GADGET EFFECT

Selamat malam rekan-rekan professional (atau boleh saya panggil “banker”?) di bank-bank Kota Malang. Sungguh adalah kehormatan untuk saya bisa berbicara di hadapan Anda. Malam hari ini saya tidak membawa diri saya saja, tetapi Firman Allah. Tema yang diangkat oleh panitia adalah: Gadget Effect.

Menariknya saya mendapat email yang pada awalnya memberikan tema “Gadget Effect for Youth” tetapi dengan audience 25 – 35 tahun. Saya bisa mengerti untuk yang masih di bawah 35 tahun, tetapi untuk yang di atas 35 tahun? Karena biasanya ada yang terjadi di tengah malam saat usia seseorang berubah dari 35 ke 35+. Pada akhirnya saya menyadari, mungkin ini juga untuk orang-tua yang berhadapan dengan anak-anaknya. Jadi silakan saja di akhir presentasi saya untuk bertanya untuk topik ini.

Mari kita mulai bahasan ini dengan membuka Pengkhotbah 1:9-10. Kita melihat bahwa penulis Pengkhotbah memberitahukan bahwa sebenarnya tidak ada yang baru di muka bumi ini. Apa yang ada, apa yang pernah dibuat, akan ada lagi, tentu saja dengan versi yang lebih baik. Lihat saja teknologi kamera, telepon, dan lain-lain semua adalah teknologi yang melekat dengan diri kita.

Sehingga itulah mengapa kita mengerti bahwa “gadget” atau gawai adalah alat bantu, dan harusnya terus demikian. Alat bantu tidak pernah menggantikan yang Utama. Ilustrasinya kalau Anda menggaji asisten rumah tangga (pembantu) untuk membantu istri Anda, bukan berarti ia ada untuk menggantikan istri Anda, bukan? Matius 6:21 menyatakan dimana ada yang berharga buat Anda, disitu hati Anda. Karena itu gadget tidak bisa jadi yang Utama di hidup kita.

Lalu apakah efek gawai (gadget effect) itu bertentangan (kontradiksi) dengan Alkitab? Saya percaya Firman Tuhan itu dinamis, dan relevan di setiap zaman. Hanya saja jelas efek gawai memberi ancaman bagi hidup Kristen kita, jika tidak digunakan dengan baik.

  1. Terlalu banyak informasi. Apa yang harus kita lakukan adalah menyaring informasi yang masuk, dan memastikan bahwa kita adalah pembawa Kabar Baik, apapun posisi kita. Yesaya 52:7.
  2. Rentang perhatian yang pendek. Seharusnya kita melatih diri untuk menantikan Tuhan, yang terbaik akan datang dari hal itu. Yesaya 40:31.
  3. E-Addiction. Iblis berusaha untuk membuat kita terikat dengan apa yang kita kerjakan dan pada akhirnya melihat kebenaran sebagai dusta. Keluaran 5:9.
  4. E-Identity / e-Personality. Jangan bertindak karena rasa takut, kita bukan dikuasai ketakutan tetapi Roh Allah, yang menjadikan kita Anak Allah. Roma 8:15.

 

Advertisements

Q&A “The Calling” – YTC GPdI Yogyakarta

(Many thanks for Michelle & Aldora for this post)

Saat saya melayani di Youth & Teens Camp GPdI se-Yogyakarta, ada satu sesi yang mengundang banyak pertanyaan tidak terjawab karena keterbatasan waktu. Jadi saya janjikan ke panitia untuk menjawab beberapa pertanyaan tertulis yang tidak terjawab di sesi itu. Semoga yang bertanya puas dengan jawaban-jawaban di bawah ini.

 

  • Bagaimana solusi / cara untuk mengajak teman dekat yang belum mengenal Tuhan untuk bersekutu dengan kita?

Saya akan memanfaatkan kegiatan-kegiatan gereja / acara remaja yang paling penting adalah TIDAK memaksa Kekristenan pada mereka. Hormati pandangan dan perhatikan tingkat kenyamanan mereka (biarkan mereka pergi jika mereka memberi tahu Anda bahwa mereka tidak merasa nyaman).

Jika teman Anda menyukai musik, tawarkan mereka untuk mendengarkan lagu-lagu Kristen (lagu-lagu keren) dan biarkan mereka bertanya tentang hal itu. Jika teman Anda menyukai “meme” (pesan gambar-tulisan) dan kutipan, tandai (tag) mereka dengan sesuatu yang lucu tapi tetap positif.

