, terjadi kerumunan, dan saya berpikir seperti yang juga pernah disampaikan Ps.Judah Smith, tidak ada orang di lingkungannya yang mau memberi tempat bagi dia. Hal ini bukan membuat dia tersadar, tetapi malahan mendorong dia untuk kembali membuktikan sesuatu.

Saat ini apa yang menjadi kekuranganmu? Fisik? Sosio ekonomi? Kasih sayang dan penghargaan? Lalu apa yang menjadi “pohon” pembuktianmu? Tetapi lihatlah apa kata Yesus? Lukas 19:5. Yesus berkata: “Aku ingin tinggal bersamamu.” Ini seperti yang tersirat di pertanyaanNYA di Kejadian 3:9.

Lalu apa kemudian yang jadi respon kita? Kebenaran diri sendiri (seperti yang dilakukan Adam, Israel, Daud, Yudas Iskariot)? Tuhan benci itu, ketika kita merasa kita lebih pintar dan bisa membodohi Tuhan yang Maha Tahu. Seharusnya respon kita adalah seperti di Lukas 19:6. Terima DIA, terima Firman itu, berkomunikasi (melalui doa) dengan DIA, pujilah dan sembah DIA, dengan sukacita. Anda akan menyaksikan perubahan akal budi (metanoia) saat itu terjadi. Lukas 19:7.

Apakah Anda mau mengambil 5-10 menit untuk “turun dari pohonmu”? Dan biarkan DIA “tinggal”.

OBSTACLE

Pada sesi kali ini kita berbicara tentang rintangan-rintangan yang akan menjadi penghambat kita untuk kembali kepada Yesus, sumber kebenaran kita.

Apa sebenarnya penghalang kita dari memiliki persekutuan dengan Yesus? Menurut Yesaya 59:2 yang menjadi pemisah adalah: DOSA. Dosa adalah suatu tindakan menyimpang dari kehendak Allah. Itulah kenapa setiap pendosa PERLU kembali kepada kehendak Allah. Ini perlu dilakukan dalam “sistem” kehendak Allah (melalui penebusan), dan tidak bisa memakai “sistem” manusia, karena manusia tidak bisa membenarkan dirinya sendiri. Amsal 14:12.

Mengenai dosa banyak yang berpikir dosa adalah “poin” ketika kita melanggar suatu daftar aturan tertentu. Padahal dosa, seperti yang saya sudah jelaskan di atas, adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dari kehendak Allah. Coba kita lihat beberapa contoh ini:

  • Adam & Hawa. Mereka menyimpang dari kehendak Allah yang sudah disampaikan dengan jelas di Kejadian 2:17.
  • Hosea, di lain sisi, menikahi pelacur yang jelas melakukan zinah sebagai bagian kehidupan sehari-harinya, tetapi Allah yang menyuruh Hosea. Itu bisa kita baca di Hosea 1:2. Apakah Allah menyuruh Hosea berdosa? Bukan, malahan tindakan Hosea itu sebagai gambaran kasih Allah kepada Israel yang berkali-kali melakukan “zinah” rohani.
  • Perempuan yang kedapatan berzinah. Ia jelas menyimpang karena kedapatan berbuat zinah oleh para farisi. Yohanes 8:4.
  • Yesus, menariknya tidak menghukum perempuan ini meskipun jelas dalam Hukum Taurat orang yang berzinah harus dirajam dengan batu. Yohanes 8:7-8. Apakah Yesus membiarkan dosa? Tentu tidak. DIA malah menggenapkannya, dan memperkenalkan Hukum yang lebih tinggi dari Hukum Taurat, yaitu Hukum Kasih Karunia.

Karena dosa adalah penghalang antara Tuhan dengan manusia ciptaanNYA, maka iblis berusaha untuk mengeksploitasi hal ini supaya rencara Allah atas manusia tidak terlaksana. Karena rencananya untuk melakukan “kudeta” di Surga tidak terlaksana, iblis berusaha mencari cara supaya rencana Allah gagal atas dunia, dan manusia yang dipercaya untuk mengelolanya. Iblis tidak akan berhenti melakukan siasatnya sampai saat penghakiman atas dirinya nanti.

