BUKTIKAN KEBEBASANMU

Sore hari ini adalah saat pembuktian bahwa ini adalah House of Freedom. Sepanjang bulan ini Youth Pastor Anda sudah menetapkan tema tentang status kebebasanmu.

Bahwa setiap orang seharusnya bisa berkata: “I’m Free”.

But let’s flash-back to each theme we have discussed.

Minggu pertama kita bicara tentang “My Superhero” kita sama-sama sepakat kalau itu adalah YESUS. Lebih dari semua Superhero yang kita kenal sekarang: Superman, Batman, Wonder Woman, Black Widow dan lainnya. Superhero kita “nyata dan tidak fiktif”! Yesus ada dan menjadi bagian dari Sejarah manusia. Tidak ada Superhero yang menjanjikan kekekalan dan tempat indah bersama dengan DIA. Yohanes 14:3. Bahkan Yesus memberi dan menjadi Penolong yang menyertai selamanya. Ayat 16.

Kemudian di minggu kedua kita bicara tentang “Hidup yang Berkemenangan (Victorious Living)”. Karena IA adalah pemenang, maka kita adalah para pemenang, bahkan lebih dari mereka yang menang. Allah yang berperang ganti kita. Kemenangan itu menjadi milik kita karena Allah di pihak kita, karena Yesus ada bersama kita. 1Korintus 15:57.

The latest, di minggu ketiga, kita kedatangan tamu yang berbicara tentang mengikut Yesus. Sama seperti kemerdakaan adalah anugerah, Yesus menjadi Hadiah terbesar bagi kita. Menariknya IA ingin kita menjadi pengikutNYA, muridNYA. Murid Itu ada tinggal tetap dalam FirmanNYA, KebenaranNYA dan kebenaran itu memerdekakan. Yohanes 8:31-32. So, we have Superhero, we have Victorious Living, and we absolutely have Freedom.

HOW TO PROVE THAT YOU’RE FREE?

No bondage. Anda tidak lagi terikat, dan karenanya Anda bebas bergerak. Tetapi Paulus mengingatkan bahwa kebebasan yang kita miliki, jangan sampai menjadi “batu sandungan” bagi orang lain. 1Korintus 8:9. Berarti kebebasan ini bukan sembarangan, tetapi kebebasan yang membuat kita bisa meneladani superhero kita, Tuhan Yesus. Demikian juga kebebasan untuk memberi teladan kepada orang-orang di sekitar kita. 1Timotius 4:12.

Ada 5 hal yang menjadi indikator seorang yang jadi teladan, seseorang yang bisa berkata: “I’m Free”.

  1. Perkataan.
  2. Tingkah laku.
  3. Kasih.
  4. Kesetiaan.
  5. Kesucian.

Sore hari ini saya akan fokus pada 2 hal teratas di daftar tersebut. Pertama. Bebas dari perkataan yang merendahkan, tidak berguna. Kita berpikir bahwa kata-kata kita hanyalah angin lalu, tapi lihatlah, perkataan yang sembarangan pada suatu saat akan mengikat kita. Matius 12:36.

Kedua. Bebas dari kelakuan yang jahat dan malas. Matius 25:26. Apa tingkah laku orang yang jahat dan malas? Ayat 24-25.

  • Tidak bekerja.
  • Menuduh dan merasa berhak menghakimi Tuhan.
  • Takut dan melakukan apa yang dirasa benar.
  • Hidup tidak berdampak.
Advertisements

Infinitely in the LIGHT

Saya percaya sepanjang hidup kita, kita mencari sesuatu yang terang, yang jelas. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya lebih suka dengan terang. Bahkan saat kecil selama beberapa lama (sampai SMP kelihatannya) saya memilih untuk membiarkan lampu kamar tidur saya menyala. Mungkin hanya sedikit orang yang lebih memilih dalam gelap di sebagian besar hidupnya.

