IT IS DONE.

​“For every beginning has an end.” 

Untuk segala sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf alphabetical yang biasa kita kenal).

Misalnya saja dalam rangkaian minggu penciptaan yang tertulis di Kejadian 1. Ada awal dan ada akhir dari rangkaian itu, yang akhir kita sebut sebagai hari Sabat. Pada masa Perjanjian Lama ini adalah hari Sabtu, dan sekarang di masa Perjanjian Baru itu adalah hari Minggu. 

Ketika bicara tentang awal penciptaan banyak “orang-orang pintar semacam ilmuwan” yang tidak percaya dan berusaha membuktikan sebaliknya. Ada yang disebut “partikel tuhan” atau secara ilmiah mereka menyebutnya “Higgs boson” dan secara singkat itu adalah partikel yang menyusun segala sesuatu benda di dunia. Tetapi pastilah mereka akan gagal karena mereka sudah menutup mata mereka bahwa Allah adalah yang pertama dan pencipta segalanya. Segala sesuatu juga akan berakhir olehNYA.

Kita mengatakan “It is done” ketika kita sudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini sama dengan “it is finished”. Done atau finished itu sinonim dengan kata-kata dalam bahasa Inggris: complete, perfect, good. Semua definisi yang saya sebutkan di kalimat terakhir itu menariknya tergambar dalam 3 ayat-ayat yang berurutan di Kejadian 1:31 dan Kejadian 2:1-2. 

  • Good. Kejadian 1:31.
  • Finished. Kejadian 2:1.

Complete. Kejadian 2:2. 

Apa makna dari yang tertulis di lembar pertama Alkitab kita ini?

  1. Allah menciptakan segala sesuatu dalam bentuk yang final, sehingga kita bisa berkata bahwa teori evolusi itu tidak Alkitabiah.
  2. Kita, manusia, ciptaan Allah, adalah ciptaan yang sempurna (Kejadian 1:27) dan kita diciptakan untuk suatu tujuan (ayat 28).
  3. Karena itulah bahkan ketika manusia jatuh, Allah langsung merencanakan penebusan. Kejadian 3:15.

Manusia berharga di mata Tuhan, bahkan bagi mereka yang dipilih dan dipanggil dalam rencana Allah (seperti bangsa Israel dan juga bagi kita Israel Rohani) Allah mengatakan bahwa kita: “berharga di mataNYA, mulia, dikasihi, dan mendapat jaminan perlindungan. Yesaya 43:4. You are perfect in His sight. Stop comparing yourself with others. You will become imperfect and feel invaluable by doing that. 

Kembali pada peringatan Paskah kita, mungkin ada pertanyaan mendasar, mengapa Yesus harus berkorban? Bapak Gembala Jemaat GPdI Mahanaim menyampaikan hal ini di Paskah Mahanaim 2017, dengan analogi cerita perumpamaan Yesus di Lukas 10:25-37. Sejak kejatuhan manusia, manusia ditentukan untuk mati. Kita lahir untuk mati! Iblis mendapat kesempatan untuk merampok kita habis-habisan. Keunggulan, keistimewaan dan kemuliaan manusia mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Jika tidak ada juruselamat, maka kita pasti mati. Mati disini baik secara:

  • Jasmani. Maksudnya dengan makin singkatnya waktu hidup, dari Kejadian 6:3 (sampai dengan 120 tahun) hingga Mazmur 90:10 (hanya 70 sampai 80 tahun saja). 
  • Rohani. Maksudnya ketika manusia menjadi fasik (jahat) maka ujung jalannya adalah kebinasaan. Mazmur 1:6.

Untuk menjadi juruselamat dunia, Yesus harus mati! Mengapa? Untuk menggantikan kita yang harusnya mati. DIA mati supaya kita hidup. Gambarannya adalah seperti korban di Perjanjian Lama (Imamat 16:34) perlu dikorbankan setiap tahun untuk pendamaian. Namun itu semua digenapi dengan korbanNYA yang menjadi penanda suatu Perjanjian Baru. Korban yang sempurna, sekali untuk selamanya. Ibrani 9:28. 

Jadi ketika Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30) berarti misinya sudah selesai, dosa tidak lagi “menjajah” hati manusia. Penghukuman yaitu maut yang diakibatkan dosa tidak lagi jadi bagian kita. Roma 8:1-2. 

Sekarang, bagaimana dengan dirimu?

  • Apakah dirimu masih dipenuhi rasa bersalah?
  • Apakah kamu masih belum bisa lepas dari perbuatan dosa?
  • Apakah kamu masih berhubungan dengan roh-roh lain yang mengikatmu?
  • Apakah kamu masih sementara mencari kebenaran?

Apa yang bisa Yesus tawarkan kepadamu hari ini adalah, apakah kamu mau percaya? Ketika Yesus berkata “sudah selesai” berarti iblis sudah tidak bisa menuntut kita lagi. Hukuman itu dilalukan (Passover) dari kita ketika kita di dalam Yesus. Bagaimana bisa kita hidup di dalam Yesus? Apakah itu berarti tinggal di dalam gereja? Bukan, ketika kita hidup di dalam Yesus artinya:

  1. Percaya. Yohanes 3:18. DIA sudah memberikan fasilitas untuk kita bisa menjadi utuh (complete) dan baik (good), setelah kejatuhan manusia dalam dosa.
  2. Hidup benar. Yohanes 3:21. Berarti hidup menghindari dosa. Ingat Yesus menjadi dosa bukan karena DIA berdosa. Demikian kita dibenarkan bukan karena kita sudah benar, tetapi karena kebenaran Allah yang “diberikan” pada kita. Masakan kita mau mempermainkan pemberian itu dengan hidup tidak bertanggungjawab. Masakan kita mau disebut “orang yang tidak tahu untung, sudah ditolong, tetapi malah menyalibkan Yesus lagi”.
  3. Datang pada terang yaitu DIA. Yohanes 8:12. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak menyembunyikan apapun. Semuanya terbuka, dan dia senang dalam terang. Tetapi sebaliknya mereka yang hidup di gelap, suka menyembunyikan hidupnya, dan menjauh dari terang. 
Advertisements

2 thoughts on “IT IS DONE.

  1. Bagus baget kak, buat penjelasannya. Tapi kak, ada pertanyaan nih.. Kalau anak Tuhan, katanya sudah tinggal di dalam Yesus. Tapi masih tetap di penuhi rasa bersalah terus.? Itu gimana kak.. Yang salah dari pribadinya sendiri? Atau emang anak Tuhan itu yang kurang percaya..? Pada tanggal 17 Apr 2017 5.41 PM, “Jeff Minandar” menulis:
    > jeffminandar posted: “​“For every beginning has an end.” Untuk segala > sesuatu yang dimulai selalu ada akhirnya. Jadi ada awal dan akhir. Ada > Alfa, ada Omega (ini untuk huruf Yunani), ada “A”, ada “Z” (ini untuk huruf > alphabetical yang biasa kita kenal). Misalnya saja da” >

    1. Saya rasa semua orang pasti punya “rasa bersalah” di suatu titik dalam hidupnya. Jadi ini kemudian tinggal kita percaya yang mana, bahwa Kasih Karunia Allah lebih besar dari rasa bersalah kita atau sebaliknya. Ini kemudian tidak membuat kita terus menerus berbuat dosa dan berkata “kasih karunia Allah lebih besar”. Dalam Firman Tuhan jelas dikatakan “kalau seseorang sudah mati dari dosa, bagaimana mungkin dia hidup di dalam dosa itu?” Sehingga pertobatan itu harus dibarengi perubahan hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s