Bertumbuh Jadi Baru

Sepanjang tahun ini Gembala kita mengambil tema “Bertumbuh” untuk GPdI Mahanaim Tegal. Suatu tema yang menantang di satu sisi, karena kita diharapkan untuk menunjukkan pertumbuhan, menjadi lebih besar. lebih matang, dan tentu saja salah satu karakteristik pertumbuhan yang sehat adalah berbuah!

Ketika menyiapkan apa yang akan saya sampaikan ke jemaat hari ini, yang terpikir di benak saya ada 2 hal. Pertama, tentu saja tentang pertumbuhan, namun yang kedua saya rasa juga tak kalah penting yaitu pembaruan. Keduanya kemudian menjadi fusi, dan lahirlah judul: “Bertumbuh Jadi Baru”.

Mengenai kedua hal ini saya rasa kita sudah sangat familiar. Pertumbuhan adalah perubahan dari kecil menjadi besar. Pembaruan adalah perubahan dari lama menjadi baru. Sederhana saja! Saya rasa definisi singkat barusan bisa membantu kita untuk membedakan keduanya.

Dalam Firman Tuhan sendiri jelas sekali Yesus meminta kita bertumbuh dan berbuah, seperti misalnya dalam perumpamaan di Lukas 13:6-9. Secara singkat, itu bercerita tentang pohon ara yang tumbuh di kebun anggur dari seorang pemilik kebun. Ketika ia mencari buah dari pohon itu, dia tidak menemukannya. Dia segera memerintahkan kepada pengurus kebun itu untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun itu menahan niat pemilik kebun ini, dengan berkata: “…biarkanlah dia tumbuh…, mungkin tahun depan ia berbuah…” (ayat 8-9).

Ada banyak interpretasi mengenai siapa pemilik kebun, siapa pengurus kebun, siapa yang dimaksud dengan kebun anggur, dan siapa yang dimaksud dengan pohon ara. Tetapi satu hal yang sangat jelas disitu adalah:

  1. Ada waktu dimana buah itu menjadi patokan penilaian.

Kita semua memiliki modal dalam hidup ini, waktu, tenaga, kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh apa yang kita miliki ini menjadi penilaian apakah kita berbuah atau tidak. Yohanes pembaptis pernah dengan keras menegur orang Farisi dan Saduki yang dating untuk dibaptis dengan perkataan: “…hasilkanlah buah yang sesuai…” Matius 3:9.

 

Sudahkah waktu, tenaga, kesehatan kita, kita gunakan untuk menghasilkan sesuatu bagi Tuhan. Anda mungkin berkata saya secara rutin membawa persembahan. Apakah Tuhan mau uang milik kita? Itu semua pada dasarnya milikNYA, karena IA pemilik segala sesuatu. Mazmur 95:4-5.

 

  1. Ketika pertumbuhan berarti kesempatan baru.

Ketika pengurus kebun berkata “…biarkanlah dia tumbuh…” itu bukan berarti pohon itu sudah selamat, akan ada masa dimana pemilik kebun itu akan datang untuk memeriksa apakah dari pohon itu dihasilkan buah. Banyak orang merasa kesempatan itu selalu ada, saya rasa kalau kita belajar dari apa yang disampaikan Gembala tentang Jemaat Filadelfia, pada Ibadah Raya minggu lalu, kita mengerti. Ada pintu atau jendela kesempatan yang akan ditutup. Jika kita hidup sekarang itu bukan karena Allah lalai, tetapi karena DIA memberi kesempatan untuk bertobat. 2Petrus 3:9.

 

Kita masih punya kesempatan sekarang untuk berbuah. Salah satu buah Roh di dalam Galatia 5:22 adalah kebaikan. Ini kesempatan kita, kesempatan untuk berbuat baik. Galatia 6:9-10.

Mengenai sesuatu yang baru, banyak orang berpikir itu artinya sama sekali baru. Tetapi dari perspektif pertumbuhan, saya melihat begini: sesuatu yang baru itu muncul saat yang lama bertumbuh jadi baru. Lihatlah pertumbuhan sebuah pohon, ketika ia bertunas dan masih kecil, orang tidak menghiraukannya. Tetapi jika selang beberapa waktu dan orang melihat batangnya yang besar, rantingnya, daunnya dan buahnya, bisa jadi mereka berkata bahwa itu pohon baru. Padahal sebenarnya itu adalah tunas pohon yang sama. Tetapi sekarang ia menjadi besar. karena ada pertumbuhan, ada sesuatu yang baru, yang menjadi nampak.

Anda mungkin berpikir saya sudah terlambat untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Tapi tahukah kita bahwa Allah kita adalah Allah dari segala sesuatu yang baru. Wahyu 21:5. Bagi saya karya salib adalah kesempatan baru, dan kita selalu bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang baru, ketika kita percaya pada salib itu. Pada suatu malam Allah memberikan kepada saya suatu gambaran jelas mengenai hal ini. IA menyediakan kesempatan baru bagi saya, dan tentu bagi Anda juga.

 

GodblesS

JEFF

Advertisements

Apakah Kita Sudah Sampai Disana?

Kita sudah merayakan Paskah, yang sebenarnya menjadi dasar dari keyakinan Kristen kita. Anda pasti masih ingat dengan ayat di Roma 10:9, bukan? Bahkan Paulus juga dalam pembelaannya di hadapan Agripa menyebutkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang menjadi inti berita dari Paulus sebagai rasul Kristus, dan bahkan nabi-nabi sebelum dia. Kisah Para Rasul 26:22-23. Tetapi apakah Paskah adalah puncak dari kekristenan kita? Apakah kita sudah sampai disana? Keberhasilan seorang Kristen adalah saat ia percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus?

Mengenai hitungan waktu kita mengenal hari, bulan dan tahun. Dalam perjalanan kekristenan kita kalau ibarat seorang pelari, kita ini sudah di ujung sebelum Hari Kedatangan Tuhan kali yang kedua. Tentu saja kita tidak mau kalah sebelum finis. Seorang pelari malahan mempercepat geraknya saat akan finis!

Menariknya di Alkitab kita diibaratkan pelari. 1Korintus 9:24. Dalam ayat ini Paulus menjelaskan mengenai suatu gelanggang pertandingan, dan dikatakan semua berlari. Kita semua ada dalam pertandingan.

Karena kita ada dalam satu gelanggang yang sama, kita ada dalam kondisi yang sama. Track-nya sama, jarak tempuhnya sama, dan tujuannya sama. Hanya saja sering kali kita saling membandingkan. Ah dia kan dari keluarga pelari, ah dia kan pakai sepatu terbaru, ah dia kan gen pemenang. Baca ini: Roma 8:37.

“Yang terpenting dari sebuah kesuksesan besar adalah kesuksesan kecil yang berulang.”

Maksudnya apa, kita tidak bisa berharap langsung menerima kemenangan besar. Namun kita harus bisa memenangkan serentetan kemenangan-kemenangan kecil. Yosua 12:7-24. Jadi dibandingkan engkau melihat apa yang belum engkau dapat (yang biasanya bikin engkau frustrasi), kenapa engkau tidak melihat apa yang sudah Tuhan letakkan dibawah kakimu (maksudnya apa yang sudah engkau menangkan). ARE YOU THERE YET? Not yet, but I will be there.