Berikan dorongan dan pemikiran positif ketika berinteraksi dengan mereka (jika pada dasarnya memang mereka tidak percaya kekristenan). Intinya, bukan karena kekuatan dan apa yang kita lakukan, untuk menjadikan mereka percaya pada Yesus.

Tapi, jadilah pro-aktif dalam mencari kesempatan berinteraksi dengan mereka, dan berdoalah agar hati mereka terbuka. Biarkan Tuhan sendiri yang bekerja selanjutnya untuk menyentuh hati mereka.

 

  • Apa yang dimaksud panggilan Tuhan ?

Saya pribadi merasa bahwa orang-orang telah membuat istilah “panggilan” menjadi agak rumit. Sebuah “panggilan” tidak selalu menjadikan Anda seorang pendeta / pengkhotbah / bekerja di gereja.

Anda dapat dipanggil untuk menjadi ibu bagi anak-anak Anda dan itu bisa menjadi pelayananmu bagi Tuhan.

Anda dapat dipanggil untuk menjadi seorang guru yang akan memelihara para pembuat sejarah, Anda dapat dipanggil untuk menjadi penulis luar biasa yang menulis tentang Yesus atau tentang hal positif / motivasi.

Tidak perlu mengejar posisi pemimpin, banyak hal sederhana yang bisa dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan – anda boleh bekerja di balik layar. Contohnya ketika anda sedang bermusik, gunakan itu untuk melayani.

Jika Anda mudah bergaul dan punya banyak teman, ajak mereka ke gereja; jika Anda mencintai anak-anak, jadilah seseorang yang mereka butuhkan .. dan banyak hal sederhana lain yang bisa menjadi panggilan dalam pelayananmu.

Roma 12:6-8 (Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar 12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan , hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

 

  • Bagaimana mengetahui bahwa itu panggilan dari Tuhan ?

Berjalan dengan Tuhan akan membawamu kepada banyak hal yang membuatmu mengerti suaraNYA. Panggilan mengharuskanmu keluar dari zona nyaman, Itu akan sangat menantang dan bahkan bisa menjadikan Anda frustasi.

Anda harus memiliki hubungan dengan Tuhan dan sadar bahwa Anda butuh pimpinan Roh Kudus.

Tekanan akan datang ketika Anda mengandalkan pemahaman Anda sendiri.

Dalam perjalanannya, saat anda terpanggil untuk melakukan sesuatu, itu akan membawamu merasakan kebahagiaan dan kepuasan. Anda akan sadari kemampuan Anda utuk melakukannya, dan itu terasa menyenangkan.

 

  • Bagaimana cara kita menyadari bahwa apa yang kita pikirkan / inginkan merupakan panggilan yang tepat seperti yang Tuhan mau atau tidak? 

Setiap kali ada sebuah konsep tertanam dalam pikiranmu, saya percaya bahwa itu adalah benih. Terserah cara Anda untuk menyiraminya, memeliharanya, dan melihatnya tumbuh. Kalau ternyata itu bukan sesuatu yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya, maka saya pikir itu bukanlah sesuatu yang seharusnya Anda lakukan. Jangan buang-buang energi.

Kenalilah maksud Tuhan. Jika Dia memilihmu, ia melengkapimu dengan potensi untuk jadi berhasil. – Steven Furtick 

 

  • Salah satu cara Tuhan memberi tahu panggilan? 

Setiap orang mengharapkan ini menjadi sesuatu seperti Tuhan turun dari awan dan berbicara dengan suara bass untuk memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan. Tetapi kenyataannya sebagian besar yang terjadi bukan hal yang demikian.

Jadi bagaimana?

Ada orang yang mendapat panggilan melalui mimpi / suatu penglihatan yang kemudian menjadi peneguhan mereka bahwa itu adalah sebuah panggilan.

Lebih mudahnya, Tetaplah jalin hubungan yang dekat dengan Tuhan (berdoa, bacalah Alkitab, renungkan) melalui hubungan tersebut, ada banyak hal yang Tuhan akan nyatakan. Dia bisa memanggilmu dengan cara yang lembut.

Bergaul juga dengan teman-teman yang memiliki kerohanian yang baik (teman-teman dari gereja, mentor, ketua pemuda) karena terkadang Tuhan dapat berbicara kepada Anda melalui mereka.