Apa saja rencana iblis ini? Ada tiga hal yang perlu kita cermati, yang iblis eksperimenkan kepada manusia pertama, dan sayangnya eksperimen ini berhasil:

  • Iblis akan berusaha menjauhkan kita dari Tuhan. Kita lihat saja di Kejadian 3:8-9. Iblis menjebak manusia supaya mereka kehilangan hubungan dengan Tuhan. Iblis terus melakukan hal yang demikian dalam hidup manusia. Ia membuat manusia terjebak dalam pikiran manusiawinya dan kemudian melakukan dosa, bahkan iblis berusaha membuat manusia terus terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah. Imamat 18:3-4.
  • Iblis menanamkan pikiran-pikiran yang menyalahkan Tuhan. Kejadian 3:4-5.
  • Iblis berusaha membuat manusia menempatkan Tuhan sebagai yang bukan prioritas, sehingga manusia tidak terfokus kepada Tuhan. Keluaran 20:8.

Sekarang bagaimana supaya kita bisa seperti yang ditulis di 1Petrus 5:8, berjaga, sehingga iblis tidak mampu memisahkan kita dari Kasih Tuhan?

Berjaga ini mengandung 4 langkah yang saya rasa kita semua sudah ketahui, hanya saja kadang kita lengah dan jatuh dalam perangkap iblis:

  1. Tutup celah. Roma 7:6-8 dan Efesus 4:27.
  2. Tutup titik lemah. Yeremia 9:5. Jangan terbiasa membuat kesalahan, jangan malas bertobat. Coba nanti lihat hubungannya dengan poin terakhir.
  3. Kenali strategi iblis. Dia adalah pribadi yang penuh tipu muslihat. Yohanes 8:44. Jangan percaya “auman” iblis.
  4. Lakukan perubahan. 2Petrus 3:15. Semua punya kesempatan untuk berubah, hargai itu, dan jangan menguji kesabaran Allah.

Infinitely in the LIGHT

Saya percaya sepanjang hidup kita, kita mencari sesuatu yang terang, yang jelas. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya lebih suka dengan terang. Bahkan saat kecil selama beberapa lama (sampai SMP kelihatannya) saya memilih untuk membiarkan lampu kamar tidur saya menyala. Mungkin hanya sedikit orang yang lebih memilih dalam gelap di sebagian besar hidupnya.

Menariknya kalau kita melihat ke awal mula penciptaan bumi, Allah yang menjadikan terang. DIA lah sumber terang, didalamnya tidak ada bayang-bayang perubahan. Pada 2000 tahun yang lalu DIA datang untuk membawa terang kembali ke bumi. Lukas 1:79 (TB) “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

Coba kita perhatikan alasan kedatangan Yesus, tokoh sentral iman kita, dalam ayat ini dijelaskan secara jelas. Alasan yang pertama, “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan”. Siapa “mereka” yang dimaksud? Kita, manusia. Sadarkah kita kalau sebenarnya manusia ini hidup dalam gelap. Karena di dalam gelap kita tidak bisa melihat. Dan lihatlah banyak sekali di sekitar kita orang-orang yang tidak bisa melihat.

  • Mereka tidak bisa melihat mana uang milik mereka dan uang yang bukan milik mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana pasangan yang menjadi hak mereka dan pasangan yang bukan hak mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana yang harus mereka kuasai dan mana yang mereka harus lepaskan.

Hidup dalam kegelapan adalah hidup yang tanpa harapan. Anda tidak mengerti siapa yang ada di depan-belakang-samping Anda. Anda berjalan tanpa arah dan tujuan. Satu-satunya yang Anda pikirkan adalah bagaimana bertahan hidup selama mungkin. Jika sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan, maka mati menjadi jalan satu-satunya. Bukankah ini kehidupan yang gelap? Anda tidak perlu menjadi putus asa, karena harapan itu masih ada.

Coba bayangkan Anda sedang ada dalam hutan yang sangat lebat dan hari sudah malam, Anda tidak punya alat bantu penerang. Apa yang Anda harapkan? Terang. Atau bayangkan jika Anda terkurung dalam suatu ruangan gelap yang tak berpintu dan berjendela, yang saudara tahu hanya bentangan dinding yang begitu panjang dan tak berujung. Apa yang Anda harapkan? Terang.

Coba kita baca kembali Yesaya 60:2 “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa.” Kita lihat disekeliling kita sepertinya gelap.

  • Tidak ada harapan Indonesia akan bebas dari korupsi.
  • Tidak ada harapan bahwa Indonesia akan lolos dari krisis ekonomi.
  • Tidak ada harapan bahwa hidup Anda bisa lebih baik dari ini.
  • Tidak ada harapan bahwa keluarga saya, istri saya, suami saya, anak saya, kakak saya, adik saya, bisa berubah.