Menariknya kalau kita melihat ke awal mula penciptaan bumi, Allah yang menjadikan terang. DIA lah sumber terang, didalamnya tidak ada bayang-bayang perubahan. Pada 2000 tahun yang lalu DIA datang untuk membawa terang kembali ke bumi. Lukas 1:79 (TB) “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

Coba kita perhatikan alasan kedatangan Yesus, tokoh sentral iman kita, dalam ayat ini dijelaskan secara jelas. Alasan yang pertama, “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan”. Siapa “mereka” yang dimaksud? Kita, manusia. Sadarkah kita kalau sebenarnya manusia ini hidup dalam gelap. Karena di dalam gelap kita tidak bisa melihat. Dan lihatlah banyak sekali di sekitar kita orang-orang yang tidak bisa melihat.

  • Mereka tidak bisa melihat mana uang milik mereka dan uang yang bukan milik mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana pasangan yang menjadi hak mereka dan pasangan yang bukan hak mereka.
  • Mereka tidak bisa melihat mana yang harus mereka kuasai dan mana yang mereka harus lepaskan.

Hidup dalam kegelapan adalah hidup yang tanpa harapan. Anda tidak mengerti siapa yang ada di depan-belakang-samping Anda. Anda berjalan tanpa arah dan tujuan. Satu-satunya yang Anda pikirkan adalah bagaimana bertahan hidup selama mungkin. Jika sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan, maka mati menjadi jalan satu-satunya. Bukankah ini kehidupan yang gelap? Anda tidak perlu menjadi putus asa, karena harapan itu masih ada.

Coba bayangkan Anda sedang ada dalam hutan yang sangat lebat dan hari sudah malam, Anda tidak punya alat bantu penerang. Apa yang Anda harapkan? Terang. Atau bayangkan jika Anda terkurung dalam suatu ruangan gelap yang tak berpintu dan berjendela, yang saudara tahu hanya bentangan dinding yang begitu panjang dan tak berujung. Apa yang Anda harapkan? Terang.

Coba kita baca kembali Yesaya 60:2 “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa.” Kita lihat disekeliling kita sepertinya gelap.

  • Tidak ada harapan Indonesia akan bebas dari korupsi.
  • Tidak ada harapan bahwa Indonesia akan lolos dari krisis ekonomi.
  • Tidak ada harapan bahwa hidup Anda bisa lebih baik dari ini.
  • Tidak ada harapan bahwa keluarga saya, istri saya, suami saya, anak saya, kakak saya, adik saya, bisa berubah.

Lihatlah apa yang selanjutnya disebutkan dalam ayat ini: “tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Ada harapan di tengah-tengah kegelapan. Lebih dari 2000 tahun yang lalu seseorang menggenapi apa yang tertulis dengan berkata demikian: Yohanes 8:12 (TB) “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

What I’m trying to say is this, if HE is the light, then we also are the light. Kalau kehadiran Yesus menjadi terang yang membawa harapan, demikian juga kita. Sering kita berpikir tentang “kamulah terang dunia” tetapi apa sebenarnya menjadi terang itu? Membawa pengaruh! Matius 5:16 “Hendaklah terangmu bercahaya di depan semua orang.” Ayat ini adalah perkataan Yesus yang IA ucapkan ketika berbicara tentang PENGARUH. Bukankah hidup manusia secara konstan adalah proses MEMENGARUHI & DIPENGARUHI?

Bayangkan sejak dalam kandung, bahkan lebih lagi, sejak masih dalam bentuk SEL. Anda sudah membawa pengaruh. Kalau kita bisa menjadi pengaruh berarti kita harus hati-hati terhadap pengaruh yang kita bisa bawa. Ini ada pesan Firman Tuhan bagi semua orang muda, bahkan buat semua orang percaya. Apa yang seharusnya dilakukan? 1Timotius 4:12. Jadi teladan = Jadi terang.

Kembali ke pokok bahasan mengenai pengaruh. Jika hidup manusia sejak awal sudah ditentukan untuk jadi pengaruh. Bukankah hal itu (maksudnya menjadi pengaruh) akan lebih lagi dituntut dari kita saat kita semakin bertumbuh dewasa, baik secara jasmani, maupun rohani. Coba baca Amsal 4:18, kita diminta “bertambah terang.”

So, we are expected to be shining bright and brighter, and stay there infinitely. Infinitely ini bisa berarti selamanya, tetapi juga bisa berarti dalam derajat yang semakin besar, semakin luar biasa. Berarti tidak ada kata berhenti, atau berpuas diri. You must be the light at all time. How? By showing love. 1Yohanes 2:10; 1Yohanes 3:10; 1Yohanes 4:21. Pengaruh yang harus kita bawa kembali dasarnya bukan harta-tahta-dan cinta, tetapi kasih!

