LAPAR

Hari ini saya akan berbicara tentang lapar. Apakah Anda lapar? Beberapa dari Anda mungkin sudah menebak, bahwa saya akan membahas tentang “lapar akan Firman Tuhan”. Tetapi tunggu dulu, jangan buru-buru kesana. Mari kita bahas tentang “lapar” ini dulu.

Lapar adalah sesuatu yang normal dan merupakan salah satu tanda kehidupan. Mereka yang tidak pernah lapar malah kita curigai sebagai orang tidak normal atau bahkan orang mati! Demikian juga kondisi lapar itu bukan sesuatu yang salah, hanya saja cara meredakan kelaparan itu bisa berujung pada kesalahan. Kemudian yang juga menarik adalah sinyal (tanda) lapar dari tubuh, itu bisa “menipu”, karena terkadang yang kita butuhkan adalah air (karena haus) bukan makanan.

Sekarang baru kita masuk ke dalam bahasan “lapar akan Firman”. Orang-orang percaya selalu mengaitkan kata “lapar” dalam Alkitab, dengan frase “lapar akan Firman. Hal ini tidak salah, kalau kita melihat kata Ibrani untuk pengertian “lapar” yang dipakai pada Perjanjian Lama. Kata yang dipakai adalah Ra’ab atau Ra’eb. Selain dapat berarti lapar jasmani, kata yang sama juga bisa dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “lapar akan Firman”.

Saat saya berbicara tentang Firman, apa konsep atau benda yang pertama kali ada di benak kita? Banyak dari kita sampai sekarang secara otomatis langsung berpikir bahwa Firman adalah Alkitab. Dengan demikian “lapar akan Firman” berarti suka membaca Alkitab. Sama seperti orang yang lapar jasmani, yang selalu suka akan makanan.

Tetapi saya ingin Anda melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Pertama tentang “Firman”. Saya rasa Anda sudah sering mendengar tentang ini, bahwa Firman itu sudah menjadi manusia di dalam Yesus. Yohanes 1:14.

Kedua tentang “lapar”. Saya begitu tertarik dengan konsep kekurangan yang satu ini karena seperti yang saya katakan di awal, bahwa ini menjadi penanda kehidupan. Jika kondisi ini dibiarkan bisa terjadi sesuatu yang fatal.

Kalau saya gambarkan sederhana, bahwa rasa lapar mengingatkan kita untuk memberi pasokan/asupan/input pada tubuh supaya tetap bertahan hidup. Ini berlaku baik secara jasmani maupun secara rohani. Pada poin inilah seringkali kita menjadi salah kaprah. Seperti yang pernah dibahas oleh Herold Tadete (staf Gereja), terkadang kita kurang sadar akan kebesaran Tuhan. Kita mengecilkan konsep Firman itu semata-mata kaitannya dengan hal rohani. Firman hanya menjadi fisik ketika kita melihat Alkitab.

Kita lupa bahwa hanya karena Firman lah semua realitas fisik yang bisa kita lihat sekarang itu jadi. Coba lihat kembali Kejadian 1, semua yang bisa kita lihat dimulai dengan kata “berfirmanlah”. Bahkan tubuh jasmani kita juga adalah hasil bentukan Firman. Kejadian 1:26-27. Kita salah besar kalau berpikir bahwa Firman hanya berkaitan dengan hidup rohani kita saja, karena FIRMAN itu adalah PRIBADI yang membentuk kita.

Ketika kita mengotakkan bahwa Firman hanya berguna untuk hidup rohani saja, itu sama seperti seorang anak yang berpikir orang tuanya hanyalah sosok pemberi uang saja! Untuk anak seperti itu, memang perlu disadarkan dengan kasih karunia (dalam angka Alkitab dilambangkan dengan angka 5).

Apa yang saya ingin tegaskan adalah, Firman itu tidak muncul hanya untuk kehidupan rohani kita. DIA ada sejak dari mulanya, membentuk kita dari debu tanah.

Baru kemudian kita lihat di Kejadian 2:7 Tuhan Allah/Yehovah Elohim, menghembuskan RohNYA yang menjadikan kita hidup (sebagai mahluk rohani, jauh lebih mulia dari ciptaan yang lain).

Sampai disini saya berharap Anda mengerti konsep ini, bahwa Firman itu adalah pribadi. Karena itu kita perlu membangun hubungan dengan DIA sebagai pribadi. Ingat, kita lebih butuh DIA daripada DIA membutuhkan kita.

Analogi yang Yesus sampaikan dalam Yohanes 15 begitu menginspirasi. Kita ini “sama seperti ranting (yang) tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri”. Ayat 4. Dalam perikop tentang “Pokok anggur yang benar” ini ada 2 kali kata Firman disebutkan, di ayat 3 tentang bagaimana Firman itu membersihkan kita. Kemudian di ayat 7 tentang bagaimana Firman itu tinggal di dalam kita, untuk memberikan apa yang kita kehendaki (tentu saja yang sesuai dengan kehendak Illahi).

Sehingga kita lihat betapa pentingnya untuk terhubung dengan DIA. Hubungannya dengan lapar? Tentu saja ranting itu mendapat asupan dari pokoknya. Saya tidak pernah mendengar tumbuhan mengerang karena lapar. Tetapi ini yang saya tahu, ia terus menerus “lapar” akan asupan dari pokok itu, karena ia tahu disaat ia terlepas dari pokok itu, ia binasa.

Lapar yang seperti ini yang saya rasa menggambarkan “ra’ab” (istilah Ibrani yang saya bahas di awal penjelasan), yaitu kelaparan yang harus dipenuhi dengan terhubung kepada sumber. Apakah Anda “lapar” akan DIA? Ini adalah penanda kehidupan kita dalam mengiring Kristus. Berapa banyak kali lutut dan tangan kita terlipat, tetapi sebenarnya kita tidak benar-benar “lapar” akan PribadiNYA.

Saya tahu kita adalah manusia yang penuh kelemahan. Tetapi Paulus memberi pengertian dalam Roma 8:26 bahwa Roh Allah yang ada pada kita membantu kita dalam kelemahan manusiawi kita. Saya tidak sedang berdiri untuk menghakimi Anda yang tidak bisa fokus saat berdoa, atau mungkin kesulitan untuk melawan kantuk. Tetapi saat Anda mengambil sikap sebagai pribadi yang lapar akan DIA, Anda tidak akan berhenti membutuhkan DIA. Lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, lebih lagi Tuhan, aku butuh PribadiMU.

GodblesS

JEFF

Advertisements