MASA PERSIAPAN

Saya rasa semua dari kita setuju bahwa untuk segala sesuatu kita butuh persiapan. Persiapan adalah suatu hal yang penting, bahkan krusial untuk sesuatu bisa berjalan dengan baik.

  • Orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan dengan memberi pendidikan yang baik.
  • Anak-anak muda mempersiapkan dirinya untuk masuk ke tingkatan yang lebih tinggi, dengan belajar, mengikuti pelatihan dan kelas-kelas khusus.
  • Lansia juga saya rasa, mempersiapkan diri bagaimana bisa mengakhiri “pertandingan” dengan baik, dan juga mewariskan hal-hal yang baik untuk generasi berikut.

Dalam dunia manajemen dikenal istilah POAC yang merupakan singkatan dari Planning (Persiapan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pelaksanaan), Controlling (Pengontrolan). Ini adalah tahapan dari pengelolaan organisasi. Demikian pentingnya persiapan sampai ada sebuah kutipan yang terkenal “By failing to prepare, then you are preparing to fail.”

Saya berharap ini kemudian menjadi pengingat bagi kita untuk lebih mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Tentu saja “persiapan yang baik” yang saya maksud bukan kemudian menjadi alasan untuk kita menunda-nunda segala sesuatu dengan dalih “persiapan”. Ada satu ayat di Pengkhotbah 11:4-6 yang sebenarnya bisa mengajar kita untuk mulai bertindak, tentunya setelah melewati persiapan yang tidak bertele-tele.

Tentu saja rentang waktu persiapan dan juga apa saja yang harus dipersiapkan adalah dua hal yang harus diperhatikan juga. Karena bayangkan kalau waktunya tidak terbatas, maka bisa jadi kita kehilangan ketertarikan (interest) terhadap apa yang kita lakukan. Demikian juga jika kita tidak mengerti apa saja yang harus dipersiapkan maka kita akan merasa bingung, dan bisa jadi merasa kesia-siaan saja mempersiapkan sesuatu yang tidak jelas.

 

Inilah yang saya harapkan dapat kemudian menjadi pedoman bagi kita dalam menjalani hidup ini, karena sebenarnya kita semua sedang hidup di masa persiapan! Persiapan apa? Menanti kedatangan Yesus kali kedua. Kemarin ada anak-anak SMA yang datang ke Kantor Gereja untuk menanyakan tentang perumpamaan yang Yesus sampaikan tentang Akhir Zaman (yang benar ternyata “Z” bukan “J”, silakan tanya Google kalau tidak percaya). Penjelasan saya yang pertama adalah meluruskan miskonsepsi  tentang “Akhir Zaman”. Saya rasa saya perlu ulangi untuk Anda yang sudah tahu, dan saya perlu beritahu untuk Anda yang belum tahu.

 

Kita percaya kehidupan manusia dibagi ke dalam 3 zaman:

  1. Zaman Bapa (dari Adam sampai dengan Abraham)
  2. Zaman Anak (dari Abraham sampai dengan kedatangan Yesus kali pertama)
  3. Zaman Roh Kudus (dari kedatangan Yesus yang pertama sampai dengan kedatangan Yesus yang kedua)

 

Sehingga kita semua yang hidup di zaman penanggalan Masehi adalah orang-orang Akhir Zaman. Tidak ada yang perlu ditakutkan mengenai itu. Malahan seharusnya kita bersyukur, karena tokoh-tokoh besar dalam Alkitab, yang hidup di Zaman Anak, membicarakan “orang-orang zaman now” ini.

  • Daud, dalam Mazmur 32:1-2. Hal ini dikutip Paulus di Roma 4, dan dijelaskan lebih detail di Roma 8.
  • Yeremia, dalam Yeremia 31:33-34. Suatu kaum Israel “baru”, karena Israel secara harafiah bisa diartikan “kekuatan Allah” (yi-sarah-el).
  • Yesaya, dalam Yesaya 44:3. Tentang curahan air atas tanah kering, yang melambangkan Roh Allah dicurahkan atas manusia.

