Bertumbuh Jadi Baru

Sepanjang tahun ini Gembala kita mengambil tema “Bertumbuh” untuk GPdI Mahanaim Tegal. Suatu tema yang menantang di satu sisi, karena kita diharapkan untuk menunjukkan pertumbuhan, menjadi lebih besar. lebih matang, dan tentu saja salah satu karakteristik pertumbuhan yang sehat adalah berbuah!

Ketika menyiapkan apa yang akan saya sampaikan ke jemaat hari ini, yang terpikir di benak saya ada 2 hal. Pertama, tentu saja tentang pertumbuhan, namun yang kedua saya rasa juga tak kalah penting yaitu pembaruan. Keduanya kemudian menjadi fusi, dan lahirlah judul: “Bertumbuh Jadi Baru”.

Mengenai kedua hal ini saya rasa kita sudah sangat familiar. Pertumbuhan adalah perubahan dari kecil menjadi besar. Pembaruan adalah perubahan dari lama menjadi baru. Sederhana saja! Saya rasa definisi singkat barusan bisa membantu kita untuk membedakan keduanya.

Dalam Firman Tuhan sendiri jelas sekali Yesus meminta kita bertumbuh dan berbuah, seperti misalnya dalam perumpamaan di Lukas 13:6-9. Secara singkat, itu bercerita tentang pohon ara yang tumbuh di kebun anggur dari seorang pemilik kebun. Ketika ia mencari buah dari pohon itu, dia tidak menemukannya. Dia segera memerintahkan kepada pengurus kebun itu untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun itu menahan niat pemilik kebun ini, dengan berkata: “…biarkanlah dia tumbuh…, mungkin tahun depan ia berbuah…” (ayat 8-9).

Ada banyak interpretasi mengenai siapa pemilik kebun, siapa pengurus kebun, siapa yang dimaksud dengan kebun anggur, dan siapa yang dimaksud dengan pohon ara. Tetapi satu hal yang sangat jelas disitu adalah:

  1. Ada waktu dimana buah itu menjadi patokan penilaian.

Kita semua memiliki modal dalam hidup ini, waktu, tenaga, kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh apa yang kita miliki ini menjadi penilaian apakah kita berbuah atau tidak. Yohanes pembaptis pernah dengan keras menegur orang Farisi dan Saduki yang dating untuk dibaptis dengan perkataan: “…hasilkanlah buah yang sesuai…” Matius 3:9.

 

Sudahkah waktu, tenaga, kesehatan kita, kita gunakan untuk menghasilkan sesuatu bagi Tuhan. Anda mungkin berkata saya secara rutin membawa persembahan. Apakah Tuhan mau uang milik kita? Itu semua pada dasarnya milikNYA, karena IA pemilik segala sesuatu. Mazmur 95:4-5.

 

  1. Ketika pertumbuhan berarti kesempatan baru.

Ketika pengurus kebun berkata “…biarkanlah dia tumbuh…” itu bukan berarti pohon itu sudah selamat, akan ada masa dimana pemilik kebun itu akan datang untuk memeriksa apakah dari pohon itu dihasilkan buah. Banyak orang merasa kesempatan itu selalu ada, saya rasa kalau kita belajar dari apa yang disampaikan Gembala tentang Jemaat Filadelfia, pada Ibadah Raya minggu lalu, kita mengerti. Ada pintu atau jendela kesempatan yang akan ditutup. Jika kita hidup sekarang itu bukan karena Allah lalai, tetapi karena DIA memberi kesempatan untuk bertobat. 2Petrus 3:9.

 

Kita masih punya kesempatan sekarang untuk berbuah. Salah satu buah Roh di dalam Galatia 5:22 adalah kebaikan. Ini kesempatan kita, kesempatan untuk berbuat baik. Galatia 6:9-10.

Mengenai sesuatu yang baru, banyak orang berpikir itu artinya sama sekali baru. Tetapi dari perspektif pertumbuhan, saya melihat begini: sesuatu yang baru itu muncul saat yang lama bertumbuh jadi baru. Lihatlah pertumbuhan sebuah pohon, ketika ia bertunas dan masih kecil, orang tidak menghiraukannya. Tetapi jika selang beberapa waktu dan orang melihat batangnya yang besar, rantingnya, daunnya dan buahnya, bisa jadi mereka berkata bahwa itu pohon baru. Padahal sebenarnya itu adalah tunas pohon yang sama. Tetapi sekarang ia menjadi besar. karena ada pertumbuhan, ada sesuatu yang baru, yang menjadi nampak.