 

  • Bagaimana cara kita mengetahui apa panggilan kita ? sementara kita sibuk dengan kegiatan kita.Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Yang dimaksud dengan ” panggilan yang menjadi berkat? 

Jangan terlalu jauh memikirkan kalimat ini. Itu hanya akan membuatmu terbatas untuk melakukan banyak hal.

Pikirkan hal sederhana, ketika Anda memberkati orang dengan sebuah senyum.

 

  • Bagaimana kita mengetahui kita dipanggil untuk menjadi apa ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Bagaimana kita mendengar panggilan dari Tuhan ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Cara mengetahui panggilan kita ?Baca poin 2, 3, 4.

 

  • Bagaimana cara menyikapi orang yang sedang mengalami krisis iman dalam melakukan proses panggilan ?

Berdoalah bagi mereka, beri waktu untuk mereka untuk berbincang atau untuk menghabiskan waktu dengan mereka) buat mereka bahagia.Berbincang mengenai kehidupan sehari-hari, apa yang mereka lakukan selama ini dan mengapa mereka melakukannya?Ingatkan mereka bahwa segala hal yang terjadi ini tentang Yesus dan mereka harus kembali kepada sumbernya.

 

  • Bagaimana cara kita untuk mengetahui panggilan kita yang sesungguhnya ?Baca Poin 4, 5.

 

  • Bagaimana cara untuk memperjelas panggilan kami ?Baca Poin 4, 5.

 

  • Jika kami sudah mendapat panggilan kami, apa yang harus kami lakukan ?Baca poin 4.

Sekarang Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, inilah saatnya perjalanan Anda dimulai. Berbicaralah kepada pemimpin Anda, mintalah seorang mentor. Lengkapi diri Anda dengan apa pun yang akan membantu Anda dalam panggilan Anda. Buka pikiran dan hati Anda dan jadilah orang yang mau diajar.

 

  • Gimana kita bisa tau kalau pelayanan kita panggilan dari Tuhan? Baca poin 4.

 

  • Kita dipanggil dengan panggilan berbeda-beda, apa tujuan dari hal tersebut?

Panggilan adalah sebuah undangan pribadi dari Tuhan untuk melaksanakan tugas unik yang Dia sediakan untuk Anda. Karena Allah adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya,

Allah bekerja melalui kita untuk kerajaan-Nya.

Markus 10:45 Karena Anak Manusia pun tidak datang untuk dilayani melainkan untuk melayani.

KUASANYA TIDAK BERUBAH

Pancasila Rumah Kita Bersama. Kita yakin dan rindu kuasaNya yang tak berubah memulihkan Indonesia yang sedang terkotak-kotak oleh perbedaan. Padahal Indonesia punya satu pemersatu yang Tuhan beri sejak dulu: Pancasila. Inilah pengikat kita, tetapi penggeraknya adalah kekuatan Roh KudusNya.”

 

Selamat malam dan selamat berjumpa di KKR “KuasaNYA Tidak Berubah” dan Konser Doa Bagi Negeri “Pancasila Rumah Kita Bersama”. Selalu menjadi kehormatan bagi saya seorang  yang bukan siapa-siapa bisa melayani Anda sekalian.

Satu hal yang kita percaya, bahwa kuasa (power) itu datang dari Tuhan. DIA lah sumber, yang pertama, yang menggerakkan segala sesuatunya seperti apa yang kita lihat sekarang. Karena itulah di Surga akan naik pujian pengagungan bagi DIA yang punya Kuasa itu. Wahyu 4:11.

Kuasa itu tidak berubah dulu – sekarang – sampai selamanya, meskipun ada yang berkata sebaliknya. Tetapi kita sungguh yakin dan percaya apa yang dituliskan tentang DIA, Tuhan Yesus di Ibrani 13:8.

Menarik sekali bahwa kuasa yang dimiliki DIA bekerja bersama kebijaksanaanNYA dan akal budiNYA untuk menciptakan Alam Semesta ini. Yeremia 10:12. Saya sungguh percaya komponen-komponen yang sama digunakan untuk membangun bangsa Indonesia dari mulanya.