DEVOTEDLY KNOWN

Anda adalah orang yang dengan jelas diberi perintah untuk “mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama” dan saya yakin Ps.Robert Runtukahu sudah menjelaskan di 6 sesi sebelumnya. Sesi pagi ini kita akan mulai dengan kalimat pendek: “Orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” (By the way kalimat ini ada di 1Korintus 8:3)

It’s all about love dan saya percaya itu selalu menjadi interest terbesar kita. Apapun yang jadi alasan:  kerja, keluarga, uang, orang, semua kita hidup karena kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan / mengekspresikan kasih / cinta. Kita bisa sepakat bahwa kasih / cinta yang sebenarnya, yang sejati adalah Allah, adalah Yesus. Karena Allah adalah kasih. 1Yohanes 4:8 Betapa dunia dan media yang dunia pakai sudah mengajari hal-hal yang salah tentang cinta / kasih. Ini berdampak pada pemahaman yang salah mengenai “mengasihi Allah.”

 

Ada banyak kesalahan, atau kalau boleh saya katakan kesesatan yang diajarkan media dunia tentang cinta / kasih. Tetapi setidaknya saya mau angkat salah satu misguided, misinterpretation of love. Ini dia: “Cinta itu harus ada alasannya”. Apakah karena kekayaan, kekuasaan, ketampanan, kecantikan, keunikan?

 

“Kalau dia nggak bawa ini atau itu, kalau dia nggak punya ini atau itu, kalau dia nggak setampan atau secantik ini dan itu.”

 

Guys, love is not about what you will get, but what you will give. Saya mengatakan ini konsep cinta universal ya. Bukan hanya romance aja.

 

Ketika seseorang anak lahir di sebuah keluarga, orang tua tidak berpikir apa yang akan saya dapatkan dari anak ini, mereka berpikir apa yang akan saya beri untuk anak ini. That’s love. Demikian juga seorang anak kepada orangtua, bukan apa yang orangtuaku dapat berikan kepadaku, tapi apa yang bisa aku berika kepada orangtuaku. Kemudian ketika anak itu tumbuh dewasa dan mulai bergaul dengan anak-anak lain sebaya dengan dia dan menemukan sahabat, dia tidak berpikir apa yang akan aku dapatkan dari bersahabat dengan dia, tetapi bagaimana bisa saling memberi, menjadi tempat curhat dan saling mengingatkan. Kalau sahabatmu hanya mau meminta, dia tidak layak jadi sahabatmu. Ingat pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bahkan kadang sahabat bisa lebih dekat dari saudara kandung. That’s love.

 

Ini yang pasti Anda suka, ketika anak yang tadi kita ceritakan bertambah dewasa, matang, dan dalam usia produktif. Dan dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Kalau dia belum tercemar, masih murni pemahaman cintanya, mak dia tidak berpikir untuk mendapatkan motor, mobil, muka, badan yang terbaik. Ingat selalu ada langit diatas langit, kalau Anda berpasangan berdasarkan apa yang Anda dapat, maka hubungan Anda adalah hubungan yang tidak sehat. Ketika si dia berhubungan dengan pasangannya, dia melihat apa yang BISA AKU BERI kepada pasanganku. That’s love. Siapa yang disini pengertian cintanya masih murni?

 

Masih belom yakin kalau cinta tidak meminta alasan? Coba baca ini Ulangan 10:14-15, 7:6-8. Allah mengasihi Israel bukan karena hal khusus yang mereka miliki. Malahan sebaliknya mereka menjadi spesial karena Tuhan memilih mereka. So, God introduce us with this kind language of love. GIVE not GET. Get is only a bonus! Amen.

 

Ada satu kisah dalam Hosea 1:1-3:5 mengenai bahasa cinta yang tanpa alasan.