Anda mungkin berpikir saya sudah terlambat untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Tapi tahukah kita bahwa Allah kita adalah Allah dari segala sesuatu yang baru. Wahyu 21:5. Bagi saya karya salib adalah kesempatan baru, dan kita selalu bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang baru, ketika kita percaya pada salib itu. Pada suatu malam Allah memberikan kepada saya suatu gambaran jelas mengenai hal ini. IA menyediakan kesempatan baru bagi saya, dan tentu bagi Anda juga.

 

GodblesS

JEFF

Advertisements

Apakah Kita Sudah Sampai Disana?

Kita sudah merayakan Paskah, yang sebenarnya menjadi dasar dari keyakinan Kristen kita. Anda pasti masih ingat dengan ayat di Roma 10:9, bukan? Bahkan Paulus juga dalam pembelaannya di hadapan Agripa menyebutkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang menjadi inti berita dari Paulus sebagai rasul Kristus, dan bahkan nabi-nabi sebelum dia. Kisah Para Rasul 26:22-23. Tetapi apakah Paskah adalah puncak dari kekristenan kita? Apakah kita sudah sampai disana? Keberhasilan seorang Kristen adalah saat ia percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus?

Mengenai hitungan waktu kita mengenal hari, bulan dan tahun. Dalam perjalanan kekristenan kita kalau ibarat seorang pelari, kita ini sudah di ujung sebelum Hari Kedatangan Tuhan kali yang kedua. Tentu saja kita tidak mau kalah sebelum finis. Seorang pelari malahan mempercepat geraknya saat akan finis!

Menariknya di Alkitab kita diibaratkan pelari. 1Korintus 9:24. Dalam ayat ini Paulus menjelaskan mengenai suatu gelanggang pertandingan, dan dikatakan semua berlari. Kita semua ada dalam pertandingan.

Karena kita ada dalam satu gelanggang yang sama, kita ada dalam kondisi yang sama. Track-nya sama, jarak tempuhnya sama, dan tujuannya sama. Hanya saja sering kali kita saling membandingkan. Ah dia kan dari keluarga pelari, ah dia kan pakai sepatu terbaru, ah dia kan gen pemenang. Baca ini: Roma 8:37.

“Yang terpenting dari sebuah kesuksesan besar adalah kesuksesan kecil yang berulang.”

Maksudnya apa, kita tidak bisa berharap langsung menerima kemenangan besar. Namun kita harus bisa memenangkan serentetan kemenangan-kemenangan kecil. Yosua 12:7-24. Jadi dibandingkan engkau melihat apa yang belum engkau dapat (yang biasanya bikin engkau frustrasi), kenapa engkau tidak melihat apa yang sudah Tuhan letakkan dibawah kakimu (maksudnya apa yang sudah engkau menangkan). ARE YOU THERE YET? Not yet, but I will be there.

Ada cerita inspirasi yang mungkin bisa jadi kesaksian. Yang pertama kisah nyata, yang kedua kisah dari Alkitab. Dua-duanya namanya sama. Yes, you’re right ini bukan tentang Jeff. Tapi tentang orang yang paling dekat dengan saya. Namanya: “Joseph”. Joseph Sudana Minandar. Beliau memiliki latar belakang yang sederhana, kalau tidak salah hanya lulusan SMA. Tinggal di daerah sederhana, tetapi sekarang menjadi seseorang yang kalau tidak kenal dekat

dengan beliau pasti biasa aja, tapi bagi saya Luar biasa. Ada 2 titik dalam hidup yang bagi saya menentukan dimana beliau sekarang. Pertama ketika berusia 32 tahun, menjadi pimpinan SAB, dan kedua, di tahun 2004 ketika memutuskan meninggalkan Tegal atau meneruskannya.

Joseph yang kedua adalah Joseph Bar Jacob. Yusuf bin Yakub. Dalam Kejadian 39:2. Kita belajar mengenai bagaimana standar kesuksesan itu didefinisikan ulang. Ini yang saya rindu saat kita datang bukan sekedar beribadah, tapi mengalami revolusi mental. Perubahan pikiran, metanoia. Sehingga engkau bisa introspeksi, dan menata hidupmu ke depan dengan lebih baik lagi. Are we there yet? Not yet, but with God, I will be there.