Lihatlah apa yang selanjutnya disebutkan dalam ayat ini: “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Ada harapan di tengah-tengah kegelapan. Lebih dari 2000 tahun yang lalu seseorang menggenapi apa yang tertulis dengan berkata demikian: Yohanes 8:12 (TB) “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

What I’m trying to say is this, if HE is the light, then we also are the light. Kalau kehadiran Yesus menjadi terang yang membawa harapan, demikian juga kita. Sering kita berpikir tentang “kamulah terang dunia” tetapi apa sebenarnya menjadi terang itu? Membawa pengaruh! Matius 5:16 “Hendaklah terangmu bercahaya di depan semua orang.” Ayat ini adalah perkataan Yesus yang IA ucapkan ketika berbicara tentang PENGARUH. Bukankah hidup manusia secara konstan adalah proses MEMENGARUHI & DIPENGARUHI?

Bayangkan sejak dalam kandung, bahkan lebih lagi, sejak masih dalam bentuk SEL. Anda sudah membawa pengaruh. Kalau kita bisa menjadi pengaruh berarti kita harus hati-hati terhadap pengaruh yang kita bisa bawa. Ini ada pesan Firman Tuhan bagi semua orang muda, bahkan buat semua orang percaya. Apa yang seharusnya dilakukan? 1Timotius 4:12. Jadi teladan = Jadi terang.

Kembali ke pokok bahasan mengenai pengaruh. Jika hidup manusia sejak awal sudah ditentukan untuk jadi pengaruh. Bukankah hal itu (maksudnya menjadi pengaruh) akan lebih lagi dituntut dari kita saat kita semakin bertumbuh dewasa, baik secara jasmani, maupun rohani. Coba baca Amsal 4:18, kita diminta “bertambah terang.”

So, we are expected to be shining bright and brighter, and stay there infinitely. Infinitely ini bisa berarti selamanya, tetapi juga bisa berarti dalam derajat yang semakin besar, semakin luar biasa. Berarti tidak ada kata berhenti, atau berpuas diri. You must be the light at all time. How? By showing love. 1Yohanes 2:10; 1Yohanes 3:10; 1Yohanes 4:21. Pengaruh yang harus kita bawa kembali dasarnya bukan harta-tahta-dan cinta, tetapi kasih!

DEVOTEDLY KNOWN

Anda adalah orang yang dengan jelas diberi perintah untuk “mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama” dan saya yakin Ps.Robert Runtukahu sudah menjelaskan di 6 sesi sebelumnya. Sesi pagi ini kita akan mulai dengan kalimat pendek: “Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (By the way kalimat ini ada di 1Korintus 8:3)

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi interest terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8 Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

 

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

 

“Kalau dia nggak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia nggak setampan atau secantik ini dan itu.”

 

Guys, love is not about what you will get, but what you will give. Saya mengatakan ini konsep cinta universal ya. Bukan hanya romance aja.

 

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love. Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berika kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

 

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

 

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka. So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

 

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

 

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

 

Disinillah kemudian saya memahami konsep DEVOTEDLY KNOWN. We are known, but not just known, we are devotedly known. How you love God is based on HIS love first. When you understand how much He loves you, only then you can LOVE HIM BACK. He is devoted person. He is faithful. How come we are not in love with Him.

MISKOMUNIKASI

 

Saya ingin memulai dengan menjelaskan tentang komunikasi, dan semoga ini bisa memberi gambaran dasar dari apa yang akan saya sampaikan.

Mengenai komunikasi, kita bisa berbicara banyak mengenai hal ini sepanjang hari. Anda berbicara, Anda menulis surat, Anda mengirim pesan singkat atau SMS, Anda menulis status di media social, Anda memakai baju yang sekarang Anda pakai, dan lain sebagainya, dan dengan banyak cara kita berkomunikasi.

Namun saya berusaha “memeras” keluar intisari dari komunikasi, dan ini yang saya dapatkan: komunikasi adalah cara dari satu pihak dalam menyampaikan ide kepada pihak lain, untuk mencapai suatu tujuan. Saya memberi highlight atau penekanan kepada 3 kata, yang menurut saya menjadi esensi.

Pertama, ide. Ini adalah gagasan, suatu pemikiran, suatu rancangan.

Kedua, cara atau metode. Ini adalah suatu alat bantu, suatu strategi yang digunakan.

Ketiga, tujuan. Ini adalah hasil akhir yang ingin dicapai.

Dari ketiga hal ini bisa saja salah satunya (atau bahkan ketiganya) berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan dan mengakibatkan terjadinya: MISKOMUNIKASI atau GAGAL PAHAM.