Ada cerita inspirasi yang mungkin bisa jadi kesaksian. Yang pertama kisah nyata, yang kedua kisah dari Alkitab. Dua-duanya namanya sama. Yes, you’re right ini bukan tentang Jeff. Tapi tentang orang yang paling dekat dengan saya. Namanya: “Joseph”. Joseph Sudana Minandar. Beliau memiliki latar belakang yang sederhana, kalau tidak salah hanya lulusan SMA. Tinggal di daerah sederhana, tetapi sekarang menjadi seseorang yang kalau tidak kenal dekat

dengan beliau pasti biasa aja, tapi bagi saya Luar biasa. Ada 2 titik dalam hidup yang bagi saya menentukan dimana beliau sekarang. Pertama ketika berusia 32 tahun, menjadi pimpinan SAB, dan kedua, di tahun 2004 ketika memutuskan meninggalkan Tegal atau meneruskannya.

Joseph yang kedua adalah Joseph Bar Jacob. Yusuf bin Yakub. Dalam Kejadian 39:2. Kita belajar mengenai bagaimana standar kesuksesan itu didefinisikan ulang. Ini yang saya rindu saat kita datang bukan sekedar beribadah, tapi mengalami revolusi mental. Perubahan pikiran, metanoia. Sehingga engkau bisa introspeksi, dan menata hidupmu ke depan dengan lebih baik lagi. Are we there yet? Not yet, but with God, I will be there.

PRAISE & WORSHIP NIGHT

Disepanjang bulan Maret, HOFers diajar mengenai ketaatan.

  • Apa yang diperlukan untuk taat?
  • Apa yang ditunjukkan oleh seseorang yang taat?
  • Bagaimana menjadi seorang yang taat?

Malam hari ini seharusnya saya berbicara tentang: DISIPLIN. Tetapi kemudian Ketua Youth mengatakan kepada saya bahwa hari ini adalah Malam Pujian & Penyembahan. Kebetulan juga diadakan di hari Sabtu dimana ada rangkaian Ibadah Paskah. Kemarin, hari Jumat, kita mengenang kematian Yesus, dan besok, hari Minggu, kita merayakan kebangkitanNYA!

Jadi di kepala saya ada 3 pemikiran, yaitu tentang: Disiplin, Paskah dan Pujian-Penyembahan. Menariknya 3 hal tersebut saling terkait! Mari ikuti penjelasan saya:

DISIPLIN

Disiplin itu datang dari ketaatan. Jika Anda bermasalah dengan disiplin diri, ada kemungkinan besar Anda sebenarnya juga bergumul dengan ketaatan. Mengenai ketaatan, Yesus memberi teladan sempurna tentang ketaatan penuh (sampai di kayu salib). Filipi 2:5-8. Kita juga belajar apa yang kemudian menjadi konsekuensi positif dari ketaatan. Filipi 2:9-11.

PASKAH

Pada saat peringatan kematian Yesus, Bapak Gembala menjelaskan tentang bagaimana ketaatan Yesus adalah penggenapan dari Paskah yang dirayakan dalam Perjanjian Lama. 1Korintus 5:7. Yesus melakukan ini semua untuk menutupi: (Yesaya 53:4-5)

  • Dosa kita
  • Kesengsaraan kita
  • Pemberontakan kita
  • Kejahatan kita

Kita membutuhkan IA, lebih dari DIA membutuhkan kita, tetapi tetap IA yang berkorban bagi kita.

  • DIA-lah gunung batu kita. Mazmur 18:32
  • DIA-lah sumber air hidup kita. Yohanes 4:14

DIA BEGITU BAIK. Oleh darahNYA:

  • Belenggu kita telah dipatahkan.
  • Kutuk dan maut juga telah dikalahkan.

Sehingga dengan penuh percaya diri kita bisa berkata dari 1Korintus 15:55!

PRAISE & WORSHIP

Pujian & Penyembahan adalah suatu respon dari sesuatu yang ditunjukkan pada kita. Kalau kita “out-of-topic” sebentar dari “pujian & penyembahan” sebagai istilah gerejawi. Kita menemukan bahwa seseorang akan memuji sesuatu atau seseorang karena prestasinya dan keindahannya. Kembali kepada Yesus:

  • Dia adalah Raja yang Hebat. Lukas 1:32.
  • DIA menyinarkan kemuliaan dan memiliki kuasa atas segalanya. Ibrani 1:3-4.

Kemudian kita menyembah, karena IA memiliki hal-hal yang diluar kemampuan kita, demikian kita juga menyembah karena kita tunduk (taat) padaNYA, dan kita sadar akan kemahakuasaan-NYA.

Ketika kita menyadari semua ini, kita bisa serahkan hidup kita sepenuhnya. Apakah ini memungkinkan? Sangat mungkin dengan Roh Kudus dalam kita. Roh Kudus akan beri damai bagi kita. Markus 13:10-11.

MASA PERSIAPAN

Saya rasa semua dari kita setuju bahwa untuk segala sesuatu kita butuh persiapan. Persiapan adalah suatu hal yang penting, bahkan krusial untuk sesuatu bisa berjalan dengan baik.

  • Orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan dengan memberi pendidikan yang baik.
  • Anak-anak muda mempersiapkan dirinya untuk masuk ke tingkatan yang lebih tinggi, dengan belajar, mengikuti pelatihan dan kelas-kelas khusus.
  • Lansia juga saya rasa, mempersiapkan diri bagaimana bisa mengakhiri “pertandingan” dengan baik, dan juga mewariskan hal-hal yang baik untuk generasi berikut.

Dalam dunia manajemen dikenal istilah POAC yang merupakan singkatan dari Planning (Persiapan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan), Controlling (Pengontrolan). Ini adalah tahapan dari pengelolaan organisasi. Demikian pentingnya persiapan sampai ada sebuah kutipan yang terkenal “By failing to prepare, then you are preparing to fail.”

Saya berharap ini kemudian menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Tentu saja “persiapan yang baik” yang saya maksud bukan kemudian menjadi alasan untuk kita menunda-nunda segala sesuatu dengan dalih “persiapan”. Ada satu ayat di Pengkhotbah 11:4-6 yang sebenarnya bisa mengajar kita untuk mulai bertindak, tentunya setelah melewati persiapan yang tidak bertele-tele.

Tentu saja rentang waktu persiapan dan juga apa saja yang harus dipersiapkan adalah dua hal yang harus diperhatikan juga. Karena bayangkan kalau waktunya tidak terbatas, maka bisa jadi kita kehilangan ketertarikan (interest) terhadap apa yang kita lakukan. Demikian juga jika kita tidak mengerti apa saja yang harus dipersiapkan maka kita akan merasa bingung, dan bisa jadi merasa kesia-siaan saja mempersiapkan sesuatu yang tidak jelas.