Saya tidak sedang membuat klaim bahwa para pendiri bangsa ini mengenal Yesus. Tetapi ketika Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan serupa dan segambar dengan diriNYA. Kejadian 1. Sehingga kualitas-kualitas Illahi itu ada dalam manusia. Sayangnya manusia memilih jalan di luar rencana Tuhan, dan jatuh dalam dosa.

Namun tidak serta merta dosa itu membuat manusia kehilangan kualitas-kualitas Illahi itu. Meskipun ada penurunan yang luar biasa dari kualitas hidup manusia (bayangkan dulunya manusia hidup selama-lamanya), namun daya kreasi manusia yang diletakkan Tuhan masih ada dalam dirinya. Lihat saja bagaimana manusia bisa membuat karya literatur yang luar biasa, karya seni rupa yang unik, bangunan-bangunan yang mencengangkan, musik yang indah, dan tentu saja sistem kebangsaan.

Saya percaya bahwa Bangsa Indonesia dibangun dengan kuasa, kebijaksanaan dan akal budi, seperti yang tadi saya kutip dari kitab Yeremia. Coba kita lihat 5 fondasi dasar bangunan bangsa ini, yang kita sebut: Pancasila. Bahwa Tuhan itu Esa, menjalankan kehidupan yang memanusiakan sesama, diikat oleh semangat persatuan, diinspirasi oleh hikmat dalam permusyawaratan-perwakilan yang berkeadilan sosial.

Kelimanya tidak bertentangan dengan Alkitab bukan? Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Malah, sebenarnya sebagai orang percaya harusnya menghidupi nilai-nilai yang lebih tinggi dari itu. Hidup yang keluar dari kuasa Roh, menghasilkkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Galatia 5:22-23.

Potensi Indonesia yang luar biasa ini harus kita pelihara. Bayangkan betapa berharganya 255 juta jiwa penduduk bangsa ini, belum lagi ke-17.000 pulau yang tersebar di garis katulistiwa. Tetapi semua yang berharga itu tidak ada gunanya jika terjadi disintegrasi. Yesus pernah mengatakannya di Matius 12:25.

Sesuatu yang berharga, kehilangan harganya saat tidak ada kesatuan. Coba saja kita pikirkan, sebuah mobil yang berharga sangat mahal ketika dirakit Bersama. Tetapi ketika itu dilepas semua bagian sampai yang terkecil, harganya yang mahal itu menurun drastis!

Mari kita menyatukan hati bagi bangsa ini. Mungkin kita berkata, apa yang bisa saya lakukan sebagai bagian kecil dari bangsa ini? Pertama, berdoa, itulah mengapa kita berkumpul malam hari ini. Kedua, berpikir dan bertindak sebagai satu kesatuan, jangan menjadi ekstrimis, dengan menentang pemerintah. Pemerintah juga datang dari Tuhan. Roma 13:1. Dengan menjadi orang yang ekstrim kita hanya mengundang perpecahan. Ketiga, hidup dalam kuasa Roh, karena kuasa itu menghasilkan buah Roh yang “tidak bisa ditentang oleh hukum manapun”. Galatia 5:23.

GodblesS

JEFF

 

 

 

LISTEN

Berapa banyak hal yang kita dengar sampai dengan sekarang? Banyak sekali, bukan? Dari hal yang penting sampai dengan hal yang tidak penting. Tidak semua yang masuk kemudian kita olah jadi informasi yang penting. Sehingga mendengar pun sebenarnya adalah bagian dari pilihan.

 

Menarik sekali beberapa waktu lalu saya melayani bersama dengan seorang hamba Tuhan muda namanya Christian Effendi. Dia mengambil ilustrasi betapa Allah adalah yang mengambil insiatif untuk berbicara kepada kita. Kalaupun ada halangan untuk kita mendengar, IA akan mencari cara supaya suaraNYA terdengar. Tetapi kalau kemudian kita mengambil pilihan untuk tidak mau mendengar, pada akhirnya IA akan membiarkan kita menerima konsekuensi dari tidak mendengar suaraNYA. Ulangan 28:1, 15.

 

 

  1. Mendengar Panggilan Pribadi

 

Biar saya mulai hal ini dengan menegaskan satu hal, bahwa secara organisasi saya bukan pendeta. Hanya karena ada nama “Minandar” bukan berarti saya berhak mengambil jalan pintas. Banyak orang yang memanggil saya pendeta atau pastor, tetapi saya sekali lagi secara organisasi bukan. Saya hanya menjalankan fungsi kependetaan karena saya adalah anggota tim pastoral di gereja lokal di Tegal. Saya sampaikan ini untuk mengingatkan saya dan mengingatkan Anda, there is no shortcut, semua harus ada prosesnya.