Miskomunikasi terjadi ketika ide tidak tersampaikan dengan baik dan ada halangan terhadap cara penyampaiannya. Menurut Anda apakah Allah berusaha berkomunikasi dengan manusia? Anda berkata lewat Alkitab, lewat khutbah, lewat suara Roh Kudus, dan lain sebagainya.

Kemudian saya mulai berpikir apakah ada ketiga komponen itu dalam komunikasi Allah dengan manusia?

Tentang ide, Allah adalah sumbernya DIA yang memiliki ide tentang ciptaan, termasuk di dalamnya penciptaan manusia. Kejadian 1:26.

Tentang tujuan, di ayat yang sama dituliskan bahwa manusia diciptakan supaya berkuasa. Berkuasa disini adalah bertanggungjawab atas seluruh bumi. Karena itu ide “eksploitasi” bumi dan isinya secara tidak bertanggungjawab itu jelas bukan ide Tuhan.

Tentang caranya, Allah menyediakan kebutuhan manusia di ayat 29, memperlengkapi dengan manusia lain di ayat 27, dan mendorong terjadinya multiplikasi di ayat 28.

Ingat komunikasi adalah IDE (untuk mencapai) TUJUAN (melalui) CARA (tertentu).

Alur ini berlaku di setiap kisah dalam Alkitab. Coba bayangkan kisah Abraham, Israel, Ayub, Yesus, dan coba sekarang bayangkan alur yang sama dalam kisah hidup Anda.

Allah punya ide yaitu gagasan, pemikiran, rancangan yang luar biasa untuk Anda. Yeremia 32:18-19.

Tujuannya adalah sesuatu yang mulia bagi Anda. Roma 9:20-21.

Caranya adalah dengan menguduskan, dan melalui karya Roh Kudus Anda taat. 1Petrus 1:2.

Allah berusaha mengomunikasikan ini terhadap manusia dari awal sampai akhir. Tentu saja kita tidak bisa memiliki “kertas contekan” dalam memahami ini, tetapi Tuhan memberi “kisi-kisi” atau pedomannya bagi Anda.

Namun demikian komunikasi ini tidak berjalan selalu mulus. Karena melibatkan kita yang penuh dengan hambatan. Kita tahu hambatan komunikasi bisa jadi 1001 macam. Mulai dari hambatan kekinian, seperti sinyal jelek, tidak ada pulsa, dan belum beli kuota, sampai alasan klasik seperti si pendengar yang menutup telinganya, atau karena indera pendengaran dan indera penglihatannya yang rusak.

Tetapi untuk menutup sharing saya malam hari ini saya akan sampaikan 3 hal yang membuat miskomunikasi ini terjadi.

  1. Asumsi yang salah. Kejadian 3:8. Adam dan Hawa mendengar langkah Tuhan dan mereka bersembunyi, ini bukan yang Tuhan ingin komunikasikan. Saya pernah mendengar pengajaran bahwa Israel tidak pernah terbunuh karena kesalahan mereka dalam perjalanan dari Mesir ke Gunung Sinai, tetapi setelah mereka menjawab Tuhan dengan kebenaran diri sendiri di kaki Gunung Sinai, mereka jatuh dalam dosa yang lebih fatal.
  2. Tidak mau mendengar. Yeremia 13:11. Allah sudah punya strategi terbaik untuk Anda, jangan hancurkan itu hanya karena Anda tidak mau mendengar (mengabaikan).
  3. Belum move on. Yesaya 43:16-19. Benar DIA Allah EbenHaezer, tetapi DIA juga Allah yang dinamis, DIA ingin membuat sesuatu yang baru, supaya Anda bisa berkata, ini Tuhan, ini bukan manusia.

​LOVE GOD, LOVE PEOPLE

Ini adalah suatu ungkapan yang terkenal di dunia kekristenan, terutama jika Anda mengikuti perkembangan musik rohani kontemporer di Indonesia. Karena ini adalah judul album live dari seorang pemimpin pujian terkenal di Indonesia, bernama Sidney Mohede. Tetapi apa sebenarnya “Love God, Love People” itu?
Saya rasa kita sama-sama setuju kalau ungkapan ini berasal dari Hukum yang Terutama yang dikatakan Yesus dalam:

Matius 22:37-40 (TB)  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Menarik sekali beberapa tahun yang lalu ketika saya menghadiri Hillsong Conference. Salah seorang pemimpin pujian dari Hillsong berkata demikian: “Kami percaya bahwa menyembah Tuhan itu bukan sekedar membuat album, mengadakan konser, dan menyanyikan lagu pujian-penyembahan. Tetapi kami sadar bahwa menyembah Tuhan berarti juga berdiri membela mereka yang lemah. Menyembah Tuhan berarti mencari solusi untuk ketidakadilan sosial. Menyembah Tuhan juga dapat berarti membantu mereka yang tidak seberuntung kita.” Saat itu saya sadar betapa Hillsong Church, di tengah segala pro-dan-kontra mengenai mereka, benar-benar menjadi garam dan terang di tengah-tengah komunitasnya.