 

Inilah yang saya harapkan dapat kemudian menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani hidup ini, karena sebenarnya kita semua sedang hidup di masa persiapan! Persiapan apa? Menanti kedatangan Yesus kali kedua. Kemarin ada anak-anak SMA yang datang ke Kantor Gereja untuk menanyakan tentang perumpamaan yang Yesus sampaikan tentang Akhir Zaman (yang benar ternyata “Z” bukan “J”, silakan tanya Google kalau tidak percaya). Penjelasan saya yang pertama adalah meluruskan miskonsepsi  tentang “Akhir Zaman”. Saya rasa saya perlu ulangi untuk Anda yang sudah tahu, dan saya perlu beritahu untuk Anda yang belum tahu.

 

Kita percaya kehidupan manusia dibagi ke dalam 3 zaman:

  1. Zaman Bapa (dari Adam sampai dengan Abraham)
  2. Zaman Anak (dari Abraham sampai dengan kedatangan Yesus kali pertama)
  3. Zaman Roh Kudus (dari kedatangan Yesus yang pertama sampai dengan kedatangan Yesus yang kedua)

 

Sehingga kita semua yang hidup di zaman penanggalan Masehi adalah orang-orang Akhir Zaman. Tidak ada yang perlu ditakutkan mengenai itu. Malahan seharusnya kita bersyukur, karena tokoh-tokoh besar dalam Alkitab, yang hidup di Zaman Anak, membicarakan “orang-orang zaman now” ini.

  • Daud, dalam Mazmur 32:1-2. Hal ini dikutip Paulus di Roma 4, dan dijelaskan lebih detail di Roma 8.
  • Yeremia, dalam Yeremia 31:33-34. Suatu kaum Israel “baru”, karena Israel secara harafiah bisa diartikan “kekuatan Allah” (yi-sarah-el).
  • Yesaya, dalam Yesaya 44:3. Tentang curahan air atas tanah kering, yang melambangkan Roh Allah dicurahkan atas manusia.

 

Jadi kita sebagai orang yang lahir di Akhir Zaman, harusnya punya sikap yang gembira, bukannya berkerut dan takut, setiap kali membahas mengenai Akhir Zaman. Apa yang tertulis di Wahyu itu bukan untuk menakut-nakuti kita. Coba baca bagian awalnya di Wahyu 1:1. Ini adalah sesuatu yang memang untuk ditunjukkan kepada kita hamba-hamba Allah. Atau supaya lebih bisa Anda mengerti, ini adalah pemberitahuan seorang kekasih (Roma 9:25) kepada calon pasangannya/tunangannya (2Korintus 11:2). Ini adalah kabar baik seharusnya Anda bersukacita!

 

Tetapi di saat yang sama juga harusnya Anda bersiap. Menarik sekali apa yang pernah disampaikan Ps.Jose Carol tentang Gereja Tuhan. Suatu saat dia berkata demikian, bahwa Gereja Tuhan itu seperti mempelai perempuan yang menantikan mempelai prianya. Apa yang harus dilakukan seseorang yang menantikan pasangannya? Apalagi dia tahu bahwa sebenarnya tidak berlayak untuk mendapat mempelai pria tersebut (lihat @jeffminandar.com, search: “Amazing Love”). Tentu saja mempelai perempuan itu akan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

 

Tentang persiapan, kita bisa melihat perbandingan dari apa yang dilakukan oleh 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana di Matius 25. Mereka yang bodoh merasa cukup, sementara yang bijaksana mereka merasa ada yang kurang saat mereka tidak membawa lebih.

 

Saya harap tabel dibawah ini membantu Anda untuk mengambil keputusan pada Ibadah kita kali ini:

 

MASA PERSIAPAN
DURASI YANG HARUS DISIAPKAN
Bila memahami ini, kita bisa benar-benar mempersiapkan, namun jika tidak tahu rencananya bisa kehilangan semangat.

(Mazmur 90:12, Galatia 6:9)

 

Bila mengerti bisa mempersiapkan dengan lengkap, dengan sempurna, namun kebodohan bisa membuat bingung dan melakukan yang sia-sia.

(Lukas 12:18, Pengkhotbah 5:10, 2Petrus 3:3-4)

Sejarah berkata ini waktu yang lama, namun Alkitab berkata waktunya tidak lama lagi.

(Wahyu 12:12)

 

Persiapkan kesetiaan, komitmen, keseriusan, iman percaya, dan urapan kekudusan (minyak).

(Lukas 19:17, Matius 24:46, Lukas 18:8, Matius 25:4)

Yesus pernah sampaikan ini.

(Matius 24:3-51)

 

Yesus punya ekspektasi yang DIA nyatakan.

(Wahyu 12:14)

 

Apa pilihan kita di masa persiapan ini? Waktu diberikan kepada kita sama, tidak lebih, tidak kurang, pilihannya apakah kita akan “menghabiskan waktu” atau “mengisi waktu” sehingga kita menjadi benar-benar siap.

 

MERAK VS GAGAK

Mungkin Anda semua pernah mendengar kisah tentang Merak dan Gagak. Bagi yang belum pernah mendengarnya, kira-kira kisahnya seperti ini: Alkisah ada seekor gagak yang seluruh bulunya berwarna hitam. Pada suatu hari ketika ia sedang hinggap di sebuah pohon, matanya melihat seekor angsa yang seluruh warna bulunya putih. Dalam hatinya gagak ini berkata, betapa senangnya memiliki bulu seputih itu, tentu saja angsa itu lebih bahagia dari diriku yang hitam ini. Ketika ada kesempatan untuk terbang mendekati angsa itu, gagak itu berkata, betapa bahagianya engkau angsa dengan bulumu yang putih bersih itu.

Namun tanpa disangka angsa itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat kakatua yang memiliki warna putih dan tiga warna cerah lain di bulunya. Gagak pun terbang dan berusaha mencari kakatua yang berwarna-warni. Ketika ia menemukan kakatua itu, ia mengajukan perkataan yang sama, betapa bahagianya kakatua dengan bulu yang berwarna-warni. Kakatua itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat merak yang punya warna lebih banyak dari aku, dan mampu mengembangkan bulu-bulunya dengan begitu indah.

Kakatua terbang kembali dan mencari dimana sang merak berada. Agak sulit mencarinya, tetapi kemudian ia melihat seekor merak, di sebuah kandang, dikelilingi orang-orang yang tanpa henti mengagumi warna-warni tubuhnya. Gagak berkata tentu ini dia yang paling berbahagia. Ketika kesempatan itu tiba, gagak terbang mendekat ke dekat kendang merak itu, dan mengajukan perkataan yang sama seperti ketika ia bertemu angsa dan kakatua. Namun apa jawab merak? Merak menjawab, betul aku senang dengan warna-warni buluku dan perhatian yang diberikan kepadaku, tetapi aku terkurung di kendang ini sepanjang hari. Ketika aku melihat ke sekitarku, hanya burung gagak saja yang bisa terbang bebas, tanpa perlu dimasukkan ke kandang. Aku rasa aku akan lebih bahagia dengan kebebasan seperti itu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, membandingkan adalah suatu “permainan” di pikiran yang menyenangkan, itu tidak selamanya salah, namun saya ingin menekankan satu hal: bahwa menbanding-bandingkan bisa menjerumuskan! Saya akan coba bahas 3 pernyataan ini.

