INTER-GENERATIONAL WISDOM.

Bagi kehidupan suatu keluarga, salah satu moment yang paling menentukan dalam sejarah kehidupan Anda adalah pernikahan. Saya tidak akan mengajari Anda mengenai hal ini tetapi saya mengingatkan kepada Anda tentang satu bagian yang saya rasa dirindukan dari hampir semua pernikahan. Jangan berpikir yang aneh-aneh, bagian yang saya maksud adalah memiliki keturunan. Maleakhi 2:15.

Dalam Ibadah Pemberkatan Nikah biasanya berulang kali dibicarakan mengenai hal ini, bahwa menghasilkan “keturunan ilahi” adalah menghasilkan orang-orang yang tidak memusatkan hidup untuk konsep jasmani, tetapi untuk yang ilahi. Tetapi bukannya kita semua tidak ada yang dilahirkan peri, malaikat atau bidadari? Kita semua dilahirkan seorang ibu yang berasal dari manusia pertama (Adam). 1Korintus 15:47.

Perhatikan kembali bagian akhir dari ayat di atas: “manusia kedua berasal dari sorga.” Karena itu untuk memiliki keturunan ilahi kita butuh manusia kedua ini, yang datangnya dari sorga. IA adalah Yesus, Anak Allah. Menariknya IA berkata (dalam Yohanes 3:3-6):

“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”

Jadi keturunan ilahi saya rasa bisa berarti anak jasmani yang merupakan buah perkawinan, namun kemudian dididik untuk mengenal baptisan air (pertobatan yang disertai keputusan untuk berubah) serta baptisan Roh Kudus (persekutuan dengan Allah, disertai karunia-karunia ilahi). Tetapi juga bisa berarti anak jasmani dari luar Keluarga kita, yang kemudian dididik untuk mengenal baptisan air dan Roh. Jadi jangan takut untuk Anda yang belum memiliki keturunan.

Tantangan kita adalah tidak mengulangi kesalahan generasi-generasi sebelum kita. Khususnya yang dicatat di dalam Alkitab. Coba kita lihat Hakim-hakim 2:10. Ada angkatan yang muncul sesudah Yosua yang disebut “angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.” Bagaimana ini mungkin terjadi? Saya yakin salah satunya karena didikan. Amsal 22:6.

Saya tahu Alkitab adalah buku yang sudah sangat tua, yang diturunkan dari generasi ke generasi, untuk mengajar, mendidik, dan menunjukkan kepada orang mengenai jalan keselamatan. Tetapi Alkitab adalah hikmat Allah (1Korintus 2:7), ia akan tetap relevan sampai kapanpun (Markus 13:31). Anda sudah ada di jalur yang tepat, didiklah generasi yang berikut, supaya mereka tidak kehilangan keselamatan. Anak, keponakan, tetangga, murid, karyawan, anak mentor, siapapun mereka, bisa Anda jadikan keturunan ilahi Anda. 1Korintus 4:14.

GodblesS

JEFF

Advertisements

OPPORTUNITY

Selamat natal dan tahun baru untuk Pemuda Remaja GPdI Tiberias Pare. Tahun ini adalah tahun yang luar biasa, begitu banyak kesempatan menanti kita. Saya melihat hidup yang kita miliki ini adalah kepercayaan yang diberikan. Hidup ini adalah kesempatan bukan sesuatu yang kita usahakan untuk ada.

Menurut Anda mengapa Maria dan Yusuf menjadi orang tua dari Yesus? Mengapa bukan Marince dan Joko misalnya? Karena kesempatan itu diberikan kepada mereka dan mereka meresponnya. Seperti banyak dikatakan: keberhasilan adalah persimpangan antara kesempatan dan persiapan.

Kisah Natal adalah kisah mengenai kesempatan. Contohnya ketika Maria kedatangan malaikat yang datang untuk memberitahu tentang kehamilannya. Atau ketika Yusuf mendapat mimpi yang menyuruhnya untuk mengambil Maria menjadi istrinya.

Yesus adalah anak Allah, kita mengenal betul hal itu. Tetapi dalam berbagai kesempatan, DIA mampu menggabungkan dan mengembangkan. Contohnya dari Matius 18:20. Karena ada ungkapan di jaman itu, jika ada 10 orang mempelajari Taurat maka “shekinah” ada di antara mereka. Atau dari referensi lain menuliskan, jika ada 2 orang saja dan Firman dari Taurat ada di antara mereka, demikian pun “shekinah” ada.

Demikian Yesus mengenali betul tujuan dan kesempatan yang dimilikiNYA. (Lihat jawaban Yesus di usia 12 tahun dalam Lukas 2:49 demikian juga saat berusia 30 tahun dalam Lukas 4:18-19).

Kesempatan ini mendorong aktivitas yang Yesus tunjukkan berulang:

  • IA mengajar. Markus 10:1.
  • IA beribadah. Lukas 4:6.
  • IA berdoa. Lukas 22:39.

Ini semua kemudian menjadi karakterNYA. Galatia 5:22-23 (Buah Roh, Karakter Roh). Yesus menjadi luar biasa dalam pembawaanNYA sehingga bisa diterima banyak kalangan (Lukas 5:1):

  • Orang Farisi dan Ahli Taurat mendengarkan DIA. Lukas 5:17.
  • Kaum wanita mendengarkan DIA. Lukas 10:39.
  • Bahkan pemungut cukai dan orang berdosa mendengarkan DIA. Lukas 15:1.