 

Sedikit mengenai kesaksian panggilan saya, sebelum saya membahas mengenai sub-topik: “Panggilan Pribadi”.

 

“Dimana hartamu berada disitu hatimu berada.” Perkataan Yesus di Matius 6:21 ini tentu sudah sering kita dengar, dan menjadi hafalan. Menghafal itu bagus, namun masalahnya jika hafalan itu hanya berhenti disitu. Seharusnya ini menjadi nilai yang kuat dalam setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan. Karena hafalan menunjukkan kekuatan pikiran kita, namun nilai menunjukkan kekuatan pribadi kita.

 

Firman Tuhan sebagai sistem nilai yang Yesus sendiri hidupi (karena DIA adalah Firman itu) mengajarkan mengenai pentingnya hati yang kuat dan teguh. Sesaat sebelum menyeberang sungai Yordan, Tuhan sampai mengulang-ulang hal ini kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Tentu saja ini membutuhkan kerjasama dari pihak manusia  Seberapa ingin Anda untuk berubah dan berbuah. Panggilan untuk berbuah adalah suatu keharusan. Allah mengasihi Anda, Allah memberkati Anda, Allah menyelamatkan kita, supaya kita berbuah. DIA melimpahkan kasih karuniaNYA bukan untuk sesuatu yang sia-sia. DIA ingin ada buah yang kita hasilkan. Contoh yang paling jelas kita bisa temukan dalam perumpamaan tentang talenta. Meskipun kita juga sudah sangat sering mendengar ini, namun kisah ini selalu menarik untuk dibahas.

 

Matius 25:14-30

Apa yang diberikan Tuan itu kepada hamba-hambanya? Talenta. Ini menarik,  karena kalau kita tidak mengerti nilai talenta maka kuantitas talenta yang diberikan kurang menarik dan tidak mewah. Hanya 1, 2 dan 5. Namun ketika kita tahu nilai sebuah talenta itu adalah upah 6000 hari kerja (di jaman itu) maka kita akan mengerti betapa satu talenta saja sudah sangat berharga!

 

Sekarang apakah mereka melakukan sesuatu yang hebat untuk mendapat talenta itu? Tidak, Tuan itu hanya menyerahkan (mengaruniakan) talenta-talenta itu “masing-masing menurut kesanggupannya” (ayat 15). Tuan itu tahu kemampuan pengelolaan masing-masing hambanya, namun bukankah itu tidak mempengaruhi nilai berharga dari talenta itu? Lima gram emas tidak kemudian menjadi logam “kurang mulia”  hanya karena dia diletakkan disebelah 1 kilogram emas!

 

Jadi siapapun kita apapun latar belakang kita dan berapapun orang lain menilai kita. Sesungguhnya kita memiliki talenta yang sungguh sangat berharga. Apakah 1, 2 atau 5 bukan itu yang menjadi perhatian utama, melainkan berapa banyak talenta itu berbuah.

 

Ada satu lagi perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita, yaitu perumpamaan “sesuatu yang hilang”. Lukas 15:1-32. Didalam perumpamaan ini terdapat 3 hal yang hilang.

  1. Domba yang hilang.

Karakter seekor domba adalah mahluk yang perlu pertolongan dan bimbingan. Domba adalah mahluk yang tidak dapat mempertahankan dirinya dan memiliki daya pandang yang terbatas. Sehingga domba sering diidentikkan dengan binatang yang lemah. Keristenan pun sebenarnya ada yang tingkatannya seperti ini.

  1. Dirham yang hilang.

Disini sudah melibatkan kedewasaan dan komitmen. Karena biasanya dirham yang paling berharga adalah milik seorang wanita Israel yang bertunangan.

  • Anak yang hilang.

Inilah kasih di tingkat yang tertinggi. Unconditional Love of The Father.