Pertama, membandingkan sesuatu adalah hal yang menyenangkan, bahkan saya rasa hampir semua kita pernah memainkan permainan membandingkan, contohnya permainan membandingkan 2 gambar dan mencari perbedaan. Sepertinya membandingkan itu menjadi respon alamiah kita sebagai manusia. Kita membandingkan ketika ada pergantian presiden, atau kalau di lingkup gereja, kita membandingkan ketika ada pergantian kepala suatu bidang, atau fasilitator, atau koordinator. Atau mungkin ada juga yang membandingkan ketika ada pergantian pasangan? Tentu saja ini untuk yang belum menikah!

Kedua, membandingkan tidak selamanya salah, atau berkonotasi negatif. Saya teringat ada ayat-ayat dimana dengan membandingkan itu berarti:

  • Suatu peringatan atau teguran. Wahyu 2:4.
  • Suatu dorongan untuk memacu kita melakukan sesuatu yang lebih baik. Lukas 21:4, 2Korintus 8:1-7.
  • Suatu pembuktian superioritas (betapa jauh lebih luarbiasanya) Allah. Dikatakan IA lebih dari bapa di dunia (Matius 7:11), lebih dari malaikat (Ibrani 1:5), dan lebih dari Musa (Ibrani 3:3).

Namun ini yang menjadi penekanan saya hari ini, bahwa membandingkan bisa kemudian menjadi menjerumuskan. Seperti di poin pertama, adalah hal yang alamiah ketika manusia membandingkan. Tetapi waspadailah bahwa ada bahaya yang muncul ketika kita membandingkan, karena itu bisa mengakibatkan:

  • IRI HATI, yang kemudian melahirkan kejahatan. Kejadian 4:5-9. Ada kisah-kisah yang kurang lebih sama di Kejadian 37 dan di 1Samuel 18.
  • TIDAK MENGUCAP SYUKUR. Ini adalah sesuatu yang harus kita lawan hari demi hari, tentu saja kita tidak mau mengulangi kisah di Bilangan 11, saat orang Israel membanding-bandingkan (ayat 4-6) dan akhirnya menjadi rakus, lalu terkena murka Allah (ayat 33).
  • MENJADI RAKUS, TAMAK, yang pada akhirnya seperti poin “Iri Hati” akan menimbulkan kejahatan yang lain lagi. Rakus akan kepemilikan membuat Ahab, dengan bantuan Izebel, menyingkirkan Nabot. 1Raja-raja 21. Rakus akan kekayaan membuat Ananias dan Safira bersepakat untuk menipu. Kisah Para Rasul 5. Karena cinta akan uang tidak akan memberi kepuasan (Pengkhotbah 5:10), malahan menjadi akar segala kejahatan (1Timotius 6:10). Saya karena hal ini (kerakusan, ketamakan), kemudian perjudian menjadi masalah besar.

Saya akan kehabisan waktu untuk bicara tentang membandingkan dalam hal tahta dan cinta, yang juga akan membawa kepada “berbagai-bagai duka”. Mungkin 3 hal ini yang ingin saya ingatkan kepada Anda:

  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan HARTA, Anda dengan orang lain, ingatlah harta di Surga. Matius 6:20.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan TAHTA, Anda dengan orang lain, ingatlah seorang pemimpin adalah pelayan. Lukas 22:26.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan CINTA, Anda dengan orang lain, ingatlah bahwa hendaknya kita hidup kudus dan terhormat. 1Tesalonika 4:3-5.

STRONGER

Ini adalah tema Pemuda untuk 2018 dan juga selaras dengan tema GPdI Tiberias Pare: Never Give Up. Kalau Anda membaca ayat referensi untuk tema kita, dalam terjemahan Bahasa Inggris dituliskan “be strong”, kalau Anda suka belajar Bahasa, dalam Bahasa aslinya dipakai kata “chazaq” yang dalam Bahasa Inggris bisa diterjemahkan: to strengthen, prevail, to be firm. Tiga pengertian ini mewakili karakter dari seseorang yang kuat. Menariknya ini juga adalah resep untuk kesuksesan.

“When somene becomes stronger, he/she has more chance of success.”

Coba saja lihat, beberapa contohnya, di sepakbola, kalau ada tim yang memiliki pertahanan yang kuat (sebut saja catenaccio) maka mereka menjadi tim yang lebih kuat. Atau jika suatu tim sepakbola memiliki penyerangan yang lebih kuat/mendominasi (sebut saja tiki-taka) maka mereka menjadi lebih kuat, dan membawa pada kesuksesan. Hal yang sama dalam perusahaan, modal yang kuat, manajemen yang kuat, membuat suatu perusahaan lebih kuat dan lebih sukses. Contoh terakhir dalam hidup, orang yang punya karakter/kepribadian kuat, yang punya iman/percaya lebih kuat, menunjukkan kemungkinan sukses lebih besar.

Karena ini adalah perayaan Natal dan Tahun Baru, tentu saya ingin Anda juga mengingat Kisah Natal, dimana ada pribadi-pribadi yang kuat membawa kesuksesan dalam perjalanan hidup mereka.

  1. Para Majus. Matius 2:2, 10-11, 16.
  2. Mereka datang jauh dari timur.
  3. Datang sampai Yesus sudah tinggal di rumah.
  4. Sepulang mereka dari tanah Israel terjadi pembunuhan anak-anak usia 2 tahun ke bawah.

Sehingga kita bisa memberi estimasi bahwa setidaknya mereka menghabiskan 2 tahun atau lebih dalam perjalanan, yang membawa kepada keberhasilan dan sukacita.

  1. Orang tua Yesus. Matius 1:24-25, Lukas 1:38.
  2. Yusuf harus menentang perasaannya dan mengambil keputusan besar.
  3. Yusuf harus menahan dirinya sesudah pernikahan.
  4. Maria merendahkan dirinya dan menempatkan diri sebagai hamba.
  5. Demikian mereka mengambil resiko yang besar.

Keduanya menjadi bagian dari sejarah besar bagi dunia, kedatangan Juruselamat!

Jika kita kembali ke kisah Yosua, ia diberitahu oleh Allah untuk menjadi kuat dan teguh hati sebanyak 3 kali dalam 4 ayat yang berurutan. Sehingga kita bisa mulai merenungkan, kalau Tuhan sampai seperti itu memberi Firman kepada Yosua, tentu saja itu adalah kebenaran! 2Samuel 7:28.

Apa yang dialami Yosua (dalam Yosua pasal 1) bisa menjadi pelajaran bagi kita di tahun yang baru ini.

–          Dalam waktu kehilangan/kesusahan (ayat 2), engkau harus menjadi lebih kuat, maksudnya dengan tidak mudah putus asa, atau menjadi tawar hati (ayat 9).

–          Dalam waktu dimana kita menghadapi target yang besar (ayat 4), kita harus menjadi lebih kuat, maksudnya adalah dengan tetap hidup lurus dan berkenan. Bagaimana caranya? Kontrol (cek/ricek) apa yang kita lakukan (ayat 7) dan terus taruh pedoman hidup berkenan itu di pikIran kita (ayat 8).