 

Jadi kita sebagai orang yang lahir di Akhir Zaman, harusnya punya sikap yang gembira, bukannya berkerut dan takut, setiap kali membahas mengenai Akhir Zaman. Apa yang tertulis di Wahyu itu bukan untuk menakut-nakuti kita. Coba baca bagian awalnya di Wahyu 1:1. Ini adalah sesuatu yang memang untuk ditunjukkan kepada kita hamba-hamba Allah. Atau supaya lebih bisa Anda mengerti, ini adalah pemberitahuan seorang kekasih (Roma 9:25) kepada calon pasangannya/tunangannya (2Korintus 11:2). Ini adalah kabar baik seharusnya Anda bersukacita!

 

Tetapi di saat yang sama juga harusnya Anda bersiap. Menarik sekali apa yang pernah disampaikan Ps.Jose Carol tentang Gereja Tuhan. Suatu saat dia berkata demikian, bahwa Gereja Tuhan itu seperti mempelai perempuan yang menantikan mempelai prianya. Apa yang harus dilakukan seseorang yang menantikan pasangannya? Apalagi dia tahu bahwa sebenarnya tidak berlayak untuk mendapat mempelai pria tersebut (lihat @jeffminandar.com, search: “Amazing Love”). Tentu saja mempelai perempuan itu akan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

 

Tentang persiapan, kita bisa melihat perbandingan dari apa yang dilakukan oleh 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana di Matius 25. Mereka yang bodoh merasa cukup, sementara yang bijaksana mereka merasa ada yang kurang saat mereka tidak membawa lebih.

 

Saya harap tabel dibawah ini membantu Anda untuk mengambil keputusan pada Ibadah kita kali ini:

 

MASA PERSIAPAN
DURASI YANG HARUS DISIAPKAN
Bila memahami ini, kita bisa benar-benar mempersiapkan, namun jika tidak tahu rencananya bisa kehilangan semangat.

(Mazmur 90:12, Galatia 6:9)

 

Bila mengerti bisa mempersiapkan dengan lengkap, dengan sempurna, namun kebodohan bisa membuat bingung dan melakukan yang sia-sia.

(Lukas 12:18, Pengkhotbah 5:10, 2Petrus 3:3-4)

Sejarah berkata ini waktu yang lama, namun Alkitab berkata waktunya tidak lama lagi.

(Wahyu 12:12)

 

Persiapkan kesetiaan, komitmen, keseriusan, iman percaya, dan urapan kekudusan (minyak).

(Lukas 19:17, Matius 24:46, Lukas 18:8, Matius 25:4)

Yesus pernah sampaikan ini.

(Matius 24:3-51)

 

Yesus punya ekspektasi yang DIA nyatakan.

(Wahyu 12:14)

 

Apa pilihan kita di masa persiapan ini? Waktu diberikan kepada kita sama, tidak lebih, tidak kurang, pilihannya apakah kita akan “menghabiskan waktu” atau “mengisi waktu” sehingga kita menjadi benar-benar siap.

 

Advertisements

MERAK VS GAGAK

Mungkin Anda semua pernah mendengar kisah tentang Merak dan Gagak. Bagi yang belum pernah mendengarnya, kira-kira kisahnya seperti ini: Alkisah ada seekor gagak yang seluruh bulunya berwarna hitam. Pada suatu hari ketika ia sedang hinggap di sebuah pohon, matanya melihat seekor angsa yang seluruh warna bulunya putih. Dalam hatinya gagak ini berkata, betapa senangnya memiliki bulu seputih itu, tentu saja angsa itu lebih bahagia dari diriku yang hitam ini. Ketika ada kesempatan untuk terbang mendekati angsa itu, gagak itu berkata, betapa bahagianya engkau angsa dengan bulumu yang putih bersih itu.

Namun tanpa disangka angsa itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat kakatua yang memiliki warna putih dan tiga warna cerah lain di bulunya. Gagak pun terbang dan berusaha mencari kakatua yang berwarna-warni. Ketika ia menemukan kakatua itu, ia mengajukan perkataan yang sama, betapa bahagianya kakatua dengan bulu yang berwarna-warni. Kakatua itu menjawab, aku senang dengan buluku ini, tetapi tidak lagi ketika aku melihat merak yang punya warna lebih banyak dari aku, dan mampu mengembangkan bulu-bulunya dengan begitu indah.