 

Masalah yang sekarang dihadapi adalah banyak terjadi mis-komunikasi, mis-interpretasi, dan mis-understanding dalam mengungkapkan bahasa cinta. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh kasus saja:

  1. Kejadian 16:1-16. Sarai meletakkan ego-nya diatas cintanya, sehingga terjadi komunikasi yang salah. Dua hal yang kita bisa pelajari dari kisah ini. Pertama, sabar, cinta jangan buru-buru. Kedua, jangan pernah berusaha membuktikan apapun hanya untuk memuaskan egomu. Aku bisa, aku lebih, aku punya semua solusi. Itu adalah ungkapan yang berbahaya dalam semua jenis hubungan.
  2. Kisah Para Rasul 5:1-11. Engkau tidak mengasihi untuk ketidakbenaran. Engkau mengasihi dengan mengingatkan kebenaran.

 

Disinillah kemudian saya memahami konsep DEVOTEDLY KNOWN. We are known, but not just known, we are devotedly known. How you love God is based on HIS love first. When you understand how much He loves you, only then you can LOVE HIM BACK. He is devoted person. He is faithful. How come we are not in love with Him.

Satu Hati Dua Cinta

Ini bukan berbicara tentang “mendua hati” karena jelas judulnya “satu hati”. Terlebih lagi mendua hati adalah prinsip yang ditentang Alkitab. Mungkin saja kemudian muncul pertanyaan:

“Bukannya di Alkitab banyak sekali kisah mengenai tokoh yang beristri lebih dari satu? Contohnya Abraham, Gideon, Daud, semua istrinya lebih dari satu. Mereka mendua hati?”

Kalau itu yang menjadi argumen Anda, maka itu adalah argumen yang lemah, karena di Alkitab juga menuliskan mengenai Adam, Ishak, Hosea, Petrus yang hanya beristrikan satu orang. Bahkan Yesus dan Paulus tercatat tidak menikah, karena memang menikah bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk mencapai suatu tujuan yang lebih besar.

Mengapa semua dicatat? Karena Alkitab menceritakan dengan jujur tentang kehidupan nyata, tetapi ingat saja prinsip dasarnya dalam Matius 19:8-12.

Lalu mengapa Allah tetap memakai mereka? Dalam Keluaran 34:5, di ayat ini bicara tentang pribadi Allah yang diperkenalkan kepada Musa, bahwa IA panjang sabar, berlimpah Kasih SetiaNYA. Tetapi Paulus juga mengingatkan dalam Roma 2:4 jangan menganggap sepi kemurahan Tuhan, karena itu sebenarnya ditujukan untuk melihat pertobatan kita.

Malam ini kalau ada sedikit keinginan itu, atau sudah setengah jalan, atau bahkan Anda sudah menghidupi keinginan itu, yaitu mendua hati, segera bertobat!

Jadi apa sebenarnya “Satu Hati Dua Cinta”? Maksudnya adalah keberadaan dua obyek atau sasaran Utama dari Kasih dalam hidup kita. Apakah ini memungkinkan? Mana bisa hati bisa dibagi-bagi?

Matius 22:37-40 Pada ayat-ayat ini Yesus berkata bahwa kita punya kapasitas untuk menghasilkan dua cinta atau dua kasih.

  1. Kasihilah Tuhan Allah. Ada ribuan alasan untuk mengasihiNYA. Namun apa yang kita praktekkan apakah sama dengan yang kita percaya?
  2. Kasihilah Sesama. Kita bisa berargumen bahwa “sesama” itu artinya sangat luas, karena sekarang ada kira-kira ada 7 milyar manusia di muka bumi. Tetapi tunggu dulu, kalau kita “rewind” ribuan tahun kebelakang: Siapakah sesama bagi Adam dan Hawa? Pasangannya! Baru kemudian anak-anak mereka lahir. Itulah sesama yang mereka hadapi.

Kenapa kita mengasihi mereka?

  • Apakah karena gagah? Sumber uang? Bukan, tetapi karena Efesus 5:23.
  • Apakah karena cantik? Sudah terlanjur? Bukan, tetapi karena 1Petrus 3:7.
  • Apakah karena mereka “sumber rejeki”? Bukan semata-mata itu. Memang anak adalah “gift” (menurut Alkitab terjemahan NLT), tetapi sebenarnya potensi mereka akan maksimal di tangan yang benar. Mazmur 127:3-5.

It’s all about EAT, PRAY, LOVE. We love that is so we provide food to eat. We love that is so we put them in our heart and pray

GodblesS

JEFF