–          Dalam waktu dimana kita mengetahui atau mendapat janji (untuk kepemilikan seperti di ayat 3 atau kemenangan seperti di ayat 5), kita harus menjadi lebih kuat, dengan memimpin diri kita dan orang-orang di sekitar kita untuk berkomitmen (disiplin, ayat 6).

BAHASA KASIH YESUS

1Korintus 13:13. Ayat ini akan menjadi dasar pemahaman bahwa kasih punya kekuatan yang sungguh luar biasa, dan karena pendahuluan saya akan panjang, maka saya beri ayat dasar ini terlebih dahulu.

Kasih adalah suatu kata yang tidak akan habis dibahas sampai kapan pun. Kita banyak mendefinisikan kasih, dan bahkan setiap orang di tempat ini, masing-masing dari Anda pasti memiliki definisi kasih tersendiri. “Kasih itu berarti uang” mungkin beberapa dari Anda berpikir seperti itu, karena setiap ekspresi kasih membutuhkan uang, baik ketika Anda sendiri, maupun berkeluarga. “Kasih itu berarti perasaan” mungkin juga ada beberapa dari Anda berpikir demikian, karena tidak mungkin kalau tidak ada “rasa di dalam dada” kemudian kita mengasihi.

Orangtua bisa mendefinisikan kasih dari seorang anak adalah ketika anaknya berprestasi, kemudian anaknya itu merawat mereka di masa tuanya. Sementara seorang anak bisa saja mendefinisikan kasih sebagai pemenuhan biaya kehidupan orang tuanya saja. Atau bentuk hubungan yang lain, yaitu pada hubungan antara suami-dengan-istri di rumah tangga. Seorang suami mungkin mendefinisikan kasihnya dengan 2 kata: menikahi dan menafkahi. Tetapi seorang istri membutuhkan sentuhan lahir dan batin!  Saya tidak sedang menghakimi mengenai mana yang benar atau salah disini. Tetapi menarik bahwa ada banyak cara “membahasakan” atau mengungkapkan kasih itu, dari sekedar konsep, menjadi tindakan nyata.

Ada seorang penulis buku (Gary Chapman) yang mengungkapkan bahwa sebenarnya bahasa kasih itu bisa diungkapkan melalui 5 jenis tindakan. Menariknya pula setiap orang punya kecenderungan lebih kuat ke satu atau dua jenis bahasa kasih tersebut. Berikut jenis-jenisnya:

  1. Tindakan melayani.
  2. ‎Kata-kata peneguhan.
  3. ‎Sentuhan.
  4. ‎Waktu berkualitas.
  5. ‎Pemberian.

 

Seseorang bisa saja mengharapkan jenis 1 & 2 tetapi yang ia dapatkan hanyalah jenis 5. Atau seseorang lain melakukan 2&3 dan ia berpikir ia sudah mengasihi pasangannya yang menunjukkan kasih dengan jenis 1&4. Ekspektasi terhadap seseorang bisa membuat Anda terpuaskan atau kecewa. Tetapi kalaupun orang yang Anda kasihi tidak mengerti bahasa kasih yang Anda harapkan itu bukan akhir dunia. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  1. Utarakan keinginan Anda.
  2. ‎Ingatkan, tetapi tidak berlebihan.
  3. ‎Tanyakan/temukan bahasa kasih orang yang Anda kasihi.
  4. ‎Usahakan untuk memberi bahasa kasih yang diharapkan.
  5. ‎Berdoa untuk perubahan.

 

Kelima Bahasa kasih ini begitu menarik, tetapi sebenarnya ini bukanlah teori baru, karena Yesus sudah mempraktekkannya ribuan tahun yang lalu. Gary Chapman sendiri adalah seorang pendeta di salah satu gereja baptis yang berlokasi di North Carolina, Amerika Serikat.

Mari saya tunjukkan ayat-ayatnya:

  1. Tindakan melayani.

Yohanes 13:1b, 4. Yesus melayani dengan kesadaran penuh bahwa IA “lebih” dari semua murid-muridNYA. Pada kenyataanNYA, DIA lah pemegang kuasa di bumi dan di Surga, tetapi IA memilih untuk melayani. Anda hanya bisa disebut pelayan sejati ketika Anda sebenarnya punya “kuasa” untuk tidak melakukannya, tetapi Anda tetap melakukannya karena kerinduan untuk menunjukkan kasih. Galatia 2:20.

 

  1. ‎Kata-kata peneguhan.

Matius 28:20. Yesus tidak pernah meninggalkan kita, bahkan IA berjanji akan menyertai kita senantiasa, dan itu dinyatakanNYA dalam banyak kesempatan. Kita tahu “janji penyertaan” itu adalah pribadi Roh Kudus yang akan selalu ada, sampai akhir nanti kita bersekutu dengan Yesus dalam kekekalan. Saya tergoda untuk menjelaskan ayat-ayat mengenai janji kekekalan (misalnya: Wahyu 22:3-5), tetapi mengingat waktu, saya tidak akan lakukan hal itu. Tetapi ingatlah sepanjang Perjanjian Lama Allah juga selalu meneguhkan umatNYA dengan kata-kata: “AKU menyertai kamu,” atau, “AKU tidak akan meninggalkan kamu,” atau frase yang terkenal: “Jangan takut!” (Kejadian 26:3, Ulangan 4:31, Yesaya 41:10).

 

  1. ‎Sentuhan.

Markus 10:16. Yesus dengan kasihNYA yang besar memeluk dan memberkati anak-anak yang datang kepadaNYA. Alkitab tidak mencatat bahwa Yesus memiliki kekasih atau pun pernah masuk dalam jenjang pernikahan kemudian memiliki anak. Tetapi ini tidak menghalangiNYA untuk menunjukkan kasih dengan sentuhan pribadi. IA pun membiarkan salah satu muridNYA, Yohanes, untuk menyentuh diriNYA dan menunjukkan kasih melalui bersentuhan. Yohanes 13:23.

 

  1. ‎Waktu berkualitas.

Markus 6:31. Yesus mengambil waktu untuk beristirahat dan berbincang bersama dengan murid-muridNYA. Fokus Yesus supaya murid-muridNYA belajar sebanyak mungkin dari 3,5 tahun kebersamaanNYA dengan mereka, membuat hal ini (maksudnya waktu Yesus berbincang pribadi dengan murid-muridNYA), tentu terjadi berulangkali dan kita tahu tidak semua tertulis dalam Injil. Yohanes 21:25.

 

  1. ‎Pemberian.

Lukas 9:13. Bercerita tentang bagaimana Yesus menunjukkan kasihNYA dengan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kisah di Lukas melibatkan 5000 orang laki-laki, ada kisah yang hampir sama di Markus 8:2-3, namun melibatkan 4000 orang laki-laki. Pada kisah di Markus dituliskan bahwa, “Yesus tergerak oleh belas kasihan”.