 

Lalu apa yang bisa dipelajari dari ketiga kisah ini, dan hubungannya dengan mendengar panggilan Allah? Pasal ke-15 dari Lukas diawali dengan ayat yang berkata:

“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:…”

 

Pertanyaan ini yang kemudian penting poin yang pertama mengenai mendengar panggilan pribadi ini. Apakah kita memiliki hati dan beban bagi jiwa-jiwa yang terhilang, terutama bagi kaum / bangsa / kelompok yang tak terjangkau? Mereka yang tidak diterima dan yang berdosa? Apakah saudara terpanggil untuk jiwa-jiwa yang terhilang dan dalam jalan menuju maut, atau Anda ingin menjadikannya hanya sekedar tugas?

 

Hati Yesus penuh dengan belas kasihan hal ini jelas terlihat dalam mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus: memberi makan 5000 orang, membangkitkan anak seorang janda di Nain, juga membangkitkan Lazarus, menyembuhkan orang buta dan orang kusta. Panggilan pribadi kita adalah ketika kita memiliki hati untuk melakukan hal tersebut.

 

  1. Mendengar dan Mengembangkan Komitmen

 

Komitmen adalah suatu hal yang penting dan mahal. Komitmen adalah keputusan yang penuh integritas. Komitmen adalah janji kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu secara terus menerus, untuk jangka waktu tertentu. Sebenarnya ini adalah cara kita juga mengembangkan karakter.

 

Karakter datang dari habit atau kebiasaan. Kepribadian adalah keseluruhan dirimu, sedangkan karakter adalah bagian dari kepribadian yang dilihat orang dalam kecenderungan bersikap. Karisma membawa engkau naik ke atas, namun karakter yang mempertahankan engkau tetap di atas.

 

Orang-orang yang mendengar dengan baik, ia kemudian berkomitmen. Maksudnya orang-orang ini berfokus kepada apa yang penting, apa yang menjadi prioritas bagi dirinya dari apa yang didengarnya.

 

Yesus adalah orang yang memiliki komitmen tinggi kepada apa yang penting dan menjadi prioritas. Ketika orang banyak ingin memaksa DIA untuk menjadi raja (Yohanes 6:15) Yesus memilih untuk menyingkir, demikian juga ketika Yesus harus naik ke Sorga supaya Roh Kudus turun (Yohanes 16:7). Komitmen bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mengenakkan. Kita tahu banyak masalah sosial saat ini adalah karena orang kehilangan komitmen untuk melakukan sesuatu.

 

Contohnya saja partai politik, politisi, dan pejabat Negara yang terpilih lewat pemilihan masal. Karena apa yang mereka ucapkan tidak benar-benar mereka lakoni, maka tingkat penyelewengan anggaran, korupsi, dan kerugian Negara terus terjadi oleh ulah orang-orang tanpa komitmen ini. Mereka dengan mudah berpindah haluan kepada yang berkuasa. Bukan saja di tingkat Negara. Kalau sekarang kita lihat unit terkecil dalam masyarakat adalah keluarga. Berapa banyak keluarga yang hancur karena anggota keluarga yang tidak berkomitmen untuk keutuhan suatu keluarga.

 

Saya selalu percaya bahwa dalam tiap hubungan, apapun itu diperlukan tiga sisi yang saling bertemu dan tidak terpisahkan. Tiga sisi itu adalah:

  1. Passion (Gairah)
  2. Affection (Rasa sayang / kedekatan)
  • Commitment (Komitmen / janji / ikatan)

Apakah itu dalam rumah tangga di rumah, rumah tangga di gereja, dan rumah tangga Negara, ketiga sisi itu menjadi penting. Tahukah saudara apa yang membuatnya tetap utuh? Komitmen! Sekedar mendengar tidak cukup, Anda harus mulai membangun komitmen atas apa yang Anda pilih untuk dengar.

 

Setelah kita yakin akan panggilan pribadi kita, ada belas kasihan yang timbul, ada gairah yang besar melihat ladang tuaian yang sangat besar. Selanjutnya lengkapi itu dengan komitmen seumur hidup untuk berdoa bagi para misionaris dan jiwa-jiwa yang terhilang. Doa orang benar, jika benar didoakan besar kuasanya. Mendengar adalah bagian dari doa sebenarnya.

 

Yesus berkata tentang DOA:

Matius 26:41 Berjaga dan berdoa, roh penurut namun daging lemah.

Seringkali pikiran lah yang membuat kita lemah. Sepanjang Alkitab dikisahkan mengenai Saul dengan pikirannya pada Daud, Elia dan pikirannya pada Izebel, Petrus dan pikirannya pada gelombang. Dengarkan DIA yang berbicara di hatimu.