Yesus menampakkan diri seperti orang Yahudi kebanyakan, IA tidak melihat kesempatan dalam melayani untuk keuntungan dirinya sendiri, malahan IA tahu kesempatan yang ada adalah untuk melayani bukan untuk dilayani. Markus 10:45.

Saya tidak mengerti di tahun 2019 berapa banyak kesempatan berbuat baik yang Anda miliki. Tetapi seperti apa yang Paulus tuliskan dalam Galatia 6:9-10. Ada kesempatan untuk berbuat baik, dimana kita bisa menuai saat kita tetap bertekun. Ambil kesempatan untuk melakukan yang baik, untuk menjadi dampak.

RENEWED

Selamat tahun baru HOFers! Sepanjang bulan ini Anda akan belajar tentang “NEW RESOLUTION”. Apa sih resolusi baru itu? Ummm, secara sederhana suatu keputusan baru yang diambil, yang biasanya bertolak belakang dengan apa yang kita lakukan sebelumnya.

Suatu kebiasaan baru, butuh suatu pola pikir yang baru. Misalnya saja tentang kesehatan, kita berpikir karena kita masih muda kita bisa makan apa saja seenaknya. Tetapi ternyata apa yang Anda makan memberi dampak pada kesehatan kita kedepannya.

Sepupu saya gagal ginjal setelah setiap hari ia minum minuman soda, 2-3 botol. Seseorang lain kelebihan berat badan setelah selalu memakan makanan cepat saji yang tinggi kalori. Kebalikannya yang lain kekurangan vitamin setelah menghindari untuk mengonsumsi makanan bervitamin yang tidak disukainya.

Jadi apa yang bisa membuat berubah? Pola pikir yang baru. Sesuatu ancaman tidak akan merubah seseorang kalau pola pikirnya tidak berubah. Contoh lagi, seseorang yang sakit jantung tetap memakan makanan berlemak, karena enak, tanpa berpikir akibatnya bagi pembuluh darahnya.

Hal ini sama dengan seorang perokok yang berpikir bahwa rokok itu tidak berbahaya untuk tubuhnya. Dia akan terus merokok meskipun ada peringatan dan gambar penyakit akibat rokok di bungkusnya. Atau seorang gamers yang merasa tidak ada ruginya bermain game hingga berjam-jam, tanpa sadar sebenarnya siapa yang diperbudak siapa.

Resolusi baru, menghasilkan keputusan baru, keputusan baru mendorong munculnya tindakan baru. Tindakan baru dari Anda menghasilkan manusia baru. Menariknya ketika ada dalam Kristus, Paulus berbicara bahwa kita adalah manusia baru. Kolose 3:9-10.

Manusia 2018 kita sudah menjadi manusia lama, waktunya mengenakan manusia 2019, manusia baru. Menariknya ada karakter khas dari manusia baru ini yaitu: “…terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Maksudnya dari terus menerus diperbaharui adalah pembaharuan itu dinamis, setiap hari, ada hal-hal baru yang diperbaharui. Tentu kalau begini kita sadar ini bukan tentang hardware (perangkat keras), tetapi tentang software (perangkat lunak). Seperti Anda yang punya HP Android, update software terbaru adalah version 9.0 atau lebih populer dengan Android Pie.

Perangkatnya sama, tapi dalamnya berubah. Bukankah ini seperti yang Paulus katakan di Roma 12:2. Dia menasehati untuk ada “pembaharuan budi”, artinya cara pikir lama kita, sekarang dijadikan baru. Menariknya semua pembaharuan ini fokusnya adalah untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah. Coba bandingkan Roma & Kolose.

Roma 12:2 “…sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kolose 3:10 “…untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Ketika apa yang menjadi pengejaran kita adalah kehendak Tuhan, Kerajaan Sorga itu jadi bagian kita. Matius 7:21. Karena bukan sekedar mengaku orang Kristen yang menjadikan kita warga Kerajaan Sorga, namun dengan melakukan kehendak Tuhan.

Saya suka sekali dengan versi Alkitab Bahasa Inggris “The Message” tentang maunya Allah dalam hidup kita: “Here’s another way to put it: You’re here to be light, bringing out the God-colors in the world. God is not a secret to be kept. We’re going public with this, as public as a city on a hill. If I make you light-bearers, you don’t think I’m going to hide you under a bucket, do you? I’m putting you on a light stand. Now that I’ve put you there on a hilltop, on a light stand—shine! Keep open house; be generous with your lives. By opening up to others, you’ll prompt people to open up with God, this generous Father in heaven.” (Matthew 5:14-16 MSG)

Ini cara lain untuk menggambarkannya: Kamu ada untuk menjadi terang, mengeluarkan warna-warni Tuhan dalam dunia. Tuhan itu bukan suatu rahasia yang harus disimpan. Seharusnya IA bisa dilihat orang banyak, sama seperti kota yang ada di atas bukit. Kalau AKU menjadikan kamu pembawa terang, tidak mungkin AKU menyembunyikan kamu di bawah wadah, bukan? AKU meletakkan kamu di tiang-tiang lampu. Sekarang AKU yang meletakkan kamu di atas bukit, di tiang lampu – karena itu BERCAHAYALAH. Jadilah rumah yang terbuka, jadilah murah hati dalam hidupmu. Dengan terbuka pada yang lain, kamu akan membuat orang juga terbuka kepada Tuhan, BAPA yang Maha Pemurah di Surga.

Semua ini bisa terjadi saat pola pikir kita berubah. Siapa yang bisa merubahnya? Kamu. Minta kekuatan Roh Kudus untuk mengingatkanmu ketika kamu memulai perjalanan perubahan di 2019. Tuhan tolong kita.