 

Saya akan menutup penyampaian saya ini dengan sebuah kisah dari Yohanes 11. Ini adalah salah satu kisah klasik dalam Alkitab yang saya yakin Anda, yang dibesarkan dalam lingkungan “Sekolah Minggu”, sudah mendengarnya sejak masih kecil. Secara singkat kisahnya adalah mengenai Keluarga di Betania, yaitu Keluarga yang dekat dengan Yesus. Ini dibuktikan dengan singgahnya Yesus ke rumah mereka untuk memuridkan mereka dengan pengajaran-pengajaran. Kalau Anda penasaran segera saja buka Lukas 10:38-42. Tetapi yang menarik bagi saya adalah bagaimana Keluarga ini meminta Yesus untuk datang dan melawat Lazarus adik laki-laki mereka.

 

Dalam Yohanes 11:3 mereka meminta Yesus untuk datang karena “…dia, yang Engkau kasihi, sakit.” Ketika saya membaca kalimat ini, saya berpikir, mereka benar-benar punya ekspektasi besar untuk Yesus segera datang, karena mereka berpikir, bahwa Yesus pasti ingin membuktikan kasihNYA yang besar terhadap Keluarga ini secara umum, atau Lazarus secara khusus. Tetapi sama seperti kisah-kisah dalam Injil yang lain, Yesus menunjukkan keillahianNYA, dan kita tahu cara pikir Tuhan tidak terjangkau oleh cara pikir manusia. Mazmur 139:17.

 

Apakah Yesus mengasihi Maria, Marta, dan Lazarus? Saya tidak meragukannya. Tetapi Bahasa kasih yang Tuhan tunjukkan kepada mereka berbeda, dengan tujuan yang berbeda. Yohanes 11:4. Bukankah seringkali kita mengharapkan Allah menunjukkan kasihNYA kepada kita dengan cara pikir kita sendiri. Terkadang kita marah dengan tekanan, kesulitan, dan pengalaman di lembah. Mazmur 23:4-5. Padahal disitu IA sedang membisikkan kalimat yang indah: “Aku mengasihimu anakku”.

 

GodblesS

JEFF

 

 

DAMAI BAGI DUNIA (Lukas 2:14)

Munculnya malaikat kepada para gembala di padang daerah Betlehem selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kisah Natal. Kisah ini pun memberi pengharapan bagi kita, bahwa kehadiran Yesus tidak dibatasi oleh status sosial dan perbedaan-perbedaan lain. Kita tahu kabar kelahiran “Raja Orang Yahudi” ini didengar mulai dari istana, sampai kepada padang belantara. Kepada yang kaya sampai kepada yang sederhana.

Menariknya ada suatu nyanyian Bala Tentara Sorga yang begitu mencengangkan tetapi juga membawa pesan pengharapan yang lain lagi. Mereka bernyanyi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14.

“Damai sejahtera di bumi” adalah sebuah pesan pengharapan. Mengapa? Karena bumi dan dunia manusia yang menempatinya ada dalam kondisi yang kacau. Bumi butuh intervensi Surga untuk merestorasinya, mengembalikannya pada tujuan awal ia diciptakan. Intervensi, atau “campur tangan”,  Illahi membawa kepada sesuatu yang lebih baik. Suatu masa pernah ada dimana manusia belum diciptakan, dan bumi belum berbentuk (kacau). Kejadian 1:2. Namun intervensi Illahi hadir, minggu penciptaan, menjadikan yang belum berbentuk, kosong, dan gelap gulita, kemudian memiliki bentuk, berisi, dan diwarnai terang.

Kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang terhadap bumi kita, kita bisa lihat betapa eksploitasi bumi dan penggunaan energi yang berlebihan membawa pada kehancuran perlahan pada bumi. Manusia yang menempati bumi mengambil peran didalamnya dengan menciptakan dunia penuh dengan kegelapan dan kekosongan. Kegelapan bukan karena tidak ada penerangan, tetapi kegelapan hati. Demikian juga, kekosongan bukan karena tidak ada yang dibangun, tetapi kekosongan arti.

Dunia manusia yang kacau ini bukan produk dari jaman modern ini saja. Kehancuran ini sudah dimulai sejak manusia jatuh kedalam dosa. Jatuhnya manusia, menariknya, ditandai dengan hilangnya damai sejahtera dalam diri manusia. Kejadian 3:8. Mereka yang biasa berinteraksi dengan Allah, kini menjauhi DIA. Seringkali kita juga memiliki pola pikir, bahwa Allah itu adalah Allah yang pemarah, sehingga kita memilih “menjaga jarak” dengan DIA, supaya setidaknya “merasa lebih damai”. Namun ini semu, semakin menjauh kita dari Allah, semakin kita kehilangan sumber damai itu. Inilah yang berusaha direstorasi dengan kedatangan Yesus ke dunia. Kehadiran Yesus membuktikan Tuhan bukanlah Allah yang pemarah.

Mengenai Tuhan bukanlah Allah yang pemarah kita sebenarnya bisa temukan dari ayat-ayat di Kejadian 3 tadi:

  • Saat manusia bersembunyi, Allah berinisiatif mencari. Kejadian 3:9.
  • Saat manusia bertelanjang, Allah menutupinya dengan mengorbankan hewan. Kejadian 3:21.

Korban inilah yang kemudian digenapi, juga oleh kehadiran Yesus ke bumi. Itulah kenapa Yesus juga disebut Anak Domba Allah. Karena Allah memperdamaikan manusia dengan curahan darah Yesus di atas kayu salib, yang dimulai dengan Natal: kelahiran Sang Damai. Ini dilakukannya bahkan saat manusia menjauhi dan memusuhiNYA. Kolose 1:20-22.

Sang Damai itu membawa Damai sejahtera yang sejati. Ini tidak sama dengan damai sejahtera yang dunia tawarkan, karena ada tertulis di Yesaya 59:8 tentang manusia yang tidak mengenal damai. Mereka bicara tentang damai tetapi menerapkan ketidakadilan dan menempuh jalan yang tidak lurus. Tetapi Damai Sejahtera Illahi itu menjadi bagian mereka yang berkenan kepada Allah, ini yang menjadi kerinduan Allah. Bandingkan kebalikannya di Yesaya 48:22.

Apa yang dikatakan Yesus, Sang Damai yang lahir ke dunia, ini? Yohanes 14:27. Damai sejahtera diberikan kepada kita, sama seperti yang disampaikan malaikat ±33 tahun sebelum perkataan di ayat ini diucapkan Yesus. Namun menarik, Yesus mengulang kembali tentang damai sejahtera ini dengan berkata: “Damai SejahteraKU kuberikan bagimu…” Yesus mengatakan ini di akhir-akhir masa hidupnya di dunia, IA meninggalkan warisan yang begitu berharga, yaitu Damai Sejahtera Illahi.

Lalu mengapa IA menyebutkannya sebanyak 2 kali? Ada komentator Alkitab yang berkata bahwa pengulangan ini artinya damai sejahtera yang penuh, yang utuh. Dalam budaya Ibrani kata “shalom”, yang dalam ayat diatas dipakai kata “eirene” (karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani), itu berarti damai yang penuh, utuh, lengkap. Sehingga saya melihat inilah kepenuhan damai sejahtera itu, bahwa kita diperdamaikan dengan Allah di Surga, atas kesalahan-kesalahan kita, demikian kita juga diminta menjaga damai diantara sesama manusia.