Kakatua terbang kembali dan mencari dimana sang merak berada. Agak sulit mencarinya, tetapi kemudian ia melihat seekor merak, di sebuah kandang, dikelilingi orang-orang yang tanpa henti mengagumi warna-warni tubuhnya. Gagak berkata tentu ini dia yang paling berbahagia. Ketika kesempatan itu tiba, gagak terbang mendekat ke dekat kendang merak itu, dan mengajukan perkataan yang sama seperti ketika ia bertemu angsa dan kakatua. Namun apa jawab merak? Merak menjawab, betul aku senang dengan warna-warni buluku dan perhatian yang diberikan kepadaku, tetapi aku terkurung di kendang ini sepanjang hari. Ketika aku melihat ke sekitarku, hanya burung gagak saja yang bisa terbang bebas, tanpa perlu dimasukkan ke kandang. Aku rasa aku akan lebih bahagia dengan kebebasan seperti itu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, membandingkan adalah suatu “permainan” di pikiran yang menyenangkan, itu tidak selamanya salah, namun saya ingin menekankan satu hal: bahwa menbanding-bandingkan bisa menjerumuskan! Saya akan coba bahas 3 pernyataan ini.

Pertama, membandingkan sesuatu adalah hal yang menyenangkan, bahkan saya rasa hampir semua kita pernah memainkan permainan membandingkan, contohnya permainan membandingkan 2 gambar dan mencari perbedaan. Sepertinya membandingkan itu menjadi respon alamiah kita sebagai manusia. Kita membandingkan ketika ada pergantian presiden, atau kalau di lingkup gereja, kita membandingkan ketika ada pergantian kepala suatu bidang, atau fasilitator, atau koordinator. Atau mungkin ada juga yang membandingkan ketika ada pergantian pasangan? Tentu saja ini untuk yang belum menikah!

Kedua, membandingkan tidak selamanya salah, atau berkonotasi negatif. Saya teringat ada ayat-ayat dimana dengan membandingkan itu berarti:

  • Suatu peringatan atau teguran. Wahyu 2:4.
  • Suatu dorongan untuk memacu kita melakukan sesuatu yang lebih baik. Lukas 21:4, 2Korintus 8:1-7.
  • Suatu pembuktian superioritas (betapa jauh lebih luarbiasanya) Allah. Dikatakan IA lebih dari bapa di dunia (Matius 7:11), lebih dari malaikat (Ibrani 1:5), dan lebih dari Musa (Ibrani 3:3).

Namun ini yang menjadi penekanan saya hari ini, bahwa membandingkan bisa kemudian menjadi menjerumuskan. Seperti di poin pertama, adalah hal yang alamiah ketika manusia membandingkan. Tetapi waspadailah bahwa ada bahaya yang muncul ketika kita membandingkan, karena itu bisa mengakibatkan:

  • IRI HATI, yang kemudian melahirkan kejahatan. Kejadian 4:5-9. Ada kisah-kisah yang kurang lebih sama di Kejadian 37 dan di 1Samuel 18.
  • TIDAK MENGUCAP SYUKUR. Ini adalah sesuatu yang harus kita lawan hari demi hari, tentu saja kita tidak mau mengulangi kisah di Bilangan 11, saat orang Israel membanding-bandingkan (ayat 4-6) dan akhirnya menjadi rakus, lalu terkena murka Allah (ayat 33).
  • MENJADI RAKUS, TAMAK, yang pada akhirnya seperti poin “Iri Hati” akan menimbulkan kejahatan yang lain lagi. Rakus akan kepemilikan membuat Ahab, dengan bantuan Izebel, menyingkirkan Nabot. 1Raja-raja 21. Rakus akan kekayaan membuat Ananias dan Safira bersepakat untuk menipu. Kisah Para Rasul 5. Karena cinta akan uang tidak akan memberi kepuasan (Pengkhotbah 5:10), malahan menjadi akar segala kejahatan (1Timotius 6:10). Saya karena hal ini (kerakusan, ketamakan), kemudian perjudian menjadi masalah besar.

Saya akan kehabisan waktu untuk bicara tentang membandingkan dalam hal tahta dan cinta, yang juga akan membawa kepada “berbagai-bagai duka”. Mungkin 3 hal ini yang ingin saya ingatkan kepada Anda:

  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan HARTA, Anda dengan orang lain, ingatlah harta di Surga. Matius 6:20.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan TAHTA, Anda dengan orang lain, ingatlah seorang pemimpin adalah pelayan. Lukas 22:26.
  • Jika Anda tergoda untuk membandingkan CINTA, Anda dengan orang lain, ingatlah bahwa hendaknya kita hidup kudus dan terhormat. 1Tesalonika 4:3-5.