Saya tahu beberapa gereja mungkin terinspirasi dari gereja lain untuk mulai membuat dan memroduksi penampilan, pertunjukkan, lagu-lagu, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Bagi saya membuat sebuah lagu itu seperti membuat sebuah skenario. Menariknya demikian juga dengan Kasih atau Cinta, itu adalah skenario besar. Apa yang saya maksudkan dengan skenario adalah kisahnya belum selesai sampai itu benar-benar selesai. Bahasa pop-urban nya, it aint over till its over. Bahwa kisah ini bukan akhir, bahkan hidup kita nanti di dalam Kerajaan Surga juga bukanlah akhir. Allah yang penuh Kasih itu punya skenario untuk setiap kita. (Yesaya 66:22  langit & bumi baru tinggal tetap, demikan keturunan orang percaya).

Baiklah untuk mempermudah, coba bayangkan dalam sebuah lagu, misalnya lagu yang lirik awalnya This is my desire Bagian refrain dari lagu ini, yang juga dijadikan judul oleh penciptanya, adalah Lord, I give you my heart (Mazmur 63:2  jiwaku haus, tubuhku rindu; Yesaya 55:8  tingginya jalanKU dari jalanmu). Jika saja heart itu tidak ada disana maka lagu itu skenarionya belum selesai. Percayalah, bahwa Allah belum selesai dalam kehidupanmu. Apapun kondisimu sekarang ini, Anda harus terbuka dan percaya bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia. Dalam Amsal 4:18 dikatakan: 
Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.

Ini adalah kisah mengenai kemuliaan yang terus meningkat, sampai saat ini kita masih baru dibukakan sampai di level Surga, tetapi saya percaya itu bukan akhirnya, ada sebuah misi yang Tuhan akan berikan kepada kita dalam kemuliaan yang gilang gemilang itu. Karena itulah Paulus bisa berkata penderitaan jaman sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan apa yang menanti.

Kembali pada ayat Utama kita. Saya mendapati bahwa adalah sesuatu yang dilematis ketika kita berbicara tentang Hukum Kasih. Ini terjadi terutama ketika kita masih mengenakan cara pikir Hukum Taurat. Hukum dalam kerangka pikir Hukum Taurat fokusnya adalah menghindari konsekuensi buruk dengan tidak melakukan apa yang dilarang. Dalam kerangka pikir Hukum Kasih – atau Hukum yang Terutama  ia bukannya menghindar namun malahan melakukan sesuatu dengan sengaja karena itu adalah prinsip dasar dari segalanya. 

God  Love  People  Love  God

Itulah konsep Yesus mengenai murid-murid atau pengikut-pengikutNYA, bukan SEGREGASI melainkan PENETRASI. Mungkin ini kata-kata yang terlihat rumit, tetapi sebenarnya tidak ketika kita membaca Matius 5:13-16.

Jadi bagaimana kita menyimpulkan hal ini? LOVE ALWAYS WORK. Kalimat dalam Bahasa Inggris ini memiliki makna ganda. Pertama, bahwa kamu tidak akan pernah salah jika memakai Bahasa Kasih (Galatia 5:22-23). Kedua cinta, kasih selalu tentang melakukan sesuatu, itu aktif dan bukannya pasif. Itulah mengapa dalam terjemahan Bahasa Inggris, setelah kisah tentang karya Allah dalam Yesus yang mengagumkan, diikuti oleh ACTS. Ini adalah kisah ketika kasih itu dipraktekkan. 

​A Poem from 33,000 feet

Saya ini penikmat saja 

Dalam tabung udara yang mampat 

Rasa dalam dada terhambat 

Siapa saya berhak mengatur rasa 
Saya bilang saya ini penikmat saja 

Tiada pernah hati ini beranjak pulang 

Dari imaji yang melayang dan berpetualang 

Hanya sapa pun enggan terhela 
Saya tegaskan sekali lagi, saya ini penikmat saja 
Entah dasawarsa berapa kukenal ini 

Namun selama hidup ia datang dan pergi 

Mungkin kini ku lebih mengerti

Dia ada di sebelah kiri 

Pikiran menampi rasa tak menyepi 

Kurasa inilah hidup untuk menikmati 

Hidupi saja lah.
DFW to HOU
18.06.2016

-JM-