Seperti yang saya sempat sebutkan diatas Yesus menyampaikan tentang damai sejahtera ini di depan murid-muridNYA, supaya mereka, dan kita semua yang belakangan menjadi murid Yesus terus ada dalam damai dengan sesama kita, bukan saja yang mengasihi kita, bahkan yang memusuhi kita (Lukas 6:27). Pada akhirnya damai sepenuh, yaitu damai dengan Allah dan damai dengan sesama ini, sejalan dengan Hukum Terutama yang Yesus juga sampaikan: Kasihilah Tuhan Allahmu dan Kasihilah sesamamu. Matius 22:37-40.

 

GodblesS

JEFF

 

AMAZING LOVE

Sesuatu yang “amazing” adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang “wow” dan tidak terpikirkan atau tidak terduga. Maafkan saya kalau saya tidak mengambil referensi dari kamus, tetapi saya ingin menangkap faktor “wow” dari kata asing ini.

Bagi Bapak Ibu yang angkatan G30S/PKI keatas (maksudnya yang sudah lahir sebelum tahun 1965) tentu mengenal lagu “Amazing Grace” atau yang diterjemahkan menjadi “Anugerah Besar” atau “Anugerah Heran”. Faktor yang mengherankan ini terbaca dari liriknya, sesuatu yang tidak semestinya dimiliki, namun kemudian diberikan. Wow!

Untuk saudara-saudara angkatan Kerusuhan 1998 kebawah (maksudnya yang baru lahir 1998 atau sesudahnya) tentu mengenal film “Amazing Spiderman”, sang manusia laba-laba, yang menjadi pahlawan fiksi di kota New York. Apa yang mengherankan? Tentu saja kemampuannya yang seperti laba-laba. Wow!

Setiap Minggu kita berkumpul dan merayakan juruselamat kita Yesus Kristus. Ini bukan sekedar hari yang kita rayakan karena rutinitas. Tetapi momen dimana kita mengingat bahwa ada “Amazing Love” yang menjadi manusia. Kemudian hal ini membuat kita mampu memiliki kasih yang mengherankan, kepada sesama dan kepada Tuhan.

Bulan Februari 2017 saya sempat bicara kepada rekan-rekan HOF Mahanaim mengenai cinta, dan membahas bahwa: Hidup ini adalah gambaran tentang “G-TO-G”. Started with GOD and ended with GOD. Jadi ada siklus seperti ini:

“GOD –> Love –> ME –> Love –> OTHER –> Love –> GOD”

Jadi hidup kita berawal dari Tuhan, ujungnya juga kepada Tuhan, sehingga tidak ada yang dapat kita banggakan, selain kasih yang datang dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan.

Dengan dasar ini kita masuk kedalam ayat utama kita: Matius 9:13.

Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

 

Ayat ini sebenarnya dikutip dari Hosea 6:6 yang saya akan saya bahas secara paralel. Jadi kalau Anda bisa buka kedua ayat tersebut dan ikut membandingkan. Kata “kukehendaki” pada ayat di Matius, pada ayat di Hosea menggunakan kata “menyukai”. Kata “belas kasihan” yang pada Perjanjian Baru hanya terbatas pada kata itu. Pada Perjanjian Lama dipakai kata Ibrani “chesed atau hesed” yang artinya bisa: kebaikan, kesetiaan, anugerah, kasih dan belas kasihan. Frase “Aku datang…” menunjukkan alasan kedatangan Yesus, yang adalah Allah, yaitu untuk memanggil orang berdosa. DIA datang bukan untuk orang-orang benar namun bagi mereka yang terhilang. Lukas 15:1-32.

 

Kisah seperti ini menimbulkan kesenjangan yang begitu lebar, bahkan irasional (lihat saja ketiga cerita di Lukas 15). Bagaimana mungkin “Yang Mulia” mau menjadi sama dengan “yang hina”? Bagaimana mungkin yang “kaya” menanggalkan statusnya untuk menjadi “miskin”? Bagaimana mungkin “yang tidak bersalah” mencari, dan setelah mendapatkan, mengampuni “yang bersalah”? Bagaimana mungkin yang ganteng/cantik, menikahi yang “jelek dan jorok”?

 

Anda mungkin berkata ini cuma kisah yang ada di sinetron atau di layar lebar. Tetapi kisah seperti itu sebenarnya tertulis di Alkitab mengenai Nabi Hosea. Saya pernah menyampaikan hal ini beberapa tahun yang lalu di GPdI Mahanaim Tegal, Anda bisa mengakses semua catatan khotbah yang disampaikan di GPdI Mahanaim dari tahun 2014 di www.gpdimahanaim-tegal.org.

Secara singkat apa yang tertulis di Hosea adalah definisi “Amazing Love” itu. Mari kita mulai dari Hosea 1:2 dimana Hosea sebagai nabi Tuhan (yang hidup seangkatan dengan Yesaya) mendapat Firman untuk menikahi seorang perempuan sundal, sebagai perlambang kasih Tuhan (arti nama Hosea sama dengan Yosua, Yesus) kepada suatu negeri yang “membelakangi Tuhan”. Saya berharap Anda tidak mendapat ayat ini sebagai ayat emas Anda tahun ini.

Tetapi kita bisa lihat dari kisah bagaimana Allah memiliki Kasih yang heran, yang Anda tidak pernah bisa pikirkan. Seperti Hosea, Allah berkomitmen untuk “menikahi” Gereja Tuhan (yang dalam Perjanjian Baru sering dilambangkan sebagai perempuan). Siapa dari kita yang tidak hina, miskin, bersalah, jelek dan jorok di hadapan Tuhan. Tapi Kasih itu begitu besar IA berkomitmen untuk menyelamatkan manusia yang kemudian digenapi melalui Yesus. Bahkan seperti Hosea yang diminta memperanakkan keturunan lewat perempuan sundal, saya melihat hal ini sebagai suatu investasi yang dilakukan Hosea. Demikian juga Tuhan, bukankah IA Tuan yang menginvestasikan talenta-talenta luar biasa pada kita (Matius 25:14-30)? Bukankah IA Bapa yang memberikan sebagian hartanya untuk si bungsu, yang kemudian menghabiskannya untuk bersundal (Lukas 15:11-32)? Apa yang jadi respon kita sekarang?

Perempuan sundal ini, yang bernama Gomer, adalah gambaran kita bukan? IA mencintai kita, bahkan saat kita masih bersalah. Jika itu saja belum cukup dalam Hosea 3:1-3 dituliskan mengenai bagaimana Hosea mencintai kembali ia yang bersalah, ia yang berpaling, ia yang berdosa, bahkan menebus! Ini berbicara tentang korban. Apa respon yang Allah harapkan? Supaya kita mencari DIA, karena “gementar kepada Tuhan dan kepada kebaikanNYA” atau pada KasihNYA yang begitu heran. Hosea 3:5.

Seorang ibu gembala dari sebuah gereja besar di Hillsong Australia pernah mengatakan kutipan yang saya rasa sangat tepat dengan tema Amazing Love:

The beauty of the gospel, yet it is the mistery for many, God the Father choose not to abandon us. This is amazing!

Kasih terbesar ini, kabar baik ini sudah dijanjikan sejak dahulu kala (Roma 1:2), digenapi dalam Yesus, dan hari ini kita rayakan dengan ucapan syukur.

Tim musik dari gereja ini, Hillsong Worship, pernah menyanyikan lagu yang menggambarkan “Amazing Love” judulnya “Love On The Line”:

You put Your love on the line

(KAU ambil resiko dengan memberi Kasih)

To bear the weight of sin that was mine

(Untuk menanggung beban dosaku)

Washing my rivers of wrongs

(Membasuh kesalahanku yang seperti sungai)

Into the sea of Your infinite love

(Masuk kedalam KasihMU yang seluas samudera)

 

With arms held high

(Dengan tanganku terangkat tinggi)

Lord I give my life

(Tuhan aku menyerahkan hidupku)

Knowing I’m found in Christ

(Aku tahu aku ditemukan di dalam Kristus)

In Your love forever

(Didalam KasihMU selamanya)

With all I am

(Dengan seluruh keberadaanku)

In Your grace I stand

(Dalam AnugerahMU kuberdiri)

The greatest of all romance

(Kisah Cinta terbesar)

Love of God my Saviour

(Kasih Allah penyelamatku)

 

Mercy roars like hurricane winds

(Belas kasihan begitu dahsyat seperti angin badai)

Furious love laid waste to my sin

(Kasih yang begitu besar tercurah untuk dosaku)

 

To the one who has rescued my soul

(Bagi DIA yang telah menyelamatkan jiwaku)

To the one who has welcomed me home

(Bagi DIA yang telah menyambutku pulang)

To the one who is Saviour of all

(Bagi DIA juruselamat segala insan)

I sing forever

(Aku bernyanyi selamanya)

 

Kembali pertanyaannya setelah kita merasakan “Amazing Love” ini, apa respon kita? Bolehkah kalau saya mengajukan 3 hal yang bisa kita lakukan untuk meresponi ini?

  1. Dengan memuji dan menyembah DIA, menggantikan semua kata yang sia-sia, yang keluar dari mulut kita. Karena dengan demikian kita menunjukkan kasih kita padaNYA.
  2. Dengan mengasihi sesama kita, dan membantu mereka yang perlu dibantu.
  3. Dengan mengundang mereka di luar sana untuk mencicipi, menikmati Kasih yang Heran, Amazing Love.

 

GodblesS

JEFF

 

TAKE US HIGHER

Selamat Natal untuk semua jemaat! Saya rasa ini adalah kerinduan kita semua untuk terus meningkat dalam segala hal.

Waktu saya coba cari video untuk represent “higher” saya ada dua pilihan:

  • Video lompat tinggi
  • Video roket

Kalau kita melihat video tadi, kita bisa lihat bahwa roket yang dipersiapkan sangatlah sophisticated. Untuk bisa “menembus langit” kita tidak bisa pakai mercon tahun baru.

Demikian juga dengan kita. Kita tahu bahwa kita sudah dirancangkan dan dipersiapkan oleh Allah dengan luar biasa. Mazmur 139:13-14. Sehingga di Natal 2017 seharusnya kita tidak lagi masih berpikir, “Aku terbatas”, “Aku tidak bisa lebih baik dari sekarang”. “Aku tidak bisa lebih tinggi!” TIDAK! Sebab kita sudah dimerdekakan pikirannya dari KETERBATASAN. Yohanes 8:36. You can be higher than this.

Tapi mari kita kembali ke ayat tema kita saat ini: Ulangan 28:13. Allah yang akan mengangkat kita “lebih tinggi” dari kondisi kita sekarang. Sebelum saya menjelaskan lebih lagi mengenai hal itu, saya ingin membahas sedikit mengenai miskonsepsi tentang ayat ini. Ayat ini bukan berbicara tentang semua orang harus mengisi posisi pemimpin atau yang teratas. Ayat ini sebenarnya berbicara tentang peningkatan kehidupan, dan bagaimana hidup kita menjadi pengaruh. Seperti yang saya sudah jelaskan sebelumnya, bahwa Allah yang akan mengangkat kita. Ini bukanlah hal yang baru, Allah sudah melakukannya sejak pada mulanya. Kita pasti ingat kisah-kisah seperti:

  • Adam dalam Kejadian. Diangkat dari debu tanah, menjadi ciptaan yang paling mulia.
  • Israel dalam Keluaran. DIangkat dari budak, menjadi penakluk.
  • Daud dalam 1Samuel. Diangkat dari gembala domba, menjadi raja.
  • Demikian juga apa yang kita rayakan dalam Natal. Allah mengangkat kita dari kebinasaan, masuk dalam keselamatan, karena Yesus. Lukas 2:11. Inilah alasan sebenarnya kita merayakan Natal.

Untuk sampai ke posisi yang lebih tinggi, meskipun itu adalah janji Tuhan, tetapi kita juga harus mengerti ada bagian yang harus kita kerjakan. Tempat yang Tinggi itu identik dengan kediaman Tuhan. Musa harus pergi ke tempat yang tinggi untuk bertemu dengan Tuhan. Keluaran 32:30. Tapi sekarang banyak orang berkata: “Saya tidak butuh Tuhan! Saya lebih butuh uang, teknologi, kepintaran, dan terkenal.  Mungkin kita berpikir seperti itu, tanpa menyadari bahwa “untuk apa memiliki buah saja, kalau kamu bisa memiliki pohonnya, sumbernya.” Kalau Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Hikmat, kekayaan, promosi, maka saya akan cari Tuhan, dan pastikan bersama DIA di sepanjang hidup saya.

Daud pernah menuliskan demikian di Mazmur 24:3-4.

“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

Mereka yang bisa HIGHER to be with God adalah mereka yang:

  1. Bersih tangannya.
  2. Murni hatinya
  3. Tidak menipu dikatakan “tidak menyerahkan diri kepada penipuan”. Jadi seorang penipu itu atas kehendaknya sendiri, bukan karena alasan “kepepet” dan lain-lain.
  4. Tidak bersumpah palsu/menyesatkan/memberi keterangan yang salah. Ya atau tidak, cukup.

 

Sadarkah kita dari keempat hal yang saya sebutkan itu, kita bisa memilikinya kalau kita punya KASIH. Kalau kita mengasihi orang lain dan mengasihi Tuhan. Dengan itu kamu pasti bisa menjaga tanganmu bersih, hatimu murni, dan tidak melakukan penipuan atau sumpah palsu. Bahkan KASIH dikatakan menutupi banyak dosa! 1Petrus 4:8.

Jadi di Natal ini, sebelum kita melakukan segala sesuatu, kita butuh mengerti posisi awal kita. Sebelum Yesus, kita meluncur turun menuju kebinasaan, kita terikat pada kehidupan yang lama, dan kita terhilang. Namun kini kita diingatkan akan janji “peningkatan” oleh Allah, saat kita bisa mengekspresikan kasih yang terlebih dahulu kita terima dari DIA.

  • Apa kamu cukup mampu? YA, SAYA DICIPTAKAN DAHSYAT.
  • Penuntunmu? Hukum Taurat itu hanya menuntun sampai titik tertentu dimana kamu terbang lebih tinggi dengan KASIH